Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah dan Dinding Penuh Jendela
Saya membayar 35.000 rupiah di gerbang lalu berjalan menuju sesuatu yang dari kejauhan tampak tak lebih dari sebongkah batu besar yang bersandar di antara pepohonan. Begitu mendekat, kesan itu berubah sepenuhnya. Permukaannya dipenuhi pintu-pintu kecil, puluhan jumlahnya, sebagian dicat merah atau merah muda, sebagian lagi dibiarkan sebagai batu polos, bertumpuk di permukaan batu tanpa pola yang jelas. Sebuah papan nama di pintu masuk menyebut tempat ini Liang Lo'ko Mata, di Lembang Tonga Riu. Warga setempat cukup menyebutnya Lo'ko Mata, dan saya paham alasannya begitu saya memandang keseluruhan bentuknya sekaligus: setiap lubang pahatan itu tampak seperti sebuah mata yang tertanam di batu, dan nama itu kurang lebih berarti demikian, batu bermata, atau batu yang bermata.

Satu Keluarga Telah Dimakamkan di Sini Sejak Abad ke-14
Ini bukan pemakaman umum yang biasa saya bayangkan. Ini adalah satu bongkahan batu tunggal yang telah digunakan satu keluarga sebagai tempat pemakaman untuk waktu yang sangat lama, konon sejak sekitar abad ke-14. Saya bertanya kepada pemandu saya soal usia jenazah-jenazah di dalamnya, dan ia mengatakan bahwa sisa-sisa tertua yang kini tersimpan di sini berumur sekitar 500 tahun. Entah angka pastinya 500 atau lebih mendekati 600, intinya tetap sama: ini adalah satu bongkahan batu yang diam-diam menjalankan fungsi yang sama bagi sebuah keluarga selama puluhan generasi, jauh sebelum siapa pun yang berkunjung hari ini lahir ke dunia.
Toraja tidak menguburkan jenazahnya ke dalam tanah seperti yang selama ini saya kira lazim. Jenazah justru dimasukkan ke dalam batu, dipahat langsung ke tebing, atau di sini, ke dalam satu bongkahan batu raksasa yang berdiri sendiri, dengan setiap keluarga atau sub-keluarga mengklaim liang kecilnya sendiri di permukaan batu itu.
Mengelilingi Sebutir Telur Raksasa Butuh Sekitar Tiga Menit
Dari dekat, bongkahan batu ini berbentuk seperti telur, bulat dan sedikit tidak beraturan, tingginya kira-kira 10 meter. Mengelilingi bagian dasarnya satu putaran penuh memakan waktu sekitar tiga menit, yang memberi gambaran seberapa luas permukaan yang sebenarnya tersedia untuk liang-liang itu. Dan liang-liang itu sendiri sangat bervariasi tergantung usianya. Sebagian liang tertua masih memiliki bagian depan dari kayu, bukan batu, dan kayu itu telah lapuk sedemikian rupa sehingga sekali lihat saja sudah jelas pintunya tidak akan terbuka lagi, tidak tanpa merusak apa yang ada di dalamnya. Lubang-lubang lain, yang lebih baru, masih memiliki pintu yang tampaknya bisa dibuka tanpa kesulitan berarti.

Pintu yang Terpahat Terlalu Rapi untuk Dipercaya
Di tengah perjalanan mengelilingi batu itu, pemandu saya menunjukkan sebuah liang yang belum digunakan, liang yang dibangun untuk pemakaman di masa depan, bukan untuk jenazah yang sudah ada. Ia mengizinkan saya masuk ke dalamnya. Ukurannya kira-kira 2 kali 3 meter, meski ia menyebutkan bahwa ukuran dan bentuknya sangat bervariasi dari satu liang ke liang lain, dengan sebagian yang jauh lebih besar di bagian lain batu itu. Namun yang sebenarnya membuat saya terpaku bukan ukurannya. Melainkan pintu masuknya sendiri: dipahat dari batu utuh menjadi persegi panjang yang benar-benar rapi, bertepi tajam dan rata, presisi semacam itu yang saya kira membutuhkan mesin. Ternyata tidak. Semuanya keluar dari batu itu dengan tangan.

Tau-Tau, Kepala Kerbau, dan Apa Pun yang Dipilih Keluarga
Setiap liang yang telah selesai membawa jejak tersendiri dari orang-orang yang membangunnya. Sebagian memiliki tau-tau, patung ukiran menyerupai sosok yang telah meninggal, ditempatkan tepat di luar atau di dalam lubang. Yang lain sama sekali tidak menghadirkan sosok manusia dan malah memasang semacam kepala kerbau, dipahat langsung di permukaan batu di atas pintu. Tidak ada satu pun pola baku yang diikuti di sini; tampaknya setiap keluarga memutuskan sendiri apa yang pantas ada pada bagian kecil batu milik mereka.


Kerbau di sini pun bukan sekadar hiasan. Dalam adat pemakaman Toraja, mengorbankan seekor kerbau dianggap penting untuk mengantar seseorang dengan layak menuju kehidupan berikutnya, dan semakin banyak kerbau yang mampu dikorbankan sebuah keluarga, semakin tinggi pula status sosial yang tercermin dari pemakaman tersebut. Logika yang sama rupanya berlaku pula pada makam itu sendiri: membuka pintu sebuah liang dan menutupnya kembali masing-masing membawa upacara kecilnya sendiri, dan Lo'ko Mata masih menjadi situs aktif untuk Ma'nene, ritual di mana keluarga-keluarga secara berkala mengeluarkan kembali jenazah leluhur mereka, mengenakan pakaian baru pada mereka, lalu mengembalikannya ke dalam batu. Ini bukan peninggalan yang sekadar dilestarikan untuk pengunjung. Orang-orang masih kembali ke sini.
Menyaksikan Sebuah Liang Dibuat
Penasaran bagaimana sebenarnya proses pemahatan ini berlangsung, saya menempuh perjalanan motor sekitar 15 hingga 20 menit ke sebuah tempat di mana sebuah liang baru sedang dipahat, jauh dari bongkahan batu utama. Lokasinya rapi dan tertata dengan caranya sendiri meski merupakan tempat kerja yang aktif, debu batu dan peralatan berserakan di sekitar sebuah lubang yang belum selesai. Saat itu, pintunya baru terpahat mendekati bentuk persegi. Menurut orang yang sedang bekerja di sana, bentuk itu nantinya akan diperlebar menjadi persegi panjang memanjang seperti yang saya lihat di bongkahan batu tadi, dengan batu dikikis merata pada satu sisi hingga bentuknya sesuai.


Ia memberitahu saya bahwa satu liang membutuhkan waktu minimal sembilan hingga sepuluh bulan untuk diselesaikan. Angka itu menjadi lebih masuk akal ketika saya teringat hal lain dari adat pemakaman Toraja: seseorang yang telah meninggal tidak langsung diperlakukan sebagai orang mati. Selama bertahun-tahun setelahnya, jenazah tetap disimpan di rumah, dan keluarga menyebutnya hanya sedang sakit, atau sedang tidur, sementara semua orang mengumpulkan sumber daya dan sanak saudara yang dibutuhkan untuk menggelar upacara rambu solo yang layak. Masa penantian itu bukan waktu yang terbuang sia-sia bagi keluarga. Itu justru persis selama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pula ruang yang kelak akan ditempati orang tersebut.
Beban yang Tak Terduga
Dalam perjalanan keluar dari lokasi kerja itu, ada balok-balok batu yang telah dipotong tergeletak di tanah dekat pintu masuk. Saya tidak menanyakan berat pastinya, tetapi mencoba mengangkat sekadar satu sudutnya saja sudah cukup untuk memberi tahu saya bahwa itu tidak mungkin dilakukan tanpa tenaga yang sungguh-sungguh. Liang seperti ini ada di seluruh penjuru Toraja, tersembunyi di lereng-lereng bukit yang mestinya akan saya lewati begitu saja tanpa menyadarinya. Menyaksikan kerja keras nyata di balik satu saja dari liang-liang itu, dari pintu-pintu yang telah selesai di bongkahan batu tadi hingga persegi yang baru separuh terpahat di lokasi kerja, adalah bagian dari hari itu yang terus saya kenang.