Sesuatu yang Hampir Saya Lewatkan Begitu Saja
Saya menemukan tempat ini secara tidak sengaja, dalam perjalanan menuju tempat lain sama sekali, sambil berkeliling Benteng Keraton Buton setelah sebelumnya sudah melihat titik-titik utama di dalam benteng. Ada sebuah struktur kecil dengan lubang di lantainya, dipagari, dan sejujurnya saya sama sekali tidak bisa menebak apa yang sedang saya lihat. Dugaan terbaik saya waktu itu, ada sesuatu yang jatuh dan meninggalkan celah. Butuh membayar seorang pemandu, sekitar tiga puluh sampai lima puluh ribu rupiah, agar gerbangnya dibuka dan saya benar-benar tahu apa sebenarnya tempat ini.
Batu Payung
Yang saya temukan secara kebetulan itu bernama Batu Popaua, yang jika diterjemahkan kira-kira berarti Batu Payung. Batu ini berada di dalam Benteng Keraton, di Melai, Kecamatan Murhum, tepat di depan Masjid Agung Keraton, dan persis di samping Baruga, balai pertemuan tradisional benteng ini. Lokasinya saja sudah cukup memberi tahu bahwa ini bukan sekadar keunikan kecil; batu ini diletakkan tepat di pusat kelompok bangunan paling sakral di seluruh benteng.
Asal Nama Ini
Popaua kira-kira berarti "dipayungi," dan nama itu merujuk pada satu gerakan khusus yang dilakukan saat penobatan seorang sultan: sebuah payung kerajaan, disebut payung, diangkat dan diputar tepat di atas siapa pun yang tengah berdiri di atas batu itu pada saat itu. Batu ini juga punya nama lain tergantung siapa yang menceritakannya. Sebagian menyebutnya Batu Ponu, karena kemiripannya dengan tempurung kura-kura. Yang lain menyebutnya sebagai simbol keperempuanan, menelusuri kaitan itu hingga ke penguasa pertama Buton, seorang ratu.
Jejak Kaki yang Terukir di Batu
Batu ini sendiri ukurannya sederhana, dilaporkan sekitar 50 kali 35 sentimeter tergantung sumbernya, tapi yang benar-benar membuat langkah saya terhenti adalah lubang di tengahnya: sebuah cekungan sepanjang kira-kira 80 sentimeter, berbentuk telapak kaki manusia yang tak salah lagi bentuknya. Berdiri di atasnya, setelah pemandu menunjukkannya dengan jelas, saya bisa melihat garis-garis yang menyerupai jari-jari kaki pada bentuknya. Tadinya saya lewat begitu saja mengira itu hanya kerusakan. Ternyata itu justru detail paling disengaja di seluruh batu ini.

Jejak Kaki Wa Kaa Kaa
Menurut tradisi, di sinilah tepatnya penguasa pertama Buton, Ratu Wa Kaa Kaa, pertama kali menjejakkan kaki di tanah ini. Sejak masa pemerintahannya, setiap penguasa hingga sultan ke-38 mengucapkan sumpah penobatan mereka sambil berdiri di batu yang sama ini. Itu bukan tradisi yang dijalankan seadanya; itu adalah garis yang tak pernah putus, terentang dari berdirinya kerajaan hingga hampir ke masa akhirnya, semuanya berlabuh pada satu titik fisik yang sama.
Penobatan yang Berlangsung Berhari-hari, Bukan Semenit Dua Menit
Para penjaga budaya setempat dan dosen universitas yang meneliti sejarah Buton menggambarkan proses penobatan yang berlangsung selama beberapa hari, bukan sekadar satu upacara tunggal. Persiapan dimulai Kamis malam, meski acara resminya baru berlangsung hari Jumat. Sang calon dimandikan secara ritual dengan air yang diambil dari empat mata air berbeda di seluruh wilayah kerajaan Buton, lalu ditaburi campuran 120 jenis bedak beraroma, masing-masing melambangkan satu emosi manusia yang berbeda, suka, duka, cemas, susah, agar calon penguasa kelak membawa serta pemahaman atas segala yang mungkin dirasakan rakyatnya sendiri. Hari Jumat membawa busana putih resmi, selempang emas, dan arak-arakan menuju masjid keraton untuk salat, diikuti dengan penobatan yang dilakukan oleh seseorang yang dianggap keturunan Nabi Muhammad. Barulah setelah itu datang sumpah di Batu Popaua sendiri: menghadap ke barat, satu kaki diletakkan ke dalam cekungan batu, payung kerajaan berputar di atas kepala sementara penguasa baru menerima amanahnya. Dari situ, sultan yang baru saja disumpah berjalan ke sebelah menuju Baruga untuk menerima utusan dan ikrar kesetiaan dari seluruh penjuru wilayah.

Isi Sumpah yang Sesungguhnya
Isi sumpah ini bukan sekadar basa-basi seremonial. Sumpah itu mengikat penguasa baru secara khusus untuk menjauhi korupsi dan nepotisme, dan konsekuensi bila melanggarnya digambarkan dengan kata-kata yang keras: tidak akan ada ketenangan baik di dunia maupun di akhirat, terus menjadi beban hingga tujuh generasi keturunan. Itu benar-benar kalimat berat untuk diucapkan lantang, dengan satu kaki yang sudah berada di dalam batu.
Dipilih, Bukan Sekadar Diwariskan
Ini berkaitan langsung dengan sesuatu yang sudah saya perhatikan di Istana Malige, tempat motif nanas berukir melambangkan bahwa takhta tidak dimaksudkan untuk diperlakukan sebagai pusaka keluarga yang turun otomatis mengikuti garis keturunan. Sejak sultan keempat pada 1597, para penguasa Buton berhenti dipilih semata-mata berdasarkan hak kelahiran dan mulai dipilih melalui Siolimbona, badan perwakilan rakyat yang berfungsi mirip parlemen dalam bentuk paling awal. Sebelum titik itu, anak-anak seorang penguasa otomatis menjadi calon; sesudahnya, pemilihan melalui perwakilan rakyat berlaku terus hingga sultan terakhir kerajaan ini. Batu Popaua bukan sekadar tempat sumpah diucapkan. Ini adalah panggung fisik tempat seluruh sistem suksesi yang bertanggung jawab dan berbasis perwakilan itu berlangsung, generasi demi generasi.
Dilindungi dan Dipandu Hingga Kini
Batu ini kini dipagari untuk menjauhkan hewan liar maupun langkah kaki yang sembarangan, dengan atap semi-permanen bergaya tradisional Buton yang melindunginya dari atas. Lantai berkeramik dan papan penanda sudah ditambahkan di sekelilingnya, dan kawasan sekitarnya telah dilengkapi infrastruktur wisata pada umumnya, area parkir, kios suvenir, satu dua kedai kopi. Untuk berkunjung, umumnya dibutuhkan pemandu setempat; biaya kecil hanya mencakup pengambilan foto, sementara penjelasan yang sebenarnya, jenis penjelasan yang benar-benar membuat apa yang Anda lihat menjadi bermakna, datang bersama paket berpemandu.
Empat Ratus Tahun, Satu Batu Kecil
Sepanjang hari itu saya sudah dibuat terkesan oleh skala, mula-mula oleh besarnya Benteng Keraton, lalu oleh padatnya sejarah yang tersimpan di Istana Malige. Batu Popaua bekerja dengan cara yang berlawanan. Ukurannya cukup kecil untuk terlewat begitu saja bila tidak ditunjukkan oleh pemandu, dan meski begitu ia menyimpan bobot yang sama beratnya dengan segala sesuatu di sekelilingnya: jejak kaki pertama seorang ratu, tiga puluh delapan sumpah yang berturut-turut, dan sebuah falsafah pemerintahan yang menegaskan, jauh sebelum sebagian besar monarki dunia menyadari gagasan ini, bahwa kekuasaan harus bertanggung jawab kepada sesuatu di luar dirinya sendiri.