← Traditional Heritage
Traditional Heritage·Indonesia·4 menit baca

Baruga Keraton: Balai Kayu Tempat Para Sultan Buton Diangkat dan Diturunkan

Bangunan yang Benar-Benar Membuat Saya Terhenti

Dari semua yang ada di dalam Benteng Keraton Buton, bangunan inilah yang paling membekas di hati saya, melebihi Batu Popaua, bahkan melebihi sebagian besar tembok benteng itu sendiri. Bangunannya besar, seluruhnya terbuat dari kayu, dan letaknya begitu dekat dengan masjid keraton sehingga dugaan pertama saya adalah semacam bangunan keagamaan. Seseorang di sekitar situ memberi tahu saya bahwa tempat ini dipakai untuk berbagai acara dan upacara, termasuk yang bersifat keagamaan, tapi ternyata itu bukan keseluruhan cerita. Yang kemudian saya pelajari adalah bahwa bangunan ini, Baruga Keraton, pernah menjalankan salah satu peran politik paling berat dalam sepanjang sejarah Buton.

Bangunan Baruga Keraton yang besar dan terbuat dari kayu di dalam Benteng Keraton Buton, dengan atap bertingkat dan sisi-sisi terbuka yang ditopang tiang panggung.

Dibangun di Titik Balik Sejarah

Baruga konon dibangun pada masa pemerintahan sultan keempat, Shakiuddin Darul Alam, yang juga dikenal sebagai La Elangi. Nama itu akan terasa akrab bila Anda pernah membaca soal Batu Popaua: dialah sultan yang masa pemerintahannya menandai pergeseran dari suksesi turun-temurun otomatis menjadi pemilihan melalui Siolimbona, badan perwakilan rakyat. Baruga tidak dibangun sebagai balai seremonial netral yang muncul begitu saja di momen yang tak berkaitan. Ia dibangun tepat pada titik ketika tata pemerintahan Buton sedang menata ulang dirinya sendiri, dan fungsinya mencerminkan momen itu secara langsung.

Tempat Keputusan Sesungguhnya Diambil

Menurut para sejarawan budaya setempat, Baruga berfungsi sebagai pusat sesungguhnya dari kehidupan politik dan administratif Buton. Di sinilah para sultan berkumpul untuk bermusyawarah soal urusan ekonomi dan politik sebagai satu badan, bukan sebagai pembuat titah perseorangan. Di sinilah pula seorang sultan bisa diturunkan secara resmi dari kekuasaannya, sebuah pengawasan yang sungguh-sungguh serius atas kewenangan raja, dan di sinilah pemilihan sultan baru diumumkan kepada khalayak. Baruga juga menjadi tahap penutup dari penobatan itu sendiri: begitu seorang sultan baru selesai mengucapkan sumpahnya di Batu Popaua yang berjarak tak jauh, ia langsung berjalan menuju Baruga untuk menerima utusan dari seluruh penjuru kerajaan dan menerima ikrar kesetiaan mereka. Jika Batu Popaua adalah tempat seorang penguasa mengucapkan janjinya, Baruga adalah tempat kerajaan secara resmi menerima janji itu, dan tempat pula, bila kelak segalanya berjalan salah, penerimaan itu bisa dicabut kembali.

Peran Keagamaan Juga

Fungsi Baruga tidak berhenti pada urusan politik. Sejak dulu, tempat ini menjadi tuan rumah Kunua, santap bersama menjelang subuh yang digelar pada malam keenam belas Ramadan, dan seiring waktu juga menjadi area tunggu bagi para perempuan yang hendak menunaikan salat Id di Masjid Agung yang berdekatan. Sebuah bangunan yang begitu sentral bagi kehidupan publik kerajaan memang wajar bila akhirnya menampung lebih dari satu jenis perkumpulan.

Salah Satu dari Delapan Bangunan yang Wajib Dijaga Perdana Menteri

Catatan resmi lama, di antaranya Sarana Wolio dan Istiadatul Azali, menyebutkan bahwa salah satu tugas inti perdana menteri Buton, sang Sapati, adalah menjaga infrastruktur sentral kerajaan: benteng, masjid, istana, pasar, dan Baruga termasuk di dalamnya. Masuknya Baruga ke dalam daftar pendek delapan bangunan penting itu banyak bercerita tentang betapa seriusnya tempat ini dipandang dalam kerangka pemerintahan kerajaan sendiri.

Yang Berdiri Sekarang Adalah Hasil Rekonstruksi

Perlu dicatat secara jujur: bangunan yang berdiri di sini sekarang adalah hasil rekonstruksi, bukan struktur aslinya, menurut peneliti budaya setempat, Inran Kudus. Secara ketat, ini bukan artefak sejarah asli. Meski begitu, seluruh kawasan Wolio yang mengelilingi benteng ini telah ditetapkan sebagai Zona Cagar Budaya Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada 2021, dan peraturan kota Baubau sendiri melindunginya lebih jauh sebagai zona khusus. Perubahan besar pada lanskap bersejarah ini tidak diperbolehkan, yang mungkin menjelaskan mengapa Baruga dibangun kembali dari kayu alih-alih beralih ke material yang lebih modern, menjaga rekonstruksi ini tetap setia pada rupa dan nuansa yang seharusnya dimiliki situs ini.

Baruga Kedua, Jangan Sampai Tertukar

Satu hal yang patut digarisbawahi: sejarah Buton juga mencatat adanya benteng yang sama sekali berbeda bernama Benteng Baruga, dibangun sekitar tahun 1632 hingga 1645 di wilayah Mawasangka, Buton bagian barat, sebagai pertahanan melawan perompak Tobelo, dan konon digunakan sebagai posisi cadangan bila benteng utama keraton sampai jatuh. Namanya sama, tapi struktur dan fungsinya sama sekali berbeda. Mudah saja keduanya tertukar bila membaca sekilas, jadi ada baiknya keduanya dibedakan dengan jelas.

Nanas yang Sama, Lagi

Menengadah ke puncak atap Baruga, ada ukiran hiasan puncak berbentuk nanas yang tak salah lagi bentuknya, dan itu adalah simbol yang sama dengan yang sudah saya lihat di Istana Malige: sebuah pengingat yang sengaja dihadirkan bahwa takhta tidak pernah dimaksudkan untuk diperlakukan sebagai warisan keluarga. Melihatnya muncul kembali di sini, tepat di bangunan tempat para sultan dipilih dan sesekali diturunkan, membuat makna simbol itu terasa lebih dalam untuk kedua kalinya. Ini bukan hiasan yang kebetulan berulang. Ini gagasan yang sama, terukir pada dua bangunan berbeda yang keduanya ada untuk menegakkan gagasan itu.

Hiasan puncak berukir bentuk nanas di puncak atap Baruga Keraton, menggemakan simbol suksesi yang sama seperti yang ditemukan di Istana Malige.

Bangunan Paling Sunyi dengan Sejarah Paling Nyaring

Di antara skala mentah Benteng Keraton, bobot sakral Batu Popaua, dan kini kerangka kayu Baruga yang bersahaja, benteng ini terus menegaskan hal yang sama dalam wujud yang berbeda-beda: Buton tidak dijalankan oleh raja-raja yang berkuasa tanpa kendali, mengeluarkan titah dari balik tembok batu. Kekuasaan di sini dirundingkan, dimusyawarahkan, dan bila perlu, dibatalkan, dan sebagian besar perundingan itu, mengejutkannya, terjadi di dalam satu balai kayu yang sederhana dan berukuran raksasa ini, yang berdiri tenang di samping masjid.