Ada Sesuatu di Air, Sebelum Aku Bahkan Sampai ke Pantai
Sore itu di Palu aku tidak sedang mencari apa pun secara khusus, hanya berjalan ke arah air seperti biasa kulakukan di kota baru mana pun. Di tengah jalan, di sebuah bundaran, seekor kuda putih yang sedang melompat menarik perhatianku, berdiri tegak di atas alas hitam-oranye yang dihiasi motif geometris khas yang banyak dijumpai di kawasan Sulawesi ini. Aku belum tahu kisahnya, hanya merasa itu semacam penanda yang sengaja dipasang sebuah kota supaya orang menyadari telah tiba di suatu tempat yang khusus. Aku terus berjalan, melewatinya, menuju tanggul laut yang melengkung di sepanjang Teluk Palu.


Sebuah Bentuk yang Bukan Kampung Terapung
Lebih jauh di sepanjang air, sesuatu menarik perhatianku di luar garis pantai — sebuah bentuk yang duduk rendah di atas permukaan, berbeda dari segala sesuatu di sekitarnya. Dugaan pertamaku, itu mungkin bagian dari permukiman terapung, jenis yang bisa dijumpai dibangun di atas air di beberapa tempat di kawasan ini. Tapi hanya ada satu bangunan, dan ukurannya besar, dan cara ia bertengger membuatnya tampak seperti benar-benar bertumpu langsung di atas air, bukan disangga oleh sesuatu di bawahnya. Itu tidak cocok dengan gambaran sebuah kampung. Itu sesuatu yang lain, dan aku terus berjalan mendekatinya untuk mencari tahu apa itu.

Ternyata Sebuah Masjid, Miring, dan Masih Berdiri
Semakin dekat aku mendekat, bentuk itu perlahan menjelma menjadi sebuah masjid — berkubah, jelas dulunya dibangun untuk tampil indah, dan kini sedikit miring, lapuk dimakan waktu, berdiri sendirian di atas air. Bahkan dalam kondisi seperti itu ia sepenuhnya menyita perhatianku. Belakangan aku tahu bahwa ini adalah Masjid Arkam Babu Rahman, yang oleh warga setempat disebut Masjid Terapung, dan bahwa kemiringan serta kerusakannya bukan akibat dibiarkan begitu saja. Itu adalah sisa dari sesuatu yang pernah meluluhlantakkan sebagian besar bangunan di sekelilingnya, dan masjid ini keluar dari peristiwa itu dengan tetap berdiri tegak.

Tiga Puluh Meter dari Bibir Pantai, di Atas Dua Puluh Lima Tiang
Masjid ini berdiri kira-kira tiga puluh meter dari bibir pantai, ditopang oleh dua puluh lima tiang yang ditanam sedalam sepuluh meter ke dasar laut. Saat air surut, tiang-tiang itu tampak jelas, berdiri seperti kaki-kaki di atas lumpur terbuka dan air dangkal; saat air pasang, air naik mengelilinginya hingga seluruh bangunan tampak seolah mengambang bebas, persis seperti yang dijanjikan namanya. Pengunjung biasanya mencapainya lewat jembatan khusus yang dihiasi lampu di kedua sisinya. Pada malam hari, sebelum kerusakan yang mengubah segalanya ini terjadi, kubahnya disinari dalam siklus tujuh warna yang berputar bergantian — merah, oranye, hijau, ungu, biru, merah muda, putih — berganti setiap beberapa detik. Masjid ini tidak pernah dirancang untuk menampung banyak orang; kapasitasnya paling banyak sekitar dua ratus orang. Meski begitu, sekecil apa pun ukurannya, ia menjadi salah satu citra yang paling melekat bukan hanya bagi Palu, tetapi bagi Sulawesi Tengah secara keseluruhan.
Dibangun untuk Seorang Ulama, dan untuk Membenahi Sebuah Kawasan
Masjid ini dibangun untuk mengenang Datu Karama, yang lahir dengan nama Syekh Abdullah Raqie, ulama yang dipercaya membawa Islam ke Palu dari Sumatra Barat pada abad ketujuh belas. Gagasannya datang dari Muhammad Hasan Bajamal, seorang pengusaha lokal yang mengelola beberapa pom bensin di kawasan itu; pembangunan dimulai pada 19 Januari 2011 dan selesai tepat setahun kemudian, pada 19 Januari 2012. Pemilihan lokasinya bukan semata untuk menghormati Datu Karama. Kawasan tepi pantai ini sempat dikenal karena kehidupan malamnya, bar dan kafe serta tempat-tempat yang menawarkan lebih dari sekadar keduanya, dan mendirikan sebuah masjid di sini juga, menurut kebanyakan cerita, merupakan langkah yang sengaja diambil untuk mengubah watak kawasan tersebut.
Gempa yang Tak Mampu Merobohkannya
Pada 28 September 2018, gempa berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang dengan pusat gempa di Kabupaten Donggala, dan yang menyusul kemudian menghantam Palu sebagai bencana berlapis: gempa itu sendiri, lalu tsunami, kemudian likuefaksi yang mengubah tanah padat menjadi sesuatu yang nyaris seperti cairan di bawah kaki. Lebih dari 1.763 orang meninggal di seluruh kawasan itu, 1.519 di antaranya di Palu saja, dengan 159 lainnya di Donggala dan 69 di Sigi. Kota ini lumpuh selama berhari-hari.
Gelombang setinggi kurang lebih tiga meter menerjang teluk dan menyapu hampir segala sesuatu yang dilaluinya. Masjid terapung itu, di luar segala dugaan yang masuk akal, tidak ikut roboh. Separuh bangunannya terendam air, dan jembatan yang dulu menghubungkannya ke daratan hancur total, tetapi struktur bangunannya sendiri tetap mempertahankan bentuknya dan terus berdiri, miring namun utuh, dengan cara yang hampir seketika membuatnya menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
Saksi Bisu yang Masih Menarik Orang Saat Senja
Sejak itu masjid ini tak lagi berfungsi sebagai tempat salat. Kini ia berdiri, rusak dan tak diperbaiki, sebagai apa yang oleh warga setempat mulai disebut sebagai saksi bisu, catatan fisik dari apa yang telah dilakukan gempa, tsunami, dan likuefaksi terhadap garis pantai ini. Namun tragedi yang sama yang melumpuhkannya itu tampaknya justru membuatnya semakin memikat, bukan sebaliknya. Warga setempat menjadikan garis pantai di dekatnya sebagai tempat favorit untuk jalan sore, dan terutama selama Ramadan tempat ini dipenuhi orang-orang yang menghabiskan waktu menjelang berbuka, ngabuburit, dengan masjid yang rusak itu sebagai latar belakangnya. Duduk di atas bebatuan di dekatnya sambil berfoto dengan masjid itu di bingkai gambar sudah menjadi hal yang sangat biasa dilakukan di sini, dan pemerintah kota Palu dikabarkan tengah menyusun rencana untuk menjadikan kawasan ini sebagai situs wisata dan warisan religi resmi.
Ada satu benang merah yang mengalir di banyak hal yang sudah kupelajari tentang budaya Sulawesi Tengah bahkan sebelum aku melihat tempat ini — figur tau tau, guci-guci pemakaman, kain kulit kayu, semuanya dibangun di atas semacam hubungan antara kematian dan pembaruan, antara leluhur dan orang-orang yang masih hidup. Arkam Babu Rahman masuk ke dalam pola yang sama itu tanpa berusaha untuk itu. Ia membawa ingatan akan sebuah bencana, dan pada saat yang sama, memberi orang-orang yang masih hidup sebuah tempat untuk berkumpul di sore hari. Di suatu tempat dalam perpaduan itulah sebagian besar dari apa yang kubawa pulang, berdiri di tepi pantai memandangi sebuah masjid yang seharusnya ikut roboh bersama segala sesuatu di sekitarnya, namun tidak.