Kembali ke Kompleks yang Sama, Kini Siap Menerima Tamu
Saya mengenali alun-alun itu sebelum mengenali apa pun yang lain, alang dan tongkonan yang sama, saling berhadapan melintasi Ulu Bapa, Lakian yang sama berdiri di sisi dengan papan tanda dukanya yang masih terpasang. Ini adalah pemakaman yang sama, keluarga yang sama, Benyamin Anthon dan Kristina Lembang, hanya satu hari lebih jauh ke dalam sebuah upacara yang jelas membutuhkan hari tambahan untuk membangun menuju apa yang akan datang. Jika Hari Pertama terasa tenang dan hampir seperti urusan administratif, kompleks ini kini sudah sama sekali tak dikenali: babi-babi terikat menunggu di mana-mana, daun pisang digelar untuk memotong daging, dan paviliun yang sehari sebelumnya masih setengah kosong kini dipenuhi orang-orang yang datang dari tempat lain.

Terima Tamu: Pemakaman yang Berjalan di Atas Utang dan Ingatan
Hari itu punya nama, Katongkonan, atau lebih sederhana Terima Tamu, dan begitu dijelaskan kepada saya, seluruh acara ini berhenti terlihat seperti pemakaman dalam pengertian yang saya pahami dan mulai terlihat lebih seperti sebuah pembukuan yang sedang dilunasi. Para tamu yang datang hari itu bukan sekadar pelayat. Sebagian besar dari mereka adalah keluarga yang, pada suatu waktu di masa lalu, pernah menerima seekor kerbau dari keluarga Benyamin dan Kristina untuk salah satu upacara mereka sendiri, dan Rambu Solo adalah saat utang itu jatuh tempo. Seekor babi adalah pelunasan yang sederhana. Seekor kerbau, terutama tedong rotong boko yang bercorak belang dan langka, sama sekali bukan hal sederhana, dan saya diberi tahu harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Menyaksikan babi-babi digiring masuk dengan tali sepanjang pagi itu, saya terus harus mengingatkan diri sendiri bahwa sebagian dari apa yang akan datang kemudian bernilai jauh lebih besar daripada semua yang bisa saya lihat sekaligus.

Kopi, Camilan, dan Utang yang Tercatat
Di sekeliling alun-alun, tempat berteduh sementara yang disebut lantang telah didirikan sejak hari sebelumnya, struktur sederhana tempat para tamu yang datang bisa duduk, disuguhi kopi atau teh, dan mencicipi nampan berisi camilan khas daerah sambil menunggu giliran mereka disambut secara resmi. Suasananya terasa hampir seperti rumah tangga biasa di tengah segala hal besar yang terjadi, sebuah keramahan kecil dan sederhana yang terselip di dalam acara yang jauh lebih besar. Saya diberi tahu bahwa di balik layar, seseorang mencatat dengan tepat apa yang dibawa setiap keluarga, babi atau kerbau, agar keluarga tuan rumah bisa mencatatnya dengan benar dan, pada akhirnya, membalasnya sendiri ketika giliran pemberi itu tiba. Tidak ada satu pun di sini yang hanya dipercayakan pada ingatan semata.

Para Tamu Disambut di Sekeliling Alun-Alun
Begitu giliran sebuah keluarga tiba, penyambutan itu sendiri menjadi sebuah prosesi kecil tersendiri. Saya menyaksikan satu rombongan tiba di salah satu struktur berhias dekat tongkonan, para perempuan mengenakan busana adat merah menyala dengan selendang berumbai, berjalan bersama melewati para pria tua berpakaian hitam yang datang untuk menyambut mereka. Ini jelas merupakan momen paling berwarna sepanjang hari itu, sebuah kontras yang tampaknya disengaja terhadap suasana yang lebih khidmat yang menanti kemudian. Setiap keluarga yang melewati penyambutan ini, pada dasarnya, sedang melangkah maju secara terbuka untuk mengatakan bahwa mereka ingat apa yang mereka utang dan telah datang untuk melunasinya.

Ma'badong: Nyanyian yang Membawa Duka
Di tengah-tengah acara penyambutan, sekelompok besar pria berkemeja hitam senada, berselendang merah, dan mengenakan topi fedora pucat berkumpul di satu sisi, dan saya diberi tahu ini adalah Ma'badong, sebuah nyanyian yang dilantunkan dalam lingkaran dan secara khusus dimaksudkan untuk membawa duka, bukan perayaan. Hari Pertama tidak memiliki apa pun yang serupa. Ini adalah momen pertama sepanjang upacara di mana suasana bergeser dari sibuk dan sosial menjadi benar-benar berduka, puluhan suara pria yang rendah dan berulang, lebih terasa daripada dipahami karena saya tidak bisa mengikuti kata-katanya. Ini juga menjadi pertanda paling jelas sejauh itu bahwa betapapun ringannya energi yang dibawa penyambutan tamu, di baliknya hari itu tetaplah sebuah pemakaman.

Seekor Kerbau, Diumumkan dengan Nama
Kemudian, salah satu kerbau hari itu digiring melewati kelompok pria Ma'badong yang sama dan keluar ke tengah alun-alun terbuka, dan di sinilah timbal balik yang menjadi inti hari itu berubah menjadi sesuatu yang bisa disaksikan semua orang. Sebuah pengumuman resmi menyebutkan nama keluarga yang mempersembahkan hewan tersebut, mengaitkan seekor kerbau tertentu dengan sebuah tindakan mengenang yang spesifik, alih-alih membiarkannya berlalu begitu saja tanpa nama. Melihatnya digiring melewati para pria yang melantunkan nyanyian, alih-alih lewat di pinggir, membuatnya terasa bukan sekadar ternak yang berpindah tangan, melainkan lebih seperti sebuah utang yang dibacakan dengan lantang sebelum dilunasi.

Dua atau Tiga Ekor Kerbau, dan Penutup Hari yang Panjang
Catatan sebelum bagian ini: foto di bawah menunjukkan kondisi setelah penyembelihan seekor kerbau, termasuk darah. Jika ini bukan sesuatu yang ingin Anda lihat, silakan lewati bagian ini.
Pada saat kerbau kedua atau ketiga hari itu telah dirobohkan, alun-alun itu memiliki suasana yang sama sekali berbeda dari pagi harinya, nyanyian lebih pelan, kerumunan lebih menyebar, setiap orang tampak sadar akan apa yang diwakili tiap hewan sebelum itu terjadi. Saya tidak menganggap ini enteng, dan saya rasa tidak ada orang di sekitar saya yang menganggapnya begitu juga. Apa pun makna timbal balik ini di atas kertas, pada saat itu, tetap saja ini adalah sebuah nyawa yang diberikan, secara terbuka, di hadapan seluruh komunitas yang berkumpul.

Dalam perjalanan pulang sore itu, saya lebih banyak memikirkan bukan skala upacara ini, melainkan betapa sungguh-sungguh saya berusaha hadir di sana sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar turis, mengikuti arahan keluarga tentang kapan harus mundur, kapan boleh memotret, dan kapan jelas-jelas bukan saat yang tepat bagi kamera orang asing sama sekali. Hari Pertama meminta perhatian yang tenang. Hari Kedua meminta sesuatu yang lebih mendekati rasa hormat terhadap sebuah sistem pembukuan yang sangat kuno, di mana sebuah pemberian tidak pernah benar-benar selesai sampai dibalas, kadang bertahun-tahun kemudian, kadang dengan biaya yang tidak terbayangkan di tempat lain mana pun yang pernah saya kunjungi.