← Cerita
Diary·Indonesia·6 Agustus 2026·2 menit baca

Tarakan yang Tak Terduga: Feri Cepat, Monyet Bekantan, dan Topi Presiden!

Butuh Kecepatan: Dari Nunukan ke Tarakan

Menunggu di terminal feri Nunukan sebelum berangkat ke Tarakan

6 Agustus. Misi hari ini: naik feri dari Nunukan ke Tarakan.

Sejujurnya aku tidak tahu berapa banyak kapal yang beroperasi di rute ini, tapi ternyata ada sekitar sembilan kapal setiap harinya. Jauh lebih banyak dari yang kuperkirakan!

Aku sarapan sebentar lalu naik feri jam 7:20 pagi. Dan wow... kapal ini cepat banget. Cepat sampai terasa liar. Kami terguncang begitu keras di atas ombak sampai aku benar-benar berpikir lambung kapalnya akan hancur berkeping-keping.

Di dalam feri cepat yang terguncang keras di atas ombak menuju Tarakan

Feri membelah lautan lepas dalam perjalanan menuju Tarakan

Untungnya kami sampai dengan selamat. Kesan pertama tentang Tarakan? Perkampungan atas air yang luar biasa, tepat di dekat pelabuhan. Ini langsung memberikan kota ini nuansa yang unik dan mentah.

Rumah-rumah panggung dari sebuah perkampungan atas air dekat pelabuhan di Tarakan

Berburu Tiket Tanpa Info Sama Sekali

Selanjutnya: mencari tahu bagaimana caranya sampai ke tujuan berikutnya, Palu.

Aku berjalan sekitar satu kilometer menuju sebuah warung lokal, memesan Nasi Rawon, dan mulai bertanya-tanya ke sekitar.

Seporsi Nasi Rawon di sebuah warung lokal di Tarakan

Ternyata, aku tidak bisa membeli tiket Pelni (feri) di sana. Aku harus berjalan lagi sejauh 2 kilometer menuju sebuah kantor di sisi yang benar-benar berlawanan dari pelabuhan. Harus diakui, minimnya informasi online di sini itu unik tersendiri. Inilah backpacking gaya lama yang serba mentah.

Berjalan menyusuri Tarakan mencari kantor tiket feri Pelni

Menyelami Lebih Dalam Budaya Tidung

Kemudian, petualangan sesungguhnya dimulai. Seorang bapak lokal—yang diperkenalkan oleh seseorang yang kutemui di Nunukan—menawarkan diri untuk mengajakku berkeliling kota.

Tarakan sangat berakar pada budaya Tidung. Dia membawaku ke sebuah pusat budaya tradisional yang terasa semegah dan sebersejarah sebuah kuil besar di Jepang.

Pusat budaya tradisional Tidung yang megah di Tarakan

Bisa melihat langsung artefak-artefak tradisional—seperti ayunan bayi dan tempat tidur khusus pascamelahirkan yang disebut selakado—benar-benar memukau.

Ayunan bayi tradisional Tidung yang dipajang di pusat budaya

Tempat tidur pascamelahirkan tradisional selakado yang digunakan dalam budaya Tidung

Ada sesuatu yang istimewa ketika kamu benar-benar berada di suatu tempat dan melihat langsung bagaimana sesuatu dibangun. Kamu tidak akan mendapatkan pemahaman mendalam seperti itu hanya dari membaca buku teks.

Serba Merah: BBQ Khas Sulawesi dan Topi VIP

Untuk makan siang, seorang pemandu lain bergabung dengan kami, dan kami mampir ke sebuah restoran bergaya Sulawesi, semacam persiapan untukku menuju pulau berikutnya.

Duduk untuk makan siang di sebuah restoran bergaya Sulawesi di Tarakan

Semuanya dipanggang di atas api terbuka dan diselimuti cabai merah.

Hidangan panggang bergaya Sulawesi yang diselimuti sambal cabai merah

Aku sudah bersiap penuh untuk badai api di mulutku, tapi ternyata? Tidak sepedas itu! Jujur saja, makanan Korea atau Tiongkok jauh lebih pedas. Ini hanya rasa yang murni dan kaya.

Setelah makan siang, kami mengunjungi seorang pengrajin lokal yang membuat topi anyaman tradisional.

Seorang pengrajin lokal sedang menganyam topi tradisional dengan tangan di Tarakan

Bapak ini benar-benar legenda—dia bahkan membuat topi untuk mantan Presiden Joko Widodo! Semuanya 100% buatan tangan, dan menyaksikan keahliannya dari dekat benar-benar luar biasa.

Tampilan dekat topi anyaman tradisional buatan tangan hasil karya pengrajin Tarakan

Melihat dedikasi yang dicurahkan pada setiap helai benangnya benar-benar memberiku apresiasi baru terhadap budaya ini.

Monyet Liar dan Keberuntungan dalam Perjalanan

Kemudian, kami mampir ke sebuah kawasan permukiman atas air untuk melihat monyet bekantan liar.

Seekor monyet bekantan liar terlihat di pepohonan dekat permukiman atas air di Tarakan

Mereka hanya bersantai di pepohonan sekitar 10 hingga 15 meter dari kami.

Monyet-monyet bekantan beristirahat di pepohonan di atas permukiman atas air

Sangat santai, sangat menggemaskan.

Menutup hari dengan menikmati kopi di sebuah kafe bergaya perkemahan yang keren, dikelola oleh teman-teman para pemanduku.

Kafe bergaya perkemahan di Tarakan tempat hari itu ditutup dengan secangkir kopi

Awalnya, aku hanya ingin melewati Tarakan dan langsung menuju Palu. Kalau saja aku terburu-buru dan langsung naik kapal berikutnya, aku pasti akan melewatkan semua ini. Memperlambat langkah, terhubung dengan warga lokal, dan membiarkan keberuntungan mengambil kendali sungguh menjadi bagian paling berharga dari sebuah perjalanan.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan