Butuh Kecepatan: Dari Nunukan ke Tarakan

6 Agustus. Misi hari ini: naik feri dari Nunukan ke Tarakan.
Sejujurnya aku tidak tahu berapa banyak kapal yang beroperasi di rute ini, tapi ternyata ada sekitar sembilan kapal setiap harinya. Jauh lebih banyak dari yang kuperkirakan!
Aku sarapan sebentar lalu naik feri jam 7:20 pagi. Dan wow... kapal ini cepat banget. Cepat sampai terasa liar. Kami terguncang begitu keras di atas ombak sampai aku benar-benar berpikir lambung kapalnya akan hancur berkeping-keping.


Untungnya kami sampai dengan selamat. Kesan pertama tentang Tarakan? Perkampungan atas air yang luar biasa, tepat di dekat pelabuhan. Ini langsung memberikan kota ini nuansa yang unik dan mentah.

Berburu Tiket Tanpa Info Sama Sekali
Selanjutnya: mencari tahu bagaimana caranya sampai ke tujuan berikutnya, Palu.
Aku berjalan sekitar satu kilometer menuju sebuah warung lokal, memesan Nasi Rawon, dan mulai bertanya-tanya ke sekitar.

Ternyata, aku tidak bisa membeli tiket Pelni (feri) di sana. Aku harus berjalan lagi sejauh 2 kilometer menuju sebuah kantor di sisi yang benar-benar berlawanan dari pelabuhan. Harus diakui, minimnya informasi online di sini itu unik tersendiri. Inilah backpacking gaya lama yang serba mentah.

Menyelami Lebih Dalam Budaya Tidung
Kemudian, petualangan sesungguhnya dimulai. Seorang bapak lokal—yang diperkenalkan oleh seseorang yang kutemui di Nunukan—menawarkan diri untuk mengajakku berkeliling kota.
Tarakan sangat berakar pada budaya Tidung. Dia membawaku ke sebuah pusat budaya tradisional yang terasa semegah dan sebersejarah sebuah kuil besar di Jepang.

Bisa melihat langsung artefak-artefak tradisional—seperti ayunan bayi dan tempat tidur khusus pascamelahirkan yang disebut selakado—benar-benar memukau.


Ada sesuatu yang istimewa ketika kamu benar-benar berada di suatu tempat dan melihat langsung bagaimana sesuatu dibangun. Kamu tidak akan mendapatkan pemahaman mendalam seperti itu hanya dari membaca buku teks.
Serba Merah: BBQ Khas Sulawesi dan Topi VIP
Untuk makan siang, seorang pemandu lain bergabung dengan kami, dan kami mampir ke sebuah restoran bergaya Sulawesi, semacam persiapan untukku menuju pulau berikutnya.

Semuanya dipanggang di atas api terbuka dan diselimuti cabai merah.

Aku sudah bersiap penuh untuk badai api di mulutku, tapi ternyata? Tidak sepedas itu! Jujur saja, makanan Korea atau Tiongkok jauh lebih pedas. Ini hanya rasa yang murni dan kaya.
Setelah makan siang, kami mengunjungi seorang pengrajin lokal yang membuat topi anyaman tradisional.

Bapak ini benar-benar legenda—dia bahkan membuat topi untuk mantan Presiden Joko Widodo! Semuanya 100% buatan tangan, dan menyaksikan keahliannya dari dekat benar-benar luar biasa.

Melihat dedikasi yang dicurahkan pada setiap helai benangnya benar-benar memberiku apresiasi baru terhadap budaya ini.
Monyet Liar dan Keberuntungan dalam Perjalanan
Kemudian, kami mampir ke sebuah kawasan permukiman atas air untuk melihat monyet bekantan liar.

Mereka hanya bersantai di pepohonan sekitar 10 hingga 15 meter dari kami.

Sangat santai, sangat menggemaskan.
Menutup hari dengan menikmati kopi di sebuah kafe bergaya perkemahan yang keren, dikelola oleh teman-teman para pemanduku.

Awalnya, aku hanya ingin melewati Tarakan dan langsung menuju Palu. Kalau saja aku terburu-buru dan langsung naik kapal berikutnya, aku pasti akan melewatkan semua ini. Memperlambat langkah, terhubung dengan warga lokal, dan membiarkan keberuntungan mengambil kendali sungguh menjadi bagian paling berharga dari sebuah perjalanan.
