Pagi Penuh Pertemuan Baru dan Jajanan Lokal
Hari yang ditunggu untuk meninggalkan Tarakan akhirnya tiba.
Sejak pagi, warga lokal luar biasa yang baru kutemui kemarin sudah mengurusku dengan penuh perhatian. Pertama-tama: sarapan. Mereka mentraktirku bakpao daging kukus yang luar biasa dan hidangan bergaya Tionghoa yang disebut "Kuei." Benar-benar pas di lidah!


Selanjutnya, kami mampir ke "Hatori Cafe," yang dikelola oleh salah satu teman mereka. Sejujurnya, budaya kafe di Indonesia ada di level lain. Kafe ada di mana-mana! Begitu malam tiba, tempat-tempat ini berubah menjadi tempat nongkrong favorit anak muda (kebanyakan di bawah 30 tahun). Karena persaingan dunia kafe begitu ketat, kualitas racikan kopi lokal mereka benar-benar mengesankan.


Menjelajahi Landmark Tarakan: Sejarah Minyak & Masjid
Setelah itu, kami menjelajah sedikit—mengunjungi sebuah masjid yang indah dan melihat-lihat beberapa situs pertambangan. Tarakan memiliki akar yang dalam pada industri minyak dan pertambangan, dan bahkan ada monumen yang didedikasikan untuk sejarah pertambangan kota ini.


Perpisahan yang Menyentuh Hati dan Hadiah yang Menginspirasi
Kami berbagi santapan terakhir bersama, dan sebelum berpisah, mereka memberiku hadiah perpisahan paling keren.

Mereka menjalankan sebuah inisiatif daur ulang lokal dan memberiku gantungan kunci yang seluruhnya terbuat dari sampah plastik laut. Kamu sering mendengar tentang masalah sampah di kota-kota besar seperti Jakarta, jadi melihat anak-anak muda lokal ini benar-benar bertindak nyata dengan tujuan yang begitu kuat sungguh menginspirasi.

Mereka semua datang ke pelabuhan untuk memberiku pelepasan yang menyentuh hati. Kami mengambil beberapa foto bersama, dan aku pun naik ke kapal Pelni. Waktuku di Tarakan benar-benar tak terlupakan.

Matahari Terbenam yang Indah dan Kabin Kapal yang Kacau
Matahari terbenam yang terlihat dari dek benar-benar luar biasa.

Soal tempat tidurku... aku mendapatkan kursi ekonomi yang terselip jauh di sudut paling belakang. Ternyata berada di pinggir tidak terlalu buruk.

Aku benar-benar kelelahan, tapi tepat saat aku berpikir, "Baiklah, saatnya tidur," aku mendongak dan melihat pertandingan sepak bola sedang ditayangkan di TV. Karena nyaris tidak ada hiburan di kapal-kapal ini, separuh penumpang berkerumun di depan layar, benar-benar bersemangat. Suasananya kacau, tapi kamu tidak bisa tidak menyukai vibe-nya.

Jujur saja, lampu kabin menyala sepanjang malam, dan secara fisik, perjalanan ini cukup menguras tenaga. Tapi tahu apa? Pengalaman-pengalaman mentah seperti ini—yang baik, yang buruk, dan yang melelahkan—justru yang membuat traveling begitu berharga. Dengan pikiran itu, aku bersiap untuk malam yang panjang di tengah laut.
