← Cerita
Diary·Indonesia·25 September 2026·3 menit baca

Menyelami Tana Toraja Lebih Dalam: Hari Terakhir Rambu Solo dan Pergeseran Jiwa Sang Musafir

Kopi Hitam Pekat dan Perjumpaan Tak Terduga

Hari-hariku di Tana Toraja akhirnya sampai pada penghujungnya. Ini menandai hari kelima sekaligus terakhir dari upacara pemakaman besar Rambu Solo yang telah kuhadiri. Menyadari bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku menikmati kopi pagi buatan Kevin, pemilik Kevin's Guest House, menghadirkan secercah kesedihan. Kopinya selalu terasa kuat dan pekat, kepahitannya yang dalam selalu berhasil menghapus lelah pagiku.

Secangkir kopi hitam pekat di atas meja dengan pemandangan sawah dan pegunungan berkabut

Setelah mengabadikan foto kenangan bersamanya, aku memulai pendakian yang sudah kukenal menuju Batutumonga.

Swafoto bersama teman-teman di jalan desa, dengan sepeda motor terparkir di samping mereka di bawah langit biru cerah

Dalam perjalanan, seorang yang berpapasan memberikan salam sekilas. Dalam sepersekian detik kami berpapasan, aku mengenalinya—dialah pria yang dengan murah hati mengizinkanku menginap di desanya hanya tiga atau empat hari sebelumnya. Ternyata, ia adalah seorang guru sekolah dasar, dan aku bertemu dengannya tepat di tempat kerjanya. Kami berfoto sejenak untuk menandai perjumpaan tak terduga ini.

Foto bersama seorang guru sekolah dasar dan murid-muridnya yang berseragam di luar sekolah mereka

Di saat-saat tenang seperti inilah aku merasakan benang-benang tak kasat mata perlahan mengikatku pada tanah ini dan orang-orangnya.

Ruang Suci yang Disinari Matahari dan Lagu untuk Mendiang

Sesampainya di lokasi Rambu Solo di Batutumonga, aku kembali tertegun oleh filosofi kematian yang khas dari Toraja. Dalam budaya ini, jenazah disimpan di dalam rumah keluarga hingga Rambu Solo benar-benar siap digelar. Aku diberi kesempatan langka untuk masuk ke ruang peristirahatan ini. Berlawanan dengan bayanganku tentang ruangan yang gelap dan muram, tempat itu justru begitu tenang dan menakjubkan, diselimuti sinar matahari lembut yang menembus jendela.

Sebuah ruangan kayu yang disinari matahari, dengan peti jenazah yang terselubung dan foto berbingkai mendiang yang tersimpan di atas rak

Dengan penuh hormat, aku mempersembahkan tembakau dan uang kepada mendiang. Persembahan uang ini adalah kontribusi yang lazim dilakukan, dimaksudkan sebagai bekal bagi perjalanan arwah menuju alam baka. Karena mendiang semasa hidupnya adalah seorang guru, upacara ini menampilkan penghormatan yang sangat menyentuh. Sebuah paduan suara murid-murid berdiri di depan lokasi upacara, menyanyikan lagu yang tulus untuk mendiang guru mereka.

Barisan anak sekolah berseragam berjalan melewati area upacara Rambu Solo menuju paviliun

Suara mereka yang jernih bergema di udara pegunungan, mengukir rasa hormat yang mendalam, alih-alih kesedihan, di hati semua orang yang hadir.

Ritual Terakhir dan Perlombaan dengan Waktu

Saat upacara mencapai puncaknya, persiapan dilakukan untuk menurunkan peti jenazah dari Lakian (paviliun upacara yang tinggi), yang berdiri sekitar 2,5 hingga 3 meter di atas tanah.

Paviliun Lakian merah-hitam yang menjulang, dengan para pria yang bekerja menurunkan peti jenazah dari platform atasnya

Secara bersamaan, sebuah ritual tradisional berlangsung di tengah area upacara: dua batang pohon, satu tipis dan satu tebal, ditebang menggunakan gergaji mesin. Setelah pepohonan itu disingkirkan, para hadirin bersatu mengangkat peti jenazah yang berat itu ke atas pundak mereka.

Seorang pria menebang batang pohon dengan gergaji mesin di tengah area upacara sementara kerumunan menyaksikan

Idealnya, aku ingin mengikuti prosesi ini hingga ke lokasi pemakaman. Namun, jadwal bus kepulanganku yang tidak bisa ditawar memaksaku untuk berangkat lebih awal. Tepat sebelum pergi, aku sempat berbincang dengan cucu mendiang. Bertemu dengannya sebenarnya adalah salah satu misi pribadiku untuk Rambu Solo yang satu ini.

Foto bersama dua anggota keluarga yang mengenakan kaus peringatan serasi bercetak potret mendiang

Dengan perasaan puas yang tenang, aku meninggalkan area upacara yang ramai itu di belakangku.

Nilai dari Sebuah Kedalaman dan Perjalanan di Depan

Kembali di penginapan, Kevin menyambutku dengan kehangatan khasnya. Sejak kedatanganku hingga kepergianku, kebaikan dan perhatiannya yang tak henti telah menjadi kenyamanan yang tak ternilai.

Merenungkan jadwal tanpa henti untuk mendokumentasikan ritual Rambu Solo dan Ma'nene, aku menyadari bahwa ini sangat menguras fisik namun luar biasa memuaskan. Selama ini, gaya perjalananku selalu berpindah-pindah tanpa henti—melompat dari satu titik ke titik lain di peta, terus-menerus mencari cara untuk memperluas wawasanku. Namun, pengalaman mendalamku di Toraja mengajarkanku nilai penting dari berdiam diri, menyelami satu wilayah secara mendalam, dan benar-benar memahami budaya serta masyarakatnya.

Foto malam hari bersama seorang teman di depan bus malam yang terparkir menuju Toraja

Tersentuh oleh keramahan tanpa batas dan sifat menyambut dari warga setempat, aku mendapati diriku ingin mempercayakan lebih banyak waktuku pada negeri yang luar biasa ini. Dengan visa Indonesiaku yang berhasil diperpanjang, perjalananku di sini masih jauh dari selesai. Tujuan berikutnya adalah Makassar. Di sana, aku akan mengistirahatkan tubuhku yang lelah dan mulai merajut serpihan-serpihan luas kenanganku di Toraja menjadi kata-kata.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan