← Cerita
Diary·Indonesia·5 Agustus 2026·2 menit baca

Menyeberang Perbatasan ke Indonesia: Tawau ke Nunukan & Keajaiban Pijat Dayak

Perjalanan Dimulai: Selamat Tinggal Tawau

5 Agustus. Akhirnya tiba waktunya meninggalkan Tawau.

Aku bangun dari tempat tidur jam 6 pagi, mengemas semua perlengkapan, dan langsung menuju terminal feri. Tiket ferinya seharga 140 Ringgit (sekitar $30 USD). Tentu saja, saat itu juga aku sadar uang tunaiku tidak cukup, jadi aku harus buru-buru lari ke ATM dulu sebelum akhirnya berhasil mendapatkan tiket. Awal pagi yang cukup hektik!

Kerumunan penumpang menunggu di ruang keberangkatan feri Tawau

Keberangkatan dijadwalkan jam 10 pagi. Tapi apakah kami berangkat jam 10? Sama sekali tidak. Kapalnya tidak bergerak sedikit pun. Kami akhirnya berlayar sekitar tengah hari.

Kapal feri berangkat dari Tawau menuju Nunukan

Setelah perjalanan yang cukup berguncang selama hampir dua jam, aku resmi tiba di Nunukan, Indonesia!

Pelabuhan Nunukan, Indonesia, tak lama setelah tiba

Perjuangan di Imigrasi & Rencana yang Berubah

Melewati imigrasi ternyata cukup menantang. Karena aku masuk dengan visa C1 (visa jangka panjang, bukan visa kedatangan standar), petugas imigrasi butuh penjelasan rinci soal rencana perjalananku. Untung saja aku sudah menyiapkan itinerary yang matang sebelumnya. Catatan untuk diri sendiri: selalu siap sedia di perbatasan.

Rencana awalku adalah langsung naik feri lain menuju Tarakan, tapi hari ini tidak ada yang tersedia. Jadi, aku mengubah rencana dan memutuskan mencari hotel untuk bermalam dan memulihkan tenaga.

Gang-Gang Tersembunyi dan Pijat Ajaib Semenit

Setelah check-in, aku berkeliling lingkungan sekitar dan tanpa sengaja menemukan gang-gang belakang yang luar biasa. Suasananya begitu mentah dan asli—jenis tempat yang tidak pernah diinjak turis.

Aku memesan makanan dari seorang ibu lokal yang baik hati, dan sungguh, rasanya luar biasa enak!

Sepiring ayam goreng dari pedagang kaki lima lokal di Nunukan

Sebagai pelengkap, dia menawarkan pijat singkat. Dan maksudku benar-benar singkat—dia hanya memijatku kurang dari semenit—tapi wow, efeknya luar biasa. Seluruh tubuhku langsung terasa benar-benar rileks.

Pria lokal yang memberikan pijat tradisional Dayak

Dia menggunakan minyak pijat obat tradisional Dayak dari Kalimantan. Penasaran, aku bertanya apa saja isinya. Ternyata, itu adalah campuran liar yang terdiri dari cakar "Buruan" (katanya mungkin semacam burung?), akar pohon raksasa, ginseng, dan pakis lokal. Cerita lucunya: waktu dia pertama kali mengeluarkannya, aku sempat mengira itu minuman! Untung dia menghentikanku sebelum sempat kuminum.

Sebotol minyak pijat obat tradisional Dayak dari Kalimantan

Kehidupan Malam ala Indonesia

Setelah kembali ke hotel untuk tidur siang yang pantas kudapatkan, aku bangun, jalan-jalan lagi, dan entah bagaimana malah berakhir di tempat yang sama seperti sebelumnya. Aku melahap sepiring Nasi Goreng Ayam dan bahkan sempat menyelipkan sedikit karaoke.

Kemudian, aku berjalan ke alun-alun setempat. Ramai sekali! Di Indonesia, siang hari begitu terik, jadi kehidupan sesungguhnya baru dimulai saat malam. Semua orang keluar untuk nongkrong di kafe, merokok, minum kopi, main game, dan sekadar mengobrol. Ini mengingatkanku pada perjalananku ke sini satu setengah tahun lalu. Ini ritme budaya yang benar-benar aku sukai.

Alun-alun kota Nunukan yang ramai di malam hari

Besok, akhirnya aku akan menuju Tarakan. Aku sudah menemukan dermaganya, jadi semua sudah siap. Tidak sabar melihat apa yang akan terjadi selanjutnya!

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan