← Cerita
Diary·Indonesia·29 Agustus 2026·1 menit baca

Sepak Bola Tanpa Berlari & Makan Siang $1.60: Hari Sempurna Menjelajahi Jalanan Indonesia

Sarapan Impian di Warung Lokal

29 Agustus. Memulai hari dengan jalan kaki 5 menit ke warung lokal yang pertama kali aku temukan di hari pertama. Serius, makanan di sini beda banget rasanya.

Aku punya misi pribadi yang agak aneh untuk mencoba sebanyak mungkin masakan berbeda seumur hidup, jadi setiap hari aku selalu memesan sesuatu yang benar-benar baru. Menu hari ini? Sop, tahu, ayam, dan mi goreng yang garingnya pas banget. Enak banget. Kombinasi sarapan paling top.

Nampan sarapan berisi sop, tahu, ayam, nasi, dan mi goreng garing dari warung lokal

Menemukan "Sepak Bola Jalan Kaki"

Sambil jalan-jalan setelah sarapan, aku tanpa sengaja menemukan lapangan sepak bola lokal di dekat taman. Sekelompok bapak-bapak—kebanyakan berusia akhir 30-an dan 40-an—sedang bertanding, tapi saat aku memperhatikan, ada sesuatu yang... terasa aneh.

Tidak ada yang berlari.

Tunggu, mereka benar-benar tidak diperbolehkan berlari! Kalau sampai berlari, langsung kena tendangan penalti. Kurasa ini aturan cerdas untuk mencegah cedera seiring bertambahnya usia? Aku pun akhirnya menonton mereka selama 10 menit penuh. Jujur, suasananya beda banget dan aku lumayan suka. Cara baru yang keren untuk olahraga ini.

Para pria bermain pertandingan sepak bola "tanpa berlari" di lapangan terbuka

Makan Siang Hemat Paling Top

Untuk makan siang, aku memesan hidangan bernama Udang—seporsi besar nasi, udang, dan mi sebagai pelengkap. Memang cuma ada dua atau tiga ekor udang, tapi rasanya pas banget.

Dan bagian terbaiknya? Seluruh porsi itu cuma 25.000 Rupiah (sekitar $1.60 USD). Susah cari harga sebagus itu. Inilah alasan aku suka makan di tempat-tempat lokal.

Kotak takeaway berisi Udang dengan nasi, udang goreng, dan mi

Daya Tarik Gang-Gang di Malam Hari

Begitu malam tiba, aku memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri gang-gang sempit di belakang jalan utama yang jarang dilalui orang.

Nyaris tidak ada siapa pun di sana. Agak sedikit menyeramkan, tapi ada sesuatu yang benar-benar memikat dari jalanan yang sunyi dan kasar ini, entah kenapa menarikku masuk. Aku cuma menikmati suasana kota yang mentah dan apa adanya. Satu lagi hari yang luar biasa!

Gang sempit yang sunyi, diterangi lampu-lampu yang tersebar di malam hari

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan