30 Agustus: Pagi Paling Malas Sepanjang Masa
30 Agustus.
Aku sudah tinggal di Ambon, Maluku selama beberapa hari terakhir, dan hari ini jelas menjadi hari paling malas yang pernah aku jalani di sini.
Aku benar-benar baru bangun dari tempat tidur menjelang siang. Aku sempat terbangun sekitar jam 10 pagi, tapi cuma rebahan sambil dengerin musik dan akhirnya tertidur lagi. Aku tahu aku benar-benar bermalas-malasan, tapi ya sudah, aku nggak bisa menahan diri, jadi sudah jam 12 siang waktu aku akhirnya benar-benar memulai hariku.
Begitu jam menunjukkan tengah hari, aku memaksa diri keluar untuk mencari makan. Akhirnya aku makan Soto Ayam di warung kaki lima tepat di tikungan dekat penginapan.

Bergelut dengan Motivasi dan Jalan Sore
Setelah kembali ke hotel, aku menyempatkan diri belajar—rutinitas yang belakangan ini coba aku jaga. Karena sedang berada di Indonesia, aku benar-benar ingin bisa berbicara bahasa Indonesia meski cuma sedikit, jadi aku terus belajar dari buku.
Tapi jujur saja, motivasiku hari ini benar-benar naik turun tak karuan. Aku terus berpikir, "Ini gawat," dan berusaha mencari cara mengendalikan semangat sambil duduk di meja belajar. Aku pun terjebak dalam siklus belajar, tidur siang, belajar lagi, sampai akhirnya sore tiba, dan aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar keluar.
Merasakan Langsung "Kota Musik"
Sambil berjalan-jalan, aku tanpa sengaja bertemu sekumpulan orang yang semuanya mengenakan pakaian hitam. Aku bertanya ada apa, dan mereka bilang sedang berlatih lagu untuk gereja di dekat situ.
Sekitar 20 orang berkumpul dan mulai bernyanyi a cappella, dan wow... mereka benar-benar luar biasa. Itu sungguh menyentuh dan mengingatkanku persis kenapa Ambon dikenal sebagai "Kota Musik."

Di kota ini, musik benar-benar bisa terdengar di mana-mana. Sudah biasa banget melihat anak-anak asyik memainkan ukulele atau menabuh alat musik tradisional kecil bernama "tifa." Kalau kamu jalan keluar, musik terus mengalun sampai larut malam, dan semua orang begitu saja larut dalam suasananya.
Merasakan suasana itu secara langsung terasa magis, dan benar-benar menegaskan kembali reputasi musikal kota ini di mataku. Setelah menikmati suasana luar biasa itu, aku makan malam di warung langgananku dan menutup hari yang super santai ini.

