Pagi yang Lesu di 31 Agustus
31 Agustus. Terhitung hari ini, aku hanya punya tiga hari lagi di kota ini.
Aku bangun dengan tubuh terasa cukup lesu hari ini. Kupikir punya waktu luang tanpa batas itu akan menyenangkan, tapi ternyata malah membuatku sedikit murung dan malas. Terlalu mudah terjerumus ke mode malas total kalau tidak punya jadwal yang ketat.
Berburu Jajanan Kaki Lima
Sekitar siang hari, aku akhirnya memaksa diri keluar untuk makan siang.
Aku memutuskan untuk mencoba hal baru dan berjalan ke warung jajanan yang sedikit lebih jauh dari tempat biasanya. Warung ini dijalankan oleh duo ibu-anak yang ramah. Sang anak sedang tidak ada karena hari itu Senin, jadi aku meminta sang ibu membuatkan menu rekomendasinya. Kami mengobrol dengan seru, dan ternyata itu menjadi penambah suasana hati yang sempurna.

Melarikan Diri dari Jebakan Hotel
Setelah makan siang, aku langsung menuju sebuah kafe.
Jujur saja, mencoba bekerja di kamar hotel itu adalah jebakan. Kamu bisa tidur siang kapan pun mau, memutar musik sekeras yang kamu suka—terlalu bebas. Kalau aku tidak memaksa diri masuk ke lingkungan kafe, aku benar-benar kehilangan kendali atas fokusku.
Aku akhirnya bertahan di kafe itu sekitar lima jam. Cukup banyak pekerjaan yang selesai, tapi tepat di bagian akhir, perutku mulai keroncongan dan aku menyerah—memesan ayam goreng. Rasanya sangat mirip dengan karaage tulang rawan (nankotsu) khas Jepang. Mengejutkannya, harganya hanya sekitar 200 sampai 250 yen (sekitar $1.30 hingga $1.60 USD). Cukup murah untuk pesanan di kafe!

Kejar-kejaran di Detik Terakhir
Masih ada beberapa tugas yang menungguku di hotel, jadi aku membeli makan malam dari warung jajanan langgananku dalam perjalanan pulang.
Begitu sampai di kamar, aku mengisi tenaga dan menuntaskan sisa pekerjaanku. Ini kebiasaan buruk, tapi aku selalu berakhir kalang kabut ketika tenggat waktu mulai mendekat....

Aku sudah menginap di hotel ini sekitar 10 malam, dan itu mengajarkanku pelajaran berharga. Lingkungan yang terlalu santai justru membuatku malas. Aku menyadari bahwa untuk benar-benar merasa sedang bergerak maju dalam hidup, aku juga perlu terus menggerakkan tubuhku secara fisik.
