Awal yang Berat dan Mi Penawar Hati Terbaik
1 September. Hari terakhirku di Ambon.
Aku bangun dengan perasaan benar-benar buruk. Alasannya? Sepenuhnya salahku sendiri. Aku begadang sampai jam 4 pagi, scrolling ponsel tanpa tujuan.
Aku memaksa diri bangun dari tempat tidur tepat sebelum jam 7 pagi dan berangkat lebih awal untuk mengejar sebuah kafe yang buka jam 8. Tapi jam 7 pagi, Ambon masih tertidur lelap. Tidak ada minimarket waralaba yang buka—hanya beberapa toko kecil milik keluarga.
Setelah berjalan sekitar 10 menit dari hotel, aku menemukan tempat yang menjual mi lokal ala Mie Bakso. Ini adalah hidangan yang membuatku jatuh cinta sejak di Manado, rasanya mengejutkan mirip dengan ramen Tonkotsu. Meski aku merasa seperti zombie, aku tetap harus mencobanya. Mi yang tebal dan kuahnya yang kaya adalah persis yang dibutuhkan tubuhku yang kelelahan. Enak sekali.

Realitas di Balik Para Penyapu Jalanan
Dalam perjalanan menuju kafe, aku melihat sebuah kendaraan penyapu jalan sedang berkeliling.
Indonesia punya hubungan yang menarik dengan soal buang sampah sembarangan. Orang-orang cenderung membuang barang begitu saja ke tanah tanpa banyak ragu, tapi ini bukan sekadar soal kurangnya moral. Ini sebenarnya bagian dari siklus sosial yang tak terucapkan: orang membuang sampah, yang kemudian menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang yang membersihkannya.
Ini adalah pola pikir yang sangat berbeda dari yang biasa kualami di Jepang, tapi menyaksikannya secara langsung memberiku gambaran menarik tentang bagaimana masyarakat ini berjalan.

Bertemu Kembali dengan Teman Pertamaku di Ambon
Sekitar pukul 8:10 pagi, aku akhirnya tiba di kafe dan bertemu dengan Brury—teman pertama yang kukenal saat tiba di Ambon.
Begitu bertemu, dia langsung memberiku beberapa permen karet pelega tenggorokan. Dia orang yang tulus dan ceria, dengan senyum yang begitu menular. Dia bahkan bisa sedikit berbahasa Jepang! Menghabiskan waktu dengannya jujur menjadi salah satu momen terbaik dalam perjalananku.

Kami bersantai hingga sekitar jam 2 siang. Setelah berpamitan, tubuhku masih terasa pegal karena kurang tidur, jadi aku makan sebentar dan beristirahat untuk rencana sorenya.

Berburu Tifa, Gendang Tradisional
Seminggu yang lalu, aku menyebutkan pada seorang teman lokal bahwa aku sangat ingin membeli Tifa sebelum pulang. Karena orang-orang di sini luar biasa, temanku bahkan mengatur kunjungan ke bengkel seorang pengrajin lokal yang terkenal untukku!
Di bengkel itu, mereka memperlihatkan Totobuang, alat musik kecil menyerupai gong yang dimainkan dengan tongkat kayu. Secara tradisional, Totobuang dan Tifa dimainkan bersama-sama.

Aku bahkan sempat menyaksikan para pengrajin melubangi batang kayu besar dan mengecat gendang Tifa berukuran besar. Menyaksikan keahlian semacam itu dari dekat selalu menginspirasi.


Aku berharap bisa membeli Tifa kecil sebagai oleh-oleh, tapi sayangnya, stoknya benar-benar habis. Aku sempat kecewa, tapi kemudian hal yang paling tak terduga terjadi.
Sang pengrajin memintaku menunggu, pergi ke rumahnya sendiri, lalu kembali membawa Tifa pribadinya untuk diberikan padaku sebagai hadiah! Dia tidak mau menerima uang sepeser pun. Dia benar-benar tidak mengharapkan imbalan apa pun. Kemurahan hati yang tulus dan tanpa pamrih dari orang-orang di sini benar-benar membuatku tak berkata-kata.
Aku Akan Kembali, Ambon
Untuk makan malam terakhirku, aku menyantap sepiring Cap Cai dan menghabiskan waktu merenungkan dua minggu terakhir.

Jujur saja, di hari-hari pertama di sini, aku sempat berpikir, "Duh, dua minggu di Ambon kayaknya kelamaan."
Tapi sekarang, duduk di sini? Rasanya berat untuk pergi. Aku ingin tinggal lebih lama. Kebaikan dan kehangatan orang-orang di sini sudah sepenuhnya mencuri hatiku.
Terima kasih, Ambon, untuk segalanya. Aku pasti akan kembali.
