← Cerita
Diary·Indonesia·2 September 2026·2 menit baca

Perjalanan Feri dari Ambon ke Baubau: Kuliner Lokal dan Pertemuan di Angin Laut

Selamat Tinggal Ambon, Terima Kasih untuk Semuanya

Hari itu akhirnya tiba. Hari ini, aku mengakhiri waktuku di Ambon dan naik feri menuju Baubau.

Kalau dipikir-pikir, dua minggu terakhir di Ambon ini luar biasa. Aku menginap di tempat bernama STORI HOTEL. Jujur saja, Wi-Fi-nya tidak terlalu bagus, tapi stafnya begitu ramah dan luar biasa sampai terasa seperti rumah kedua.

Dua ransel yang sudah dikemas, siap berangkat dari hotel di Ambon

Semangkuk Terakhir di Warung Favoritku

Sebelum menuju pelabuhan, aku harus mampir ke warung jajanan favoritku untuk makan sebentar. Aku sudah makan di sini lebih dari 10 kali! Aku memesan menu andalanku, Soto Ayam, dan memanjakan diri dengan menambahkan ikan sebagai lauk tambahan. Seperti biasa, rasanya pas sekali.

Semangkuk Soto Ayam dengan nasi putih di warung jajanan lokal

Naik Feri Menuju Baubau

Tiba di terminal feri selalu membuatku sedikit cemas. Aku selalu bertanya-tanya, "Apa aku sudah di gerbang yang benar? Apa semuanya baik-baik saja?" Tapi untungnya, proses naik ke kapal berjalan lancar tanpa hambatan.

Naik ke feri menuju Baubau di dermaga pelabuhan

Setelah aku duduk nyaman, perutku mulai keroncongan lagi. Aku membeli Pop Mie dari kios seharga kurang dari 20.000 rupiah (sekitar $1.30 USD). Jujur saja, rasanya tetap tidak mengalahkan mi instan Jepang, tapi ada sesuatu yang magis saat memakannya di atas kapal. Tips dariku: sebaiknya kamu memang menyetok camilan dulu sebelum naik feri seperti ini.

Semangkuk Pop Mie dengan pemandangan geladak feri di latar belakang

Udara Segar dan Makan Malam di Geladak

Aku melangkah keluar ke geladak untuk menghirup udara segar. Tempat ini adalah spot nongkrong terbaik—orang-orang merokok, mengobrol, dan sekadar bersantai. Merasakan angin laut dan menikmati pemandangan adalah persis yang kubutuhkan untuk menyegarkan pikiran.

Penumpang bersantai di geladak luar saat senja dalam perjalanan feri

Lalu, waktunya makan malam! Kotak bento di feri bisa jadi untung-untungan, tapi makanan malam ini ternyata cukup enak. Isinya ada sayur dan ayam. Bumbunya kaya dan gurih, cocok sekali disantap dengan nasi.

Kotak bento makan malam di feri berisi nasi, sayur, dan ayam

Merajut Kedekatan Lewat Bahasa Lokal

Sambil makan, seorang pria lokal Indonesia di sebelahku menepuk kursi dan berkata, "Hei, duduk sini." Kami pun akhirnya mengobrol sebentar.

Foto bersama para penumpang lokal yang ramah di atas feri

Aku selalu takjub betapa bisa berbicara sedikit saja bahasa Indonesia langsung menjembatani jarak dan mendekatkan diri dengan orang-orang. Kadang, saat aku lelah atau kurang fit, hal itu terlihat di wajahku dan aku menutup diri. Tapi momen seperti ini mengingatkanku betapa pentingnya tetap terbuka dan menghargai hubungan yang sekilas ini.

Secara keseluruhan, ini adalah hari yang benar-benar menyenangkan dan memuaskan di tengah perjalanan!

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan