← Cerita
Diary·Indonesia·28 Agustus 2026·2 menit baca

Tersesat di Kota Musik: Jajanan Kaki Lima, Sepak Bola Tanpa Alas Kaki, dan Suasana Ukulele di Ambon

Masakan Rumahan ala Ibu, Gaya Kaki Lima

28 Agustus. Pagi ini aku memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda dan mampir ke warung lokal lain untuk sarapan. Biasanya aku setia dengan tempat langgananku, tapi kadang kita memang butuh sedikit variasi.

Hal yang menarik dari jajanan kaki lima Indonesia adalah rasanya benar-benar bergantung pada "Ibu" yang mengelola warung tersebut. Bahkan hidangan sederhana seperti Nasi Goreng bisa punya rasa yang sangat berbeda dari satu gerobak ke gerobak lain. Hari ini aku memilih Sayur—asin, pedas, dan kekentalannya pas banget. Aku memadukannya dengan Ayam dan Tempeh. Totalnya? 27.000 Rupiah (sekitar $1.70 USD). Murah, enak, dan persis yang aku butuhkan untuk memulai hari.

Sepiring sarapan berisi nasi, ayam, tempe, dan sayur tumis sebagai pelengkap

Bom Gula dan Anak-Anak Berbakat Tanpa Alas Kaki

Setelah sarapan, aku jalan-jalan ke taman langgananku dan melihat ada lapangan sepak bola yang baru saja dipasang. Penasaran, aku bertanya ke pedagang di dekat situ ada acara apa. Mereka bilang ada acara yang akan dimulai jam 3 sore. Karena masih ada beberapa jam sebelum itu, aku putuskan untuk kembali ke hotel sebentar.

Lapangan olahraga beraspal yang kosong, disiapkan untuk acara sore hari

Tenda-tenda dan panggung yang sedang disiapkan untuk acara sore hari

Tapi sebelum itu, jajan dulu. Aku beli waffle dari kios di taman seharga 10.000 Rupiah (sekitar $0.65 USD), lalu menambahkannya dengan cokelat dan pisang jadi total 15.000 Rupiah (sekitar $0.95 USD). Begitu digigit—wow. Ini benar-benar bom gula, manisnya pas banget "plus satu tingkat lebih". Tapi jujur saja, itu memang dorongan energi yang persis dibutuhkan kakiku yang sudah lelah.

Papan bertuliskan "Soft Waffle" di kios makanan taman

Waffle dengan topping pisang dan saus cokelat

Saat aku kembali ke taman sore harinya, aku ikut nimbrung main sepak bola singkat dengan anak-anak lokal. Sumpah, mereka jago banget. Melihat mereka memamerkan gerakan-gerakan luar biasa tanpa alas kaki sama sekali bikin aku merasa rendah hati.

Anak-anak lokal bermain sepak bola tanpa alas kaki dengan bola merah muda di depan tembok yang sudah lapuk

Denyut Nadi Kota Musik

Sambil berkeliling, aku tanpa sengaja menemukan sekelompok bapak-bapak yang mengajari anak-anak mereka bermain ukulele. Mereka menjelaskan bahwa mereka sedang berlatih untuk pertunjukan besar pada tanggal 7 September untuk merayakan hari jadi kota Ambon. Saat itulah aku benar-benar mengerti kenapa Ambon resmi dijuluki "Kota Musik."

Foto bersama anak-anak lokal dan para ayah mereka yang memegang ukulele

Untuk makan malam, aku berjalan sekitar 10 menit dari hotel menuju rumah makan lokal untuk mencoba Sop Iga Nasi. Kuahnya kaya rasa, penuh kolagen, dan iganya dimasak sampai empuk banget, langsung meleleh di mulut. Mencampurkan kuah gurih itu dengan nasi benar-benar mengubah segalanya. Enak banget, luar biasa.

Semangkuk Sop Iga di samping sepiring nasi dengan bawang goreng

Malam harinya, aku kembali lagi ke taman, dan tempat itu sudah berubah jadi lantai dansa raksasa di luar ruangan. Bahkan kafe-kafe kecil berukuran 10 sampai 15 meter pun dipenuhi musik yang menggelegar dan orang-orang yang berdansa. Itu membuatku sadar bahwa Ambon—dan sejujurnya, Indonesia secara keseluruhan—adalah tempat yang benar-benar bernapas dengan musik dan tarian. Kamu nggak bisa nggak tersenyum saat dikelilingi energi seperti itu.

Kerumunan orang berkumpul di bawah tenda-tenda dalam acara malam di taman

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan