← Cerita
Diary·Indonesia·22 Agustus 2026·2 menit baca

Catatan Perjalanan Ambon: Keindahan Tidak Melakukan Apa-Apa & Malam Kota Pelabuhan yang Moody

Pagi yang Aneh & Rutinitas Makanku Sehari-hari

22 Agustus dimulai dengan sedikit kejutan. Aku membuka pintu di pagi hari dan... yap, seekor kecoa mati menyambutku persis di depan pintu. Cara yang oke banget untuk memulai hari, kan? (tertawa)

Seekor kecoa mati di lantai keramik lorong di luar kamar hotelku

Aku mengabaikannya dan berangkat ke warung kaki lima langgananku untuk sarapan. Aku memesan Nasi Ayam, yang tidak pernah mengecewakan. Rasanya menenangkan, enak, dan persis yang kubutuhkan untuk memulai hariku.

Seporsi Nasi Ayam, ayam goreng dan nasi dengan sambal sebagai pelengkap

Setelah itu, aku mampir ke gerobak minuman dekat hotel untuk membeli jus mangga segar. Sekadar bersantai dan menikmati waktu tanpa terburu-buru.

Spanduk gerobak minuman yang mengiklankan jus mangga Es Gamang UHT

Untuk makan siang, aku langsung kembali ke warung favoritku dan memesan Sarumento lagi—mi telur yang persis sama dengan yang kumakan kemarin. Jangan menghakimiku, memang seenak itu!

Semangkuk Sarumento, mi instan dengan topping telur dan bawang goreng

Berburu Hasil Laut di Kota Pelabuhan yang Moody

Ketika malam tiba, banyak warung makan berjejer persis di luar hotelku, tapi aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Jadi, aku berjalan kaki menuju Pasar Ikan, area kota pelabuhan, untuk berburu ikan segar lokal.

Jalanan yang temaram dan moody di malam hari dekat area pelabuhan Pasar Ikan di Ambon

Suasana di pelabuhan pada malam hari sangat unik. Temaram, agak berat, dan punya nuansa gritty dan moody yang benar-benar kusukai. Kalau kamu pernah berkunjung ke Ambon, aku sangat menyarankan untuk mampir ke area ini setelah gelap—ini pengalaman yang benar-benar otentik.

Aku menemukan warung kecil dan memesan ikan goreng utuh, disajikan sederhana dengan sambal di sampingnya.

Ikan goreng utuh disajikan dengan sambal, dibungkus kertas

Menemukan Keajaiban dalam Hal-Hal Biasa

Kalau dipikir-pikir, aku tidak melakukan apa pun yang gila atau penuh petualangan hari ini. Ini hanyalah hari yang benar-benar biasa saja.

Tapi jujur saja, hari-hari "biasa" seperti itu punya keajaiban tersendiri. Ketika kamu tidak terburu-buru dari satu tempat wisata ke tempat lain, kamu mulai memperhatikan hal-hal kecil—aroma angin, hujan rintik yang tiba-tiba turun, atau rasanya berjalan menyusuri jalan yang baru.

Ini membuatku sadar betapa pentingnya menghargai hal-hal yang biasa. Sekadar punya ruang di pikiran untuk menikmati perubahan-perubahan kecil di sekelilingku terasa begitu berharga. Besok (23 Agustus), aku berencana untuk terus menjelajahi lingkungan sekitar dengan ritmeku sendiri. Mari kita lihat ke mana hari itu akan membawaku!

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan