Tidak Ada Kapal? Tidak Masalah!
23 Agustus. Hari ini kembali jadi hari yang super santai tanpa rencana pasti.
Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa aku betah lama sekali di Ambon. Ternyata, kapal berikutnya baru tiba tanggal 2 September!
Sempat terpikir untuk island-hopping, tapi berurusan dengan kapal feri selalu memakan waktu dan bikin ribet. Jadi, aku pikir, kenapa tidak tinggal saja di sini dan benar-benar mengenal pulau ini lebih dalam?
Untuk memulai, aku mengecek rute angkot lokal menuju Tulehu, sebuah kota di sisi timur pulau. Terminalnya persis dekat pelabuhan, dan katanya perjalanannya sekitar 40 menit. Aku pasti akan ke sana kalau ada waktu luang.


Suasana Baik di World Peace Gong
Selanjutnya, aku mengunjungi World Peace Gong.

Ini bukan sekadar gong biasa. Desainnya menampilkan bendera dari seluruh dunia, dan tepat di bagian tengahnya terdapat simbol-simbol yang mewakili berbagai agama seperti Yahudi, Shinto, dan Islam. Rasanya begitu damai dan inklusif!

Aku juga suka motif bergaya Timor yang mengelilingi bendera-bendera itu. Melihat simbol agama dan budaya digunakan seperti ini demi perdamaian benar-benar menyegarkan.

Oh, dan di dekat situ, aku melihat pohon aneh. Bentuknya seperti pohon palem tapi menumbuhkan sesuatu yang mirip pisang? Sampai sekarang masih belum tahu itu apa...

Toko Buku Tutup & Speaker di Halte Bus
Aku juga sempat mencoba mengunjungi toko buku untuk mencari buku belajar bahasa Maluku, tapi karena hari Minggu, tokonya tutup. Aku harus coba lagi besok!

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sesuatu yang kocak: sistem sound system musik lengkap terpasang langsung di sebuah halte bus! Kamu tidak akan pernah melihat itu di Jepang (tertawa). Ini benar-benar mencerminkan "Kota Musik"—musik benar-benar tertanam dalam infrastruktur keseharian mereka.

Sup Kacang Merah & Warung Lokal Favoritku
Setelah sampai kembali, aku menikmati sup kacang merah yang luar biasa. Serius, enak banget.

Untuk makan malam, aku kembali ke warung yang sekarang sudah jadi langgananku. Aku memesan menu biasa: Nasi dan Ayam. Aku tidak membawa garpu atau sendok, tapi pelayannya dengan cepat menyediakannya untukku. Baik banget mereka!
Awalnya aku mulai datang ke sana hanya karena dekat, tapi makanannya memang benar-benar enak, dan merasakan kebaikan warga lokal seperti itu membuatku merasa sangat beruntung.

