← Cerita
Diary·Indonesia·23 Agustus 2026·2 menit baca

Terjebak di Ambon (Tapi Menikmatinya): Gong Perdamaian & Konser di Halte Bus!

Tidak Ada Kapal? Tidak Masalah!

23 Agustus. Hari ini kembali jadi hari yang super santai tanpa rencana pasti.

Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa aku betah lama sekali di Ambon. Ternyata, kapal berikutnya baru tiba tanggal 2 September!

Sempat terpikir untuk island-hopping, tapi berurusan dengan kapal feri selalu memakan waktu dan bikin ribet. Jadi, aku pikir, kenapa tidak tinggal saja di sini dan benar-benar mengenal pulau ini lebih dalam?

Untuk memulai, aku mengecek rute angkot lokal menuju Tulehu, sebuah kota di sisi timur pulau. Terminalnya persis dekat pelabuhan, dan katanya perjalanannya sekitar 40 menit. Aku pasti akan ke sana kalau ada waktu luang.

Jalan pasar yang ramai dekat pelabuhan dengan motor-motor dan pegunungan di kejauhan

Angkot merah berjejer di terminal dekat pelabuhan

Suasana Baik di World Peace Gong

Selanjutnya, aku mengunjungi World Peace Gong.

Pemandangan luas monumen World Peace Gong di bawah kanopi melingkarnya

Ini bukan sekadar gong biasa. Desainnya menampilkan bendera dari seluruh dunia, dan tepat di bagian tengahnya terdapat simbol-simbol yang mewakili berbagai agama seperti Yahudi, Shinto, dan Islam. Rasanya begitu damai dan inklusif!

Tampilan dekat lempengan World Peace Gong yang memperlihatkan bendera dunia dan simbol-simbol agama mengelilingi sebuah globe

Aku juga suka motif bergaya Timor yang mengelilingi bendera-bendera itu. Melihat simbol agama dan budaya digunakan seperti ini demi perdamaian benar-benar menyegarkan.

Monumen hitam-putih dengan motif bergaya Timor di dekat World Peace Gong

Oh, dan di dekat situ, aku melihat pohon aneh. Bentuknya seperti pohon palem tapi menumbuhkan sesuatu yang mirip pisang? Sampai sekarang masih belum tahu itu apa...

Pohon mirip palem dengan gerombolan berbentuk kerucut yang tidak biasa tumbuh dari cabang-cabangnya

Toko Buku Tutup & Speaker di Halte Bus

Aku juga sempat mencoba mengunjungi toko buku untuk mencari buku belajar bahasa Maluku, tapi karena hari Minggu, tokonya tutup. Aku harus coba lagi besok!

Gerbang besi yang tertutup di toko buku bernama Toko Buku Valentine

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sesuatu yang kocak: sistem sound system musik lengkap terpasang langsung di sebuah halte bus! Kamu tidak akan pernah melihat itu di Jepang (tertawa). Ini benar-benar mencerminkan "Kota Musik"—musik benar-benar tertanam dalam infrastruktur keseharian mereka.

Speaker besar terpasang di dalam halte bus

Sup Kacang Merah & Warung Lokal Favoritku

Setelah sampai kembali, aku menikmati sup kacang merah yang luar biasa. Serius, enak banget.

Semangkuk sup kacang merah dengan ayam dan sayuran

Untuk makan malam, aku kembali ke warung yang sekarang sudah jadi langgananku. Aku memesan menu biasa: Nasi dan Ayam. Aku tidak membawa garpu atau sendok, tapi pelayannya dengan cepat menyediakannya untukku. Baik banget mereka!

Awalnya aku mulai datang ke sana hanya karena dekat, tapi makanannya memang benar-benar enak, dan merasakan kebaikan warga lokal seperti itu membuatku merasa sangat beruntung.

Kotak takeaway berisi Nasi Ayam, nasi dan ayam goreng dengan mentimun

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan