Sarapan 80 Sen dan Culture Shock Kecil-Kecilan
Aku memulai pagiku (21 Agustus) dengan pergi ke warung kaki lima langgananku.
Aku memesan hidangan lokal yang mereka sebut Sarumento, yang pada dasarnya adalah Indomie (mi instan ikonik Indonesia) dicampur telur. Sangat sederhana tapi pas banget dinikmati di pagi hari! Bagian terbaiknya? Harganya cuma 12.000 rupiah (sekitar $0.80 USD). Murah dan enak—kombinasi favoritku.

Sambil makan, aku memperhatikan asbak berbentuk aneh di atas meja. Ini membuatku sadar bahwa ketika kamu melintasi batas negara dan dunia berubah, bahkan desain asbak sehari-hari pun ikut berubah. Aku suka menemukan detail-detail kecil seperti itu.

Tur Museum Pribadi
Setelah sarapan, aku berjalan kaki sekitar 5-6 kilometer ke arah barat daya pusat kota Ambon untuk mengunjungi sebuah museum lokal.

Menurut Google Maps, hanya ada satu atau dua museum di seluruh area ini. Ketika aku masuk ke dalam... kejutan! Tidak ada satu orang pun di sana (tertawa).
Punya seluruh museum untuk diriku sendiri terasa seperti tur VIP. Mereka punya koleksi besar kostum tradisional—kemungkinan busana pengantin—dari Maluku, Sulawesi, Jawa, dan daerah-daerah lain. Meluangkan waktu untuk menyelami sejarah dan budaya lokal selalu menambah lapisan yang kaya dalam perjalananku.


Di halaman luar, aku juga menemukan sebuah monumen yang memperingati sejarah lokal—pengingat yang menyenangkan bahwa budaya di sini jauh melampaui apa yang ada di dalam etalase pameran.

Buah Pedas dan Realita di Balik Pantai yang Indah
Untuk makan siang, aku membeli Bakso dari warung terdekat. Aku mencoba versi unik bernama Bakso Telur, yang tampilannya seperti rangkaian telur dan bakso, renyah di luar dan sangat enak!


Setelah itu, aku menuju sebuah tempat di tepi laut yang direkomendasikan warga lokal.

Di perjalanan, aku mampir ke lapak buah dan membeli sesuatu bernama Rujak. Ini campuran buah-buahan segar yang benar-benar berlumur saus kacang manis dan pedas.
Aku menggigitnya dan... wow. Rasanya manis, lalu tiba-tiba pedas, dan otakku benar-benar tidak bisa memproses kombinasi rasa itu! Jujur saja, rasanya sedikit terlalu intens untuk lidahku, dan aku tidak bisa menghabiskannya.

Aku mengabaikannya dan akhirnya sampai di pantai, yang benar-benar sepi—hidden gem sejati.
Namun, saat aku berjalan lebih jauh menuju sebuah ceruk berbatu, tiba-tiba semuanya jadi gelap gulita, padahal masih siang bolong. Ada sampah berserakan di mana-mana, dan jujur saja suasananya terasa creepy, seperti di film horor, seolah ada seseorang yang bersembunyi di sana. Melihat sampah di tengah pemandangan alam yang begitu indah menjadi pengingat keras bahwa kita harus selalu menjaga dunia ini agar tempat-tempat indah seperti ini tidak kehilangan pesonanya.


Es Krim Tradisional dan Makan Malam yang Berat
Dalam perjalanan pulang, aku bertemu seorang bapak yang sangat ceria yang menjual Es Puter tradisional (es krim santan) dari gerobaknya. Kami berfoto bersama dengan seru, dan aku membeli satu scoop hanya seharga 3.000 rupiah (sekitar $0.20 USD). Rasa santannya kuat dan benar-benar unik.


Untuk makan malam, aku kembali ke tempat favoritku dan memesan Nasi Geprek.
Setelah seharian penuh berjalan kaki, kamu benar-benar butuh hidangan daging yang berat dan mengenyangkan untuk menutup hari dengan sempurna. Perut dan hatiku benar-benar penuh!

