← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Malam Berangin, Perjalanan ke Malang, dan Perjumpaan di Jalan

Pagi yang Berangin

31 Januari, di tempat berkemah. Hujan tidak turun, tapi angin bertiup begitu kencang sepanjang malam hingga bagian atas tendaku terbang. Untungnya, ia jatuh tidak jauh dan aku bisa mengambilnya kembali.

Setelah berkemas, aku berangkat menuju Malang. Sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, aku langsung menyadari bagaimana lalu lintas semakin padat saat aku mendekat.

Masjid yang Tak Terduga

Dalam perjalanan, aku menjumpai sebuah masjid bergaya Tionghoa. Bentuknya tidak biasa dan menarik perhatianku, jadi aku berhenti untuk melihatnya. Tulisan pada bangunan itu menggunakan aksara Tionghoa tradisional.

Tidak lama kemudian, aku berhenti untuk sarapan. Seperti biasa, Bakso menjadi pilihanku. Menikmati sup panas ini di pinggir jalan sudah menjadi bagian dari rutinitasku.

Jeda Kecil, Kebahagiaan Kecil

Kemudian, aku beristirahat lagi dan mencoba minuman cappuccino jelly seharga 6.000 rupiah, kurang dari satu dolar AS. Minuman itu memberiku dorongan energi yang cepat. Tepat di sebelahnya ada minuman jenis yang sama, tapi rasa stroberi, jadi aku memesannya juga.

Jeda-jeda kecil ini, sederhana seperti apa adanya, membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.

Tiba di Malang

Akhirnya, aku tiba di Malang dan singgah di sebuah kafe di dalam kampus, UB Café. Di sana aku bertemu seorang perempuan lokal yang juga seorang pesepeda pelancong. Ia bahkan telah memulai komunitas outdoor-nya sendiri. Mendengarkannya bercerita, aku bisa merasakan kegembiraan dan kebebasan dalam hidupnya. Suatu hari nanti, aku berharap kami bisa bepergian bersama.

Sebelum menuju tuan rumah WarmShowers-ku untuk bermalam, aku berhenti untuk makan. Aku memesan Soto Ayam, dan itu adalah salah satu yang terbaik yang pernah kurasakan. Bumbunya memberikan rasa yang begitu membuat ketagihan hingga aku tidak berhenti sampai mangkuknya kosong.

Bertemu Adi, Tuan Rumahku

Ketika aku tiba di rumah tuan rumahku, aku merasakan kelegaan sekaligus kelelahan. Sepedaku telah membawaku dengan baik, tapi ia pun tampak lelah setelah perjalanan panjang itu.

Adi, tuan rumah WarmShowers-ku, juga seorang pesepeda. Impiannya adalah suatu hari nanti bisa berkeliling Eropa dengan sepeda. Untuk saat ini, ia bekerja keras untuk menabung demi tujuan itu. Salah satu pekerjaannya adalah menjual pancake—5.000 rupiah per buah, sederhana dan enak.

Karena cuaca panas dan kelelahanku, aku pun tertidur sejenak tak lama setelah tiba.

Jalan-Jalan Sore dan Penemuan Terakhir

Kemudian, aku menjelajahi sebuah kafe di dekat sana. Indonesia ternyata memiliki begitu banyak kolaborasi dengan anime Jepang. Staf di sana memberitahuku bahwa Jujutsu Kaisen dan Attack on Titan sangat populer di sini.

Sebelum kembali, aku singgah di sebuah minimarket dan membeli semacam lem super seharga sekitar 100 yen. Aku tidak yakin apakah lem itu bisa diandalkan, tapi aku akan mencobanya untuk memperbaiki mount GoPro-ku yang rusak.

Hari itu terasa panjang, dipenuhi dengan angin kencang, lalu lintas kota, dan wajah-wajah baru. Namun pada akhirnya, kebaikan orang-orang dan momen-momen kecil penemuan itulah yang membuat perjalanan ke Malang begitu tak terlupakan.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan