Sapaan Pagi
3 Februari, Malang. Saat aku duduk di tempat biasa setelah bangun tidur, Anan langsung menyapa, "Selamat pagi!" Ada seseorang yang menyapaku di awal hari membuatku merasa hangat.
Tak lama kemudian, aku ditawari sebuah makanan penutup hijau yang misterius. Rasanya ternyata enak, meskipun tampilannya yang seperti jeli membuatku ragu pada awalnya.
Aku sempat berpikir mungkin akan menghabiskan seharian dengan tenang di rumah Adi, menghindari kafe-kafe. Tapi setelah beberapa jam, aku berubah pikiran. "Aku setidaknya harus berpamitan dengan staf yang biasa aku temui di Tomoro Café," pikirku.
Pertemuan di Sepanjang Jalan
Dalam perjalanan ke sana, aku singgah di sebuah warung makan untuk makan siang. Perempuan muda yang menjaga warung itu sangat cantik—salah satu pertemuan yang membuatku berpikir aku bisa saja betah tinggal lebih lama lagi di Indonesia. Meski begitu, aku tidak punya keberanian untuk meminta berfoto bersamanya. Sebagai gantinya, aku menyantap Soto Ayam yang kupesan dan melanjutkan perjalanan ke Tomoro Café.
Bahkan sebelum aku melangkah masuk, sang barista menyambutku dengan senyum ceria. Aku tinggal di sana selama sekitar satu jam, lalu naik ke lantai atas untuk menyampaikan satu hal terakhir: "Sampai jumpa lagi." Rasanya menyenangkan bisa pergi dengan perpisahan yang sederhana.
Menemukan Nasi Rowan
Dalam perjalanan pulang, aku melewati warung yang sama lagi dan melihat tulisan "Nasi Rowan" di papan namanya. Penasaran, aku memesannya. Ketika hidangan itu datang, aku menyadari bahwa itu mirip Soto Ayam tetapi menggunakan daging sapi, bukan ayam.
Rasanya lezat—begitu enak sampai aku tahu aku akan memesannya lagi jika suatu saat melihat Nasi Rowan di tempat lain. Penemuan sederhana ini terasa seperti hadiah dari perjalanan ini.
Foto yang Terlewat, Pelajaran yang Didapat
Sebelum pergi, akhirnya aku bertanya kepada perempuan muda di warung itu apakah aku boleh memotret. Ia setuju sambil tersenyum. Tapi kemudian, karena hambatan bahasa, ia mengira aku ingin foto diriku sendiri di depan warung. Ia dengan baik hati mengambil fotonya, tetapi aku tidak sempat mengatakan, "Aku ingin berfoto bersamamu."
Itu adalah momen kecil yang mengingatkanku bahwa aku masih punya banyak hal untuk dipelajari dalam mengekspresikan diri.
Malam Penuh Keramahan
Kembali di rumah, Anan segera menyeduhkan secangkir kopi untukku. Kemudian, Adi menyiapkan makan malam untuk semua orang.
Keramahan mereka yang tak pernah putus benar-benar menyentuh hatiku. Tindakan-tindakan kebaikan sehari-hari ini—sapaan di pagi hari, makanan yang disiapkan dengan penuh perhatian, secangkir kopi sederhana—mengajarkanku lebih banyak dari yang kuduga. Dari manusia, selalu ada begitu banyak hal untuk dipelajari.
