Bangun di Dekat Denmark

Pada 17 Maret, aku bangun di sebuah tempat berkemah sekitar 10 kilometer dari kota Denmark. Karena pagi itu sudah terasa hangat, aku membiarkan penutup peneduh tendaku terbuka, membiarkan udara bergerak bebas. Tidur dalam keadaan terbuka seperti itu terasa menyegarkan.
Di dalamnya, tenda ini kecil—dibeli di Decathlon, Thailand. Dengan tinggi 180 sentimeter, aku hampir tidak muat saat meluruskan kaki. Siapa pun yang lebih tinggi dariku pasti akan kesulitan tidur dengan nyaman.
Sarapan berupa sup sayur sederhana berbahan dasar tomat. Aku menikmatinya perlahan, membiarkan kehangatannya menyebar ke seluruh tubuh sebelum mengemasi perlengkapan dan bersiap untuk bersepeda.
Perjuangan Menanjak

Meskipun Denmark hanya berjarak 10 kilometer, separuh pertama perjalanan ini merupakan tantangan. Sekitar lima kilometer tanjakan curam menguji kekuatanku. Butuh hampir satu jam dengan kecepatan lambat untuk mencapai puncaknya.
Ketika akhirnya sampai, aku diberi hadiah berupa pemandangan yang menakjubkan. Lanskap terbentang luas, dan aku berdiri di sana selama sekitar sepuluh menit, hanya menatap keindahan di sekelilingku. Rasanya seperti hadiah setelah upaya mendaki.
Dari sana, jalan berubah menjadi turunan panjang. Angin yang menerpa wajahku dan kecepatan yang lembut membuat perjalanan terasa ringan, membawaku maju menuju perhentian berikutnya.
Tuan Rumah yang Dikelilingi Alam

Rumah tuan rumah muncul setelah turunan panjang itu. Yang langsung menarik perhatianku adalah pohon-pohon raksasa yang menjulang di sekeliling properti itu. Aku kehilangan hitungan berapa banyak jumlahnya, tetapi masing-masing tampak berdiri dengan gagah, menjulang tinggi ke langit. Pemandangan itu memenuhiku dengan kekaguman.
Di dalamnya, rumah itu sama menakjubkannya. Ruang tamu memiliki jendela besar yang membingkai taman di luar seperti sebuah lukisan. Tuan rumahku menjelaskan bahwa rumah itu dirancang dengan cermat, bahkan mempertimbangkan bagaimana cahaya akan mengalir ke dalam ruangan.
Taman itu sendiri terasa seperti dunianya sendiri—tertata, tenteram, dan selaras dengan alam. Melihatnya membuatku bermimpi suatu hari nanti bisa membangun ruang seperti itu untuk diriku sendiri.
Anggur, Hidangan Penutup, dan Waktu Bersama
Tak lama setelah aku tiba, tuan rumahku membuka sebotol anggur. Yang mengejutkanku, itu adalah anggur berkualitas tinggi seharga sekitar 10.000 yen. Rasanya lembut dan dalam, menghanyutkan segala lelah perjalanan.
Setelah itu, aku disuguhi hidangan penutup buatan tangan berbahan apel. Rasa manisnya sederhana, membiarkan cita rasa alami buah itu bersinar. Rasanya seperti hidangan yang disiapkan dengan perhatian dan kasih sayang.
Di kemudian hari itu, kami pergi bersama ke sebuah supermarket. Dalam perjalanan pulang, tuan rumahku membelikanku camilan—campuran kacang dan manisan buatan sendiri—sambil berkata, "Yang ini enak." Gestur-gestur kecil ini menghangatkan hatiku sama seperti anggur dan hidangan penutup yang istimewa itu.
