3 Malam yang Berlalu dalam Sekejap
Ini adalah hari aku akhirnya meninggalkan Adelaide. Jujur saja, 3 malam 4 hari itu berlalu begitu cepat. Ini benar-benar perjalanan yang intens dan penuh makna. Tanpa dukungan Kim dan keluarganya, aku tidak akan pernah bisa punya waktu yang seseru dan semenyenangkan ini. Aku benar-benar bersyukur.
Menuju Bandara Adelaide

Ini dia di Bandara Adelaide. Mereka bahkan mengantarku sampai ke sini dengan mobil. Bandara-bandara di Australia letaknya begitu dekat dengan kota-kota besar—jujur aku iri.

Lalu tibalah waktunya naik pesawat.
Pemandangan Aneh dari Jendela

Ada sesuatu yang benar-benar menarik yang kusadari dari jendela pesawat. Saat terbang dari Adelaide menuju Sydney, pada satu titik, tanah di bawah berubah menjadi hitam pekat. Awalnya kukira itu kebakaran hutan, atau mungkin sisa-sisa dari kebakaran hutan.
Tapi ternyata itu cuma hutan biasa. Meski begitu, aku tetap tidak bisa memahami bagaimana pohon-pohon bisa berbaris begitu lurus dan rapi seperti itu. Aku berusaha menerimanya, tapi tetap saja terasa tidak masuk akal bagiku.
Kembali di Sydney

Setelah sampai di rumah, aku membuka hadiah dari keluarga di Adelaide. Kaus kaki dan topi.
Kaus kakinya bermotif crumpet—roti bundar panggang yang biasa kamu temui di kafe-kafe itu. Enak banget dimakan dengan madu di atasnya. Aku dapat kaus kaki dengan motif itu.
Lalu topinya. Ada desain tim dari AFL (Australian Football League)—olahraga populer di Australia yang mirip-mirip dengan rugby.
Karena sekarang masih musim dingin di Jepang, hadiah seperti ini benar-benar membantu.
