← Cerita
Diary·Australia·11 April 2026·3 menit baca

Hari Terakhir di Australia: Mengucapkan Selamat Tinggal pada Rumah 5 Bulanku dan Kembali Pulang

Jam-Jam Terakhir: Mengunjungi Kebun Komunitas

Hari keberangkatan akhirnya tiba.

Meninggalkan tempat ini setelah lima bulan penuh dan mengucapkan selamat tinggal pada waktu yang telah kuhabiskan bersama Julie membuatku merasa sangat sedih. Di luar, sepedaku sudah dikemas rapat ke dalam kotaknya, sepenuhnya siap berangkat.

Sebelum berangkat, Julie mengajakku ke tempat di mana dia menjadi relawan. Tempatnya indah, seperti taman botani, tempat dia pergi dua kali seminggu dan sudah membantu di sana selama waktu yang lama. Aku memutuskan untuk meninggalkan tanaman dan daun bawang yang selama ini kubawa dalam perjalananku di sana.

Saat tanaman-tanaman itu terikat di bagian belakang sepedaku, aku selalu merasa sedikit bersalah, seolah aku memaksa mereka masuk ke ruang yang sempit hanya demi memuaskan egoku sendiri. Tapi di sini? Kurasa mereka akhirnya bisa menjalani "kisah sejati" mereka—bertunas dengan subur, tumbuh besar, dan pada akhirnya dimakan oleh seseorang.

Kami menghabiskan sekitar 20 hingga 25 menit berjalan-jalan mengelilingi kebun itu. Melihat begitu banyak ragam tanaman yang tumbuh di sana menciptakan waktu yang benar-benar damai dan menyenangkan.

Insting Berkelana yang Kembali

Berjalan melewati tempat ini, aku merasakan insting berkelanaku yang lama perlahan-lahan kembali. Aku mendapati diriku menoleh ke sekeliling sambil berpikir, "Kalau aku, pasti aku akan mendirikan tenda tepat di balik pepohonan lebat itu."

Ketika kamu bepergian dengan sepeda, kamu terus-menerus menilai sisi jalan, area hutan yang lebat, atau tempat istirahat, sambil berpikir, "Ini kelihatannya tempat yang bagus untuk berkemah," lalu memutuskan untuk berhenti. Rasanya seperti insting mentah untuk berkemah liar itu tiba-tiba terbangun kembali di dalam diriku.

Papan Kayu dan Santap Malam Terakhir

Setelah kembali ke rumah, aku bimbang harus berbuat apa dengan sebuah papan kayu bertuliskan "Have a nice day" yang kumiliki.

Itu adalah hadiah berharga yang kuterima di awal perjalananku, tetapi membawanya kembali ke Jepang akan mengharuskanku melalui deklarasi karantina yang ketat. Karena benda itu pada dasarnya hanyalah sepotong kayu alami yang diproses secara ringan, selalu ada risiko serangga bersembunyi di dalamnya. Kecuali itu produk komersial bersertifikat, membuktikan keamanannya cukup sulit, dan ada kemungkinan besar benda itu akan disita dan dimusnahkan oleh bea cukai.

Daripada membawanya pulang dengan kecemasan yang terus menghantui hanya untuk akhirnya kehilangannya, aku memutuskan untuk meninggalkannya di rumah Julie, tempat yang aman baginya.

Kemudian tibalah makan malam terakhirku di Australia—hidangan rumahan yang lezat berupa daging dan sayuran. Menyadari bahwa ini adalah santap malam terakhirku di sini membawa gelombang kesedihan, tapi aku menikmati setiap suapan dengan sepenuh hati.

Rasa Syukur untuk Julie dan Insiden di Bandara

Jika kupikirkan kembali, hatiku dipenuhi rasa syukur untuk Julie.

Membiarkan orang asing yang sama sekali tak dikenal tinggal di rumahmu selama lima bulan adalah situasi yang sangat tidak biasa, dan itu jelas bukan sesuatu yang kuanggap remeh. Aku sangat bersyukur atas kesempatan luar biasa untuk diterima dalam hidup dan rumahnya seperti itu.

Setelah itu, akhirnya tiba waktunya menuju bandara. Bagasiku yang sudah dikemas benar-benar besar—lebih tinggi dariku, padahal tinggiku lebih dari 180 cm (sekitar 6 kaki)!

Saat kutimbang di bandara Australia, beratnya lebih dari 30 kg. Normalnya, aku pasti akan dikenai biaya kelebihan bagasi yang gila-gilaan, sekitar 70.000 yen, tapi petugas bandara dengan baik hati memberiku keringanan besar dan memangkasnya menjadi hanya 20.000 yen. Krisis pun teratasi! Sekarang, akhirnya tiba waktunya untuk pulang.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan