← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Perpanjangan Visa, Prangko, dan Ikan Lele: Sehari di Yogyakarta

Perpanjangan Visa di Yogyakarta

20 Januari, Yogyakarta. Hari itu Senin, dan sekali lagi aku pergi ke kantor imigrasi untuk mencoba memperpanjang visaku. Kunjungan terakhirku, sistemnya sedang down, dan yang kubawa pulang hanyalah rasa frustrasi dan ketidakpastian.

Kali ini, semuanya berjalan lancar. Akhirnya, pengajuan perpanjangan visaku selesai. Sekarang aku hanya perlu menunggu persetujuannya. Karena ini pertama kalinya aku memperpanjang visa, aku tidak begitu yakin dengan prosesnya, tapi kupikir tinggal di Yogyakarta sampai visanya keluar tidak akan menjadi masalah.

Biayanya 500.000 rupiah (sekitar 4.800 yen), dibayarkan di kantor pos. Setelah itu selesai, bagianku dalam proses ini pun rampung.

Hobi Baru: Mengoleksi Prangko

Saat aku hendak meninggalkan kantor pos, mataku tertuju pada sebuah etalase kecil berisi prangko. Dan tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalaku—kenapa tidak mengoleksi prangko dari setiap negara yang kukunjungi?

Banyak pelancong menjahitkan patch dari negara-negara yang pernah mereka kunjungi ke ransel mereka. Aku tidak pernah tertarik dengan itu; rasanya terlalu umum. Tapi prangko berbeda. Harganya murah—yang ini hanya sekitar 10.000 rupiah (sekitar 96 yen)—dan setiap negara mencetak desain berbeda yang mencerminkan budayanya. Beratnya nyaris tidak ada, tapi ia membawa sebuah cerita.

Mungkin orang lain sudah pernah melakukan ini sebelumnya, tapi bagiku, ini terasa personal dan bermakna. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mulai mengoleksi prangko selagi melanjutkan perjalananku.

Cicipan Pertama Ikan Lele

Setelah dari kantor pos, perutku sudah kosong. Aku singgah di sebuah warung makan kecil di dekat situ, bertekad mencoba sesuatu yang baru.

Yang keluar adalah ikan lele, disajikan dengan kopi. Harganya 17.000 rupiah (sekitar 163 yen). Ini pertama kalinya aku makan ikan lele—bahkan di Jepang pun aku belum pernah mencobanya. Rasanya mengejutkanku: kaya, gurih, dan benar-benar lezat. Rasanya seperti pengalaman langka dan berharga.

Kopi Manis dan Momen-Momen Tenang

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah kafe dan memutuskan untuk singgah sejenak beristirahat. Aku memesan mochaccino seharga hanya 5.000 rupiah (sekitar 48 yen). Rasanya enak, tapi seperti kebanyakan kopi di Indonesia, rasanya sangat manis. Kalau aku terlalu lama berlama-lama di kafe seperti ini setiap hari, pikirku, aku pasti akan gemuk.

Meski begitu, aku menikmati suasana di Indonesia ini. Ritme kehidupannya, kehangatan orang-orangnya, dan kejutan-kejutan kecil setiap hari membuatku ingin tinggal lebih lama lagi.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan