← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Air Terjun dan Kehangatan: Satu Hari di Pronojiwo

Pagi di Pronojiwo

5 Februari, Pronojiwo. Aku bangun sekitar pukul 8 pagi, sedikit lebih siang dari biasanya. Saat itu, Chandra sudah berangkat kerja, tapi dia sempat menyiapkan sarapan untukku sebelum pergi. Kebaikan diam-diamnya membuatku memulai hari dengan rasa syukur.

Setelah selesai makan, aku berkemas ringan dan berangkat menuju dua air terjun yang sudah kurencanakan untuk kukunjungi dengan berjalan kaki. Saat berjalan di sepanjang jalan kecil, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil, "Hei!" Berbalik badan, kulihat Chandra, tersenyum, memegang semangkuk soto ayam di tangannya. "Nanti kita makan ini bersama kalau kamu sudah kembali," katanya dengan hangat. Dengan janji itu, aku melanjutkan perjalanan.

Air Terjun Kapas Biru

Tujuan pertamaku adalah Air Terjun Kapas Biru. Biaya masuknya hanya 20.000 rupiah (sekitar 186 yen), dan dari sana jalan setapak langsung membawaku masuk ke pelukan alam.

Awalnya, kukira ini hanya jalan kaki sederhana sepuluh menit di jalur yang datar. Tapi tak lama kemudian, jalur itu berubah menjadi jalan pegunungan yang curam, penuh tanjakan dan turunan tajam. Di satu titik, aku menuruni tangga yang begitu curam hingga terasa hampir vertikal—kemiringan 80 derajat yang menuntut seluruh kekuatan dan fokusku.

Perjalanan ini berat, tapi di saat yang sama, pemandangan sekitarnya sungguh memukau. Hijaunya dedaunan yang lebat, kicauan burung, dan aroma segar hutan memenuhi udara. Bagi siapa pun yang mencintai alam, tempat ini akan terasa seperti harta karun tersembunyi.

Setelah sekitar dua puluh menit, aku melihat air mengalir di dinding batu yang jauh dan mengira sudah sampai tujuan. Tapi ternyata belum—tujuan sesungguhnya masih jauh di depan. Di satu-satunya area istirahat kecil di sepanjang jalan, aku berhenti sejenak untuk mengatur napas sebelum melanjutkan perjalanan.

Akhirnya, setelah tiga puluh menit berjuang, aku tiba di Kapas Biru. Air terjunnya tinggi dan deras, namun kawasannya sunyi. Karena air terjun di dekatnya lebih terkenal, tempat ini punya sangat sedikit pengunjung, membuatnya terasa damai. Suara gemuruh air bergema di antara tebing-tebing, dan aku bisa menikmati pemandangan itu dengan tempoku sendiri.

Soto Ayam di Rumah

Setelah pendakian itu, aku kembali ke rumah dan menikmati soto ayam yang sudah dibeli Chandra bersama-sama. Sup hangat dengan nasi, ayam, dan rempah-rempah—rasanya luar biasa setelah lelahnya perjalanan fisik. Hidangan yang memadukan sup dan nasi selalu tampak membawa kenyamanan dan kekuatan.

Air Terjun Tumpak Sewu

Kemudian, Chandra mengusulkan agar kami mengunjungi satu air terjun lagi bersama-sama: Tumpak Sewu, yang sering disebut "seribu air terjun" karena kemegahannya. Sesuai dengan keramahannya, dia bersikeras mengantarku ke sana sendiri.

Berdiri di depan Tumpak Sewu, aku tertegun oleh skala dan keindahannya. Tak terhitung aliran air tercurah dari tebing yang luas, menciptakan pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku merasa sangat berterima kasih kepada Chandra karena telah membawaku ke sini.

Baru belakangan aku menyadari bahwa dia diam-diam sudah membayarkan biaya masukku sebesar 50.000 rupiah (sekitar 471 yen). Dia tak pernah menyebutkannya, tak pernah mencari pengakuan—hanya sebuah tindakan kebaikan yang diam-diam.

Hidangan Penutup yang Asing

Malam itu, kembali di rumah, aku ditawari hidangan penutup yang misterius: makanan manis berwarna hijau menyerupai jeli dengan tekstur licin. Awalnya, aku ragu-ragu. Tapi setelah mencicipinya, ternyata rasanya enak sekali di luar dugaan. Kadang makanan yang membuatmu ragu justru ternyata sangat lezat di luar perkiraan.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan