Berkemas untuk Perjalanan yang Akan Datang

Pada hari terakhirku di Bali, aku mulai mempersiapkan tahap berikutnya dari perjalananku. Sepedaku dimuati tas-tas, dikemas rapat agar tak ada yang jatuh. Karena bandara berada tak jauh, aku menuju sebuah hotel tempat aku akan menghabiskan malam terakhirku di Indonesia.
Sebelum menuju ke sana, aku berkeliling kota. Mengetahui betapa mahalnya Australia nanti, aku ingin membeli barang-barang yang berguna selagi masih di Bali, saat harganya masih masuk akal. Setelah mendapatkan apa yang kubutuhkan, aku melanjutkan perjalanan menuju hotel, sekali lagi memperhatikan betapa banyaknya pelancong Eropa yang memenuhi jalanan.
Mencari Kardus Sepeda yang Begitu Penting

Begitu tiba di hotel, aku sadar pekerjaanku belum selesai. Tantangan terbesar masih menanti—mencari kardus untuk mengemas sepedaku demi penerbangan. Di sekitar bandara, kardus semacam itu sulit ditemukan.
Saat aku mengkhawatirkan apa yang harus dilakukan, seorang mantan tuan rumah WarmShowers dengan baik hati menawarkan, "Kalau kamu mau, kamu bisa pakai kardus sepeda kami." Lega, aku pun menuju rumah mereka. Tak lama kemudian aku membawa kardus itu naik taksi, kembali menuju hotel.
Sopir taksi itu meninggalkan kesan yang mendalam. Tenang, terbuka, dan suportif, ia hanya berkata, "Bilang saja apa yang kamu butuhkan." Kebaikannya kembali mengingatkanku pada kehangatan yang kurasakan selama di Indonesia.
Memegang kardus itu di tanganku, aku merasakan kelegaan yang mendalam. Sesuatu yang begitu sederhana ternyata membawa makna yang begitu besar. Dengannya, aku tahu sepedaku bisa sampai dengan selamat ke negara berikutnya.
Santapan Terakhir di Indonesia

Untuk makan malam terakhirku di Indonesia, aku memilih cap cai, hidangan yang sederhana namun menenangkan. Sambil makan, kenangan minggu-minggu yang telah berlalu kembali muncul—wajah orang-orang yang telah membantuku, makanan yang dibagi bersama, momen-momen tawa, dan tantangan-tantangan yang telah kulalui.
Tanpa kusadari, air mata memenuhi mataku. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan rasa syukur. Perjalanan ini bisa terwujud karena kebaikan begitu banyak orang.
Renungan Malam

Kembali di hotel, aku mandi dan menikmati momen relaksasi terakhir sebelum keberangkatan. Rambutku telah tumbuh panjang selama berbulan-bulan perjalanan, dan aku tersenyum memikirkan targetku untuk memanjangkannya hingga sepinggang.
Karena penerbanganku pagi-pagi sekali, berangkat pukul 7 pagi, aku memasang alarm untuk pukul 1 dini hari. Rencananya adalah bangun, menyusun kembali semuanya, dan bersiap menuju bandara. Perjalananku melintasi Indonesia sedang berakhir, tapi sebuah babak baru—Australia—telah menanti.
