Perpisahan dan Babak Baru
13 September, Makassar. Hari ini menandai titik balik yang jelas dalam perjalananku. Seorang teman akan tiba untuk bergabung di jalan, sehingga aku harus berpindah dari penginapanku saat ini ke hotel baru. Meski ada rasa enggan yang membekas untuk meninggalkan hotel sebelumnya—tempat yang memberi kenyamanan tak terduga—aku diam-diam berjanji akan kembali ke lorong-lorong yang sudah kukenal itu jika suatu saat perjalananku membawaku kembali ke Makassar.

Mencicipi Kehidupan Lokal di Sore Hari
Sudah lewat pukul 3 sore ketika aku akhirnya duduk untuk makan siang. Piring di hadapanku adalah perpaduan warna-warni dari hidangan khas setempat: udang yang empuk, telur rebus, dan seporsi sayur. Semua ini ditemani nasi kuning, nasi berwarna kuning yang harum. Meski begitu berlimpah, totalnya hanya 20.000 Rupiah (sekitar $1,30).

Setelah rasa lapar terpuaskan, aku memesan mobil Grab. Perjalanan 45 menit menyusuri jalan-jalan utama kota membawaku ke bandara, tempat aku akhirnya bertemu kembali dengan temanku. Bersama-sama, kami kembali menyelami denyut kehidupan kota Makassar.


Penemuan Kuliner: Kedalaman Rasa Sup Kikil
Kembali ke pusat kota, kami disambut oleh pengalaman kuliner yang belum pernah kucicipi: Sup Kikil. Ini pertama kalinya aku mencicipi sup kikil sapi tradisional ini. Disajikan panas mengepul bersama seporsi nasi putih, kedalaman rasa gurih kaldu sapinya benar-benar sebuah pencerahan, menghangatkan badan dan membangkitkan semangat. Semangkuk yang tak terlupakan ini seharga sekitar 30.000 Rupiah (sekitar $1,95).

Kemudian, sambil berjalan-jalan di sepanjang pesisir, kami menikmati Bakso Keju (bakso berisi keju), benar-benar meresapi cita rasa malam Makassar yang penuh karakter.

Berjalan-jalan di Pantai Reklamasi
Berjalan tanpa arah di sepanjang kawasan pantai reklamasi, malam itu mengambil arah yang tak terduga. Tepat di atas trotoar, kami berpapasan dengan seekor ular dan seekor iguana. Bahkan di negara tropis sekalipun, menemukan makhluk-makhluk semacam itu di tengah jalanan Makassar yang ramai terasa sangat tidak pada tempatnya. Tak lama kemudian kami tahu bahwa iguana itu didatangkan jauh-jauh dari Kolombia.

Itu menjadi pengingat yang menyentuh akan sebuah kebenaran sederhana: melangkah keluar pintu selalu menjamin adanya drama. Dunia di luar pintu tertutup senantiasa berubah, menawarkan perjumpaan tak terduga dan tontonan-tontonan sunyi bagi mereka yang bersedia sekadar berjalan dan mengamati.
Pembuka Menuju Toraja
Saat malam beranjak larut, kami sempat menyaksikan sekilas festival lokal yang misterius berlangsung di jalanan. Meresapi energi misterius dari kerumunan itu, akhirnya kami mengakhiri penjelajahan hari ini.

Besok pukul 8 malam, kami akan berangkat menuju tujuan besar berikutnya: kawasan pegunungan Toraja. Sampai saat itu tiba, kami akan memanfaatkan sisa waktu untuk bersiap-siap dan terus menyusuri jalanan Makassar. Dengan panggilan dataran tinggi yang menanti kami, kota pesisir ini perlahan tenggelam dalam malam.
