Secangkir Rekomendasi untuk Mengawali Hari
Hari ini tanggal 12 September 2026, dan aku sedang berada di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dengan seorang teman yang dijadwalkan tiba dari Jepang keesokan harinya, pagi ini membawa perpaduan tenang antara antisipasi dan istirahat. Masih mengucek mata karena kantuk, aku teringat rekomendasi dari hari sebelumnya: sebuah kafe di dekat sini yang menurut seseorang terlalu sayang untuk dilewatkan. Merasa hampir seperti sebuah kewajiban untuk mencobanya, aku pun berjalan ke sana dan memesan.

Kopi itu datang, dan mudah diminum sejak tegukan pertama—lembut, dengan manis yang pas, terasa seperti cara yang tepat untuk memulai hari. Itu kesenangan kecil yang sederhana, tapi cukup untuk memberi nuansa hangat bagi semua yang terjadi setelahnya.
Antrean Tanpa Akhir dan Sarapan Seharga $0,65
Pukul 10:00 pagi, kota ini sudah berdenyut dengan panas dan energi khasnya. Berjalan di sepanjang jalan utama, aku disambut pemandangan yang mencengangkan: barisan kendaraan yang panjang dan berkelok-kelok dari kedua arah, semuanya menyempit menuju satu SPBU. Aku baru tahu bahwa antrean mobil yang tak henti-hentinya ini berlangsung dari pagi buta hingga sekitar pukul 4 sore. Menyaksikan warga setempat dengan sabar menghadapi kemacetan logistik ini memberi gambaran mentah dan apa adanya tentang ritme keseharian kota ini dan kenyataan infrastrukturnya.
Tidak jauh dari pemandangan yang riuh ini, aku membeli hidangan lokal sederhana berupa nasi yang dibumbui kecap manis. Makanan ini hanya seharga 10.000 rupiah (sekitar $0,65). Ketika aku melempar senyum kepada pemuda yang menjaga warung itu, keraguannya di awal luruh menjadi seulas senyum hangat yang tulus. Ada nuansa khusus dalam cara berkomunikasi di Indonesia; meskipun warga lokal bisa terlihat malu-malu pada awalnya—tidak jauh berbeda dengan orang Jepang—senyum sederhana bertindak sebagai kunci universal yang seketika menjembatani jarak budaya.

Perenungan di Atas Lantai dan Pemandangan yang Memesona
Kembali ke kamar hotel, aku duduk untuk merangkum catatan perjalanan untuk blog ini. Karena tidak ada kursi yang layak, aku pasrah duduk langsung di lantai, laptop bertumpu canggung di atas lutut. Saat aku mengetik kejadian-kejadian hari-hari sebelumnya, kenangan perjalanan mulai tampak lebih jelas. Meski tidak nyaman secara fisik, rutinitas yang sunyi dan menyendiri ini menumbuhkan fokus mendalam yang hanya bisa diberikan oleh perjalanan solo.
Menjelang siang, rasa lapar mendorongku untuk meninggalkan meja darurat di lantai itu. Menaiki lift ke bawah, aku disuguhi pemandangan Makassar yang memukau—panorama luas yang seketika mengingatkanku betapa istimewanya bisa menjelajahi negeri asing.

Untuk makan siang, aku mencari apa yang mungkin akan menjadi semangkuk ramen terakhirku untuk etape perjalanan ini. Aku senang mendapati bahwa aku bisa memesan nasi sebagai pendamping mi. Kuah yang kaya rasa dan nasi, diselingi segelas es teh leci yang dingin, benar-benar memuaskan perut yang lelah setelah berminggu-minggu di jalan.

Akhir dari Kesendirian dan Jalan Menuju Toraja
Besok menandai titik balik: seorang teman dari Jepang akhirnya akan tiba, menghidupkan rencana perjalanan bersama yang telah kami susun dengan cermat selama dua bulan terakhir. Meski kesendirian selama berminggu-minggu terakhir menjadi guru yang mendalam, ada kegembiraan yang tak terbantahkan mengetahui bahwa sebentar lagi aku akan punya seseorang untuk berbagi momen-momen takjub dan penemuan ini. Besok aku akan berpindah hotel untuk mempersiapkan pertemuan kami.
Lusa, kompas kami akan menunjuk ke arah Toraja. Apa yang menanti kami di dataran tinggi berkabut itu, yang terkenal dengan tradisi arsitektur kunonya dan ritual-ritual rumit seputar kehidupan dan kematian? Langkah kakiku sebagai pengembara tunggal sebentar lagi akan menyatu dengan jalan bersama sebuah ekspedisi baru. Dengan kegairahan tenang ini yang membuncah di dada, matahari perlahan terbenam di ufuk Makassar, mengakhiri perjalanan soloku.
