← Cerita
Diary·Indonesia·7 September 2026·2 menit baca

Menjelajahi Makassar: Dari Feri yang Menyengat hingga Museum dan Ramen Tengah Malam

Dek yang Menyengat dan Kebaikan yang Tak Terduga

7 September. Aku bangun dengan langit cerah, menikmati pemandangan dari jendela hotel. Baru sehari sebelumnya, aku menahan perjalanan yang melelahkan di dek feri. Karena tidak berhasil mendapatkan kabin, aku menghabiskan malam di area dek tertutup di mana udara yang tidak bersirkulasi membuatnya terasa tiga hingga empat derajat Celsius lebih panas daripada di luar. Itu adalah lingkungan yang menyengat, bagaikan neraka, dan satu-satunya penghiburanku adalah memandangi pemandangan yang berlalu sembari mencari sedikit angin sepoi-sepoi.

Pemandangan pagi yang berkabut dari garis langit Makassar, terlihat dari jendela hotel

Tampilan dekat semangkuk ramen shoyu dengan irisan chashu, telur setengah matang, dan nori

Ketika waktu makan siang tiba, kelelahan telah sepenuhnya menguras energiku, membuat pikiran untuk mengantre demi semangkuk makanan terasa tak tertahankan. Menyadari keletihanku, seorang penumpang lain yang memperkenalkan diri sebagai Murdianto menghampiriku. Ia dengan baik hati menawarkan diri untuk membawa tiketku dan mengambilkan jatah makananku. Tindakannya yang tulus, memberikan kehangatan semacam itu kepada orang asing sepenuhnya, sungguh menenangkan hati. Sering kali dalam kondisi yang berat semacam ini, kebaikan orang lain meninggalkan kesan paling mendalam dalam sebuah perjalanan.

Mengurai Sejarah di Museum of Makassar

Ingin memahami kota baru yang baru saja kudatangi, tujuan pertamaku di Makassar adalah Museum of Makassar. Untuk benar-benar mengenal sebuah tempat, seseorang harus menyelami sejarahnya. Meski terhalang bahasa, aku berjalan menyusuri koleksi pameran, berusaha menyerap budaya lokal sebanyak mungkin.

Bangunan Museum of Makassar bergaya kolonial berwarna putih dengan monumen meriam di depannya

Lantai dasarnya memamerkan meriam dan monumen batu yang mencatat sejarah peperangan Makassar dan warisan kerajaannya.

Artefak bata berukir kuno dengan motif geometris yang dipajang dalam lemari kaca museum

Ada pula pameran pakaian tradisional, yang menampilkan keragaman budaya tidak hanya milik Makassar, tetapi seluruh pulau Sulawesi.

Manekin-manekin mengenakan busana pernikahan tradisional Mandar dengan hiasan kepala emas

Di dalam area museum, aku menjelajahi sisa-sisa Fort Rotterdam, sebuah situs bersejarah tempat aku berkesempatan berinteraksi dengan pelajar-pelajar setempat. Area benteng yang luas ini membutuhkan sekitar sepuluh menit untuk dikelilingi, menawarkan renungan tenang tentang masa lalu kota ini.

Sebuah monumen gong seremonial besar yang dipasang di atas penyangga kayu merah di Fort Rotterdam

Sekelompok pelajar setempat berseragam sekolah berkumpul di gerbang batu Fort Rotterdam

Berjalan di Tepi Pantai dan Pengalaman Ramen yang Luar Biasa

Setelah meninggalkan museum, aku beristirahat sejenak di sebuah kafe lokal.

Interior berpanel kayu yang tenang dari sebuah kafe lokal modern di Makassar

Di sana, aku mengobrol dengan pemiliknya, yang ternyata berasal dari Labuan Bajo. Menerima saran seputar Pulau Flores—tujuan berikutnya—aku merasakan sebuah ikatan di negeri yang asing ini.

Sebuah swafoto bersama pemilik kafe dari Labuan Bajo yang memberi tanda peace

Kemudian, aku berjalan-jalan di sepanjang garis pantai Makassar dan area reklamasi. Pemandangannya menarik, menampilkan sebuah monumen globe yang mengingatkan pada yang ada di Jepang, serta pajangan kapal-kapal pinisi tradisional yang menyoroti akar maritim kota ini yang mendalam.

Kapal-kapal pinisi kayu tradisional yang berlabuh di pelabuhan Makassar dengan bangunan berkubah di latar belakang

Untuk makan siang, aku memesan nasi goreng seafood di tepi laut. Meski sedikit mahal dengan harga 50.000 rupiah (sekitar $3.30 USD), hidangan ini lezat dan sarat dengan kekayaan rasa laut.

Sepiring nasi goreng seafood dengan udang dan cumi, disajikan di tepi laut

Saat malam tiba, aku kembali ke kedai ramen yang sama yang kukunjungi sehari sebelumnya.

Interior kedai ramen yang dihiasi lampion dengan bangku-bangku merah dan meja-meja kosong

Kali ini, aku memesan "Ninja Ramen." Sudah diperingatkan bahwa itu adalah pilihan paling pedas mereka, tingkat kepedasannya jauh melampaui perkiraanku, hingga aku tidak sanggup menghabiskan kuahnya.

Semangkuk Ninja Ramen pedas dengan kuah kemerahan, telur setengah matang, ayam panggang, dan nori

Meski begitu, rasanya luar biasa, dan harganya—sekitar 20.000 hingga 30.000 rupiah (sekitar $1.30 hingga $2.00 USD)—sangat murah untuk ramen di luar Jepang. Besok, aku berencana melanjutkan penjelajahan, mencari lebih banyak museum dan tempat tersembunyi di kota yang bersemangat ini.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan