← Cerita
Diary·Indonesia·8 September 2026·3 menit baca

Berjalan Menyusuri Kenangan Makassar: Warisan Kesultanan Gowa dan Kehidupan di Balik Tembok Benteng

Pagi di Warung Lokal

8 September. Udara pagi yang lembap menempel di kulitku ketika aku berangkat untuk menelusuri jejak-jejak sejarah yang tertinggal di pinggiran Makassar.

Sebelum memulai penjelajahan hari itu, aku berjalan kaki lima menit dari hotel menuju sebuah warung kecil yang sederhana. Di sana, aku memesan Nasi Rendang. Dagingnya, dimasak perlahan dalam perpaduan kaya rempah dan santan dengan sentuhan rasa seperti kari, menjadi rangsangan sempurna bagi tubuh yang baru terbangun. Porsinya yang berlimpah hanya berharga 25.000 IDR (sekitar $1.60 USD). Dengan perut yang kenyang, hari panas lain di Sulawesi Selatan pun diam-diam dimulai.

Sepiring Nasi Rendang dengan nasi, rendang daging sapi berbumbu, daun singkong, dan sambal di sebuah warung lokal

Kemegahan Kayu Kesultanan Gowa

Tujuan pertamaku adalah Museum Balla Lompoa.

Di balik pintu masuk, berdiri dua struktur kayu tradisional yang megah. Dalam bahasa setempat, "Balla" berarti rumah, dan "Lompoa" berarti besar. Kompleks yang megah ini merupakan rekonstruksi setia dari istana kerajaan Kesultanan Gowa, yang dahulu pernah memerintah wilayah ini. Bangunan utama di sebelah kanan memancarkan aura keagungan yang penuh wibawa. Membayar biaya masuk yang bersahaja sebesar 5.000 IDR (sekitar $0.30 USD), aku pun melangkah masuk.

Bangunan kayu Museum Balla Lompoa dengan papan nama pintu masuk bertuliskan Museum Balla Lompoa Sungguminasa-Gowa

Bagian dalamnya dengan tenang memamerkan senjata tradisional dan artefak kerajaan milik masyarakat Makassar dan Bugis.

Sebuah ruang duduk di dalam Museum Balla Lompoa dengan kursi-kursi antik dan lemari kaca berisi kain-kain kerajaan

Aula seremonial merah-emas yang megah di dalam istana kerajaan Balla Lompoa dengan panggung beratap

Di bagian lain area ini berdiri sebuah bangunan museum yang lebih kecil, menyimpan lebih banyak koleksi, termasuk pajangan mata uang lama — uang kertas masa perang Jepang, gulden kolonial Belanda, dan won Korea. Sisa-sisa sebuah kerajaan yang cukup kuat untuk mencetak dan mengedarkan mata uangnya sendiri masih terasa di setiap sudut.

Sebuah bangunan museum yang lebih kecil di Balla Lompoa dengan meriam tua yang dipajang di halaman depan

Sebuah lemari kaca berisi uang kertas lama, termasuk dolar masa perang Jepang, gulden kolonial Belanda, dan lembaran won Korea

Berjalan melintasi aula-aula yang luas, aku mendapati diriku membayangkan pemandangan yang pernah disaksikan oleh keluarga kerajaan yang dahulu tinggal di sini.

Benteng Somba Opu: Tempat Masa Lalu dan Masa Kini Bertemu

Meninggalkan museum, aku berjalan sekitar lima belas menit di tengah panas hingga tiba di reruntuhan Benteng Somba Opu.

Papan informasi untuk Benteng Somba Opu dengan sebuah masjid berkubah hijau terlihat di balik pepohonan

Dahulu menjadi benteng pertahanan vital bagi Kesultanan Gowa, tempat ini ternyata jauh lebih dari sekadar kawasan pelestarian sejarah.

Sebuah rumah panggung kayu tradisional berwarna hitam dengan aksen kuning di dalam area Benteng Somba Opu

Yang mengejutkan, sebuah perkampungan modern yang hidup dan bersemangat berkembang sepenuhnya di dalam tembok tanah tebal benteng tua ini.

Foto bersama warga desa setempat dan anak-anak yang memberi tanda peace di dalam perkampungan hidup benteng ini

Perpotongan antara kesunyian arkeologis dan riuhnya kehidupan sehari-hari warga setempat diam-diam menyampaikan bahwa sejarah di sini bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan benang yang terus dirajut ke dalam masa kini.

Saat rasa lelah mulai menghampiri, aku duduk untuk mencicipi camilan gorengan lokal bernama Tela-Tela, yang dibuat oleh warga desa. Teksturnya yang menyerupai kentang dan sentuhan garam yang pas berhasil memulihkan tubuhku yang kelelahan. Dengan harga 20.000 IDR (sekitar $1.30 USD), rasanya yang sederhana dan bersahaja mencerminkan sempurna suasana desa itu sendiri.

Sebuah wadah berisi camilan Tela-Tela yang baru digoreng, dipegang dengan anak-anak desa di latar belakang

Sebuah tembok benteng bata tua dengan paviliun beratap jerami besar dan gubuk kecil yang dibangun di atas reruntuhan

Kemurahan Hati Petang dan Kehangatan yang Tertinggal

Saat senja tiba, aku melepas dahaga dengan es teh lemon berkarbonasi, membiarkan panas hari itu perlahan menghilang.

Segelas es teh lemon berkarbonasi dari Rindang Coffee & Eatery

Lama setelah matahari terbenam, aku menuju lapak makanan lain untuk makan malam. Ketika aku selesai makan dan bersiap pergi, pemilik lapak tersebut tanpa disangka menyerahkan sekantong berisi sekitar sepuluh donat, sepenuhnya gratis. Meski kami tidak memiliki bahasa yang sama, senyum tulus mereka memancarkan keramahan alami terhadap seorang musafir yang sedang berkelana.

Sebuah lapak donat dan camilan gorengan yang terang benderang di malam hari dengan penjual yang terlihat di dalamnya

Kehidupan sehari-hari yang terus terjaga selama beberapa generasi di dalam tembok benteng, dan donat manis yang diberikan kepada seorang musafir tanpa nama. Kedua isyarat kehangatan yang kecil namun mendalam ini, yang kutemui di negeri asing ini, meninggalkan kesan yang mendalam bagiku — berbeda dari bobot sejarah, namun sama-sama abadi. Besok, aku akan berangkat lagi untuk menemukan wajah tersembunyi lain dari kota ini.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan