Pagi di Warung Lokal
8 September. Udara pagi yang lembap menempel di kulitku ketika aku berangkat untuk menelusuri jejak-jejak sejarah yang tertinggal di pinggiran Makassar.
Sebelum memulai penjelajahan hari itu, aku berjalan kaki lima menit dari hotel menuju sebuah warung kecil yang sederhana. Di sana, aku memesan Nasi Rendang. Dagingnya, dimasak perlahan dalam perpaduan kaya rempah dan santan dengan sentuhan rasa seperti kari, menjadi rangsangan sempurna bagi tubuh yang baru terbangun. Porsinya yang berlimpah hanya berharga 25.000 IDR (sekitar $1.60 USD). Dengan perut yang kenyang, hari panas lain di Sulawesi Selatan pun diam-diam dimulai.

Kemegahan Kayu Kesultanan Gowa
Tujuan pertamaku adalah Museum Balla Lompoa.
Di balik pintu masuk, berdiri dua struktur kayu tradisional yang megah. Dalam bahasa setempat, "Balla" berarti rumah, dan "Lompoa" berarti besar. Kompleks yang megah ini merupakan rekonstruksi setia dari istana kerajaan Kesultanan Gowa, yang dahulu pernah memerintah wilayah ini. Bangunan utama di sebelah kanan memancarkan aura keagungan yang penuh wibawa. Membayar biaya masuk yang bersahaja sebesar 5.000 IDR (sekitar $0.30 USD), aku pun melangkah masuk.

Bagian dalamnya dengan tenang memamerkan senjata tradisional dan artefak kerajaan milik masyarakat Makassar dan Bugis.


Di bagian lain area ini berdiri sebuah bangunan museum yang lebih kecil, menyimpan lebih banyak koleksi, termasuk pajangan mata uang lama — uang kertas masa perang Jepang, gulden kolonial Belanda, dan won Korea. Sisa-sisa sebuah kerajaan yang cukup kuat untuk mencetak dan mengedarkan mata uangnya sendiri masih terasa di setiap sudut.


Berjalan melintasi aula-aula yang luas, aku mendapati diriku membayangkan pemandangan yang pernah disaksikan oleh keluarga kerajaan yang dahulu tinggal di sini.
Benteng Somba Opu: Tempat Masa Lalu dan Masa Kini Bertemu
Meninggalkan museum, aku berjalan sekitar lima belas menit di tengah panas hingga tiba di reruntuhan Benteng Somba Opu.

Dahulu menjadi benteng pertahanan vital bagi Kesultanan Gowa, tempat ini ternyata jauh lebih dari sekadar kawasan pelestarian sejarah.

Yang mengejutkan, sebuah perkampungan modern yang hidup dan bersemangat berkembang sepenuhnya di dalam tembok tanah tebal benteng tua ini.

Perpotongan antara kesunyian arkeologis dan riuhnya kehidupan sehari-hari warga setempat diam-diam menyampaikan bahwa sejarah di sini bukanlah peninggalan masa lalu, melainkan benang yang terus dirajut ke dalam masa kini.
Saat rasa lelah mulai menghampiri, aku duduk untuk mencicipi camilan gorengan lokal bernama Tela-Tela, yang dibuat oleh warga desa. Teksturnya yang menyerupai kentang dan sentuhan garam yang pas berhasil memulihkan tubuhku yang kelelahan. Dengan harga 20.000 IDR (sekitar $1.30 USD), rasanya yang sederhana dan bersahaja mencerminkan sempurna suasana desa itu sendiri.


Kemurahan Hati Petang dan Kehangatan yang Tertinggal
Saat senja tiba, aku melepas dahaga dengan es teh lemon berkarbonasi, membiarkan panas hari itu perlahan menghilang.

Lama setelah matahari terbenam, aku menuju lapak makanan lain untuk makan malam. Ketika aku selesai makan dan bersiap pergi, pemilik lapak tersebut tanpa disangka menyerahkan sekantong berisi sekitar sepuluh donat, sepenuhnya gratis. Meski kami tidak memiliki bahasa yang sama, senyum tulus mereka memancarkan keramahan alami terhadap seorang musafir yang sedang berkelana.

Kehidupan sehari-hari yang terus terjaga selama beberapa generasi di dalam tembok benteng, dan donat manis yang diberikan kepada seorang musafir tanpa nama. Kedua isyarat kehangatan yang kecil namun mendalam ini, yang kutemui di negeri asing ini, meninggalkan kesan yang mendalam bagiku — berbeda dari bobot sejarah, namun sama-sama abadi. Besok, aku akan berangkat lagi untuk menemukan wajah tersembunyi lain dari kota ini.
