← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Meninggalkan Sragen: Hari Perpisahan dan Jalan Baru ke Depan

Pagi Perpisahan

28 Januari, Sragen. Hari ini adalah hari aku akhirnya berangkat menuju tujuan berikutnya. Aku mengemas tasku dengan hati-hati, memeriksa semuanya dua kali, dan berdiri siap di samping sepedaku.

Para staf hotel, yang telah merawatku selama masa tinggalku, mulai berkumpul. Satu per satu, mereka mengucapkan doa baik untukku. Mendengar kata-kata “Sampai jumpa lagi” selalu menggugah sesuatu dalam diriku. Itu membuatku berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan kembali.

Sebelum berangkat, aku pergi ke sebuah warung makan yang dikelola oleh teman dari pria yang mengajakku naik motor kemarin. Di sana, aku disuguhi hidangan ala Soto. Mereka menolak dibayar, sambil berkata, “Ini untuk perjalananmu ke depan.”

Soto rasanya mirip bubur Jepang yang lebih kental dan kaya rasa. Aku menikmati setiap sendoknya. Dikelilingi oleh pemilik warung, penjaga toko, bahkan kerabat dari pria yang pernah belajar di Jepang, aku merasa seolah seluruh kota ikut melepas kepergianku.

Di Perjalanan

Cuacanya bersahabat, tidak terlalu panas, tidak terlalu berat. Sempurna untuk bersepeda. Sambil terus mengayuh, terlintas dalam pikiranku kata ikigai—“alasan untuk hidup”. Apakah orang-orang di sini memikirkan kata ini? aku bertanya-tanya.

Setelah sekitar 20 kilometer, awan mulai menggelap. Dari pengalaman masa lalu, aku punya sebuah keyakinan: ketika terlalu banyak hal baik terjadi, sesuatu yang buruk sering kali menyusul. Mempercayai naluriku, aku berhenti di sebuah warung kecil, menyeruput es teh, dan menunggu.

Tak lama, hujan deras datang. Aku berteduh di sana selama hampir satu jam, menyaksikan dunia mengabur oleh air yang jatuh, sebelum melanjutkan perjalanan menuju tempat berkemah.

Malam di Tempat Berkemah

Akhirnya, aku tiba di tempat aku akan berkemah malam itu. Biayanya 35.000 rupiah—sekitar 332 yen—untuk tempat tersebut.

Setelah mendirikan tenda, aku melihat ada satu warung makan di dekatnya, satu-satunya di sekitar situ. Pemiliknya menatapku dan bertanya, “Makan?”—“Eat?” Aku mengangguk mengiyakan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menghilang ke dapur.

Aku tidak tahu apa yang akan keluar, tetapi alih-alih rasa takut, aku merasa bersemangat. Perjalanan penuh dengan momen-momen ketidakpastian kecil seperti ini yang berubah menjadi kenangan.

Menjelang akhir hari, aku telah menempuh hampir 100 kilometer. Tubuhku lelah, tetapi hatiku penuh—dengan rasa syukur, kehangatan, dan sukacita atas satu hari lagi yang kujalani di jalan.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan