← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Meninggalkan Yogyakarta: Perjalanan Menuju Area Perkemahan Gunung Merapi

Perpisahan dengan Yogyakarta

25 Januari, Yogyakarta. Saatnya tiba untuk meninggalkan kota yang telah membuatku merasa nyaman ini. Dengan urusan perpanjangan visa dan rutinitas harian, aku akhirnya tinggal sekitar sepuluh hari. Itu membuat perpisahan ini lebih berat dari yang kuperkirakan.

Aku mengemasi tasku, check out dari hotel, dan menuju warung makan langganan untuk makan terakhir kali. Hidangan di sini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hariku—lezat, sederhana, dan tak pernah lebih dari seratus yen. Aku bertanya-tanya apakah aku akan ragu makan di tempat lain setelah begitu terbiasa dengan cita rasa di sini.

Saat aku selesai makan, pelanggan lain datang. Kami mulai mengobrol, dan ia bercerita bahwa dulu ia seorang atlet dan sekarang bekerja sebagai pelatih. Sebelum pergi, ia bersikeras agar aku minum air kelapa. “Kalau kamu olahraga, atau bersepeda seperti ini, kamu cepat kehilangan cairan—minum ini,” katanya. Kebaikannya menyentuh hatiku, dan aku menerimanya dengan penuh syukur.

Para pegawai warung tersenyum saat aku berpamitan, dan aku pergi dengan harapan diam-diam bahwa suatu hari nanti, kami bisa bertemu lagi.

Jalan Menuju Merapi

Tujuanku hari ini adalah area perkemahan dekat Gunung Merapi, sebuah gunung berapi aktif. Seseorang pernah bilang padaku, “Kalau langit pagi cerah, pemandangannya luar biasa.” Itu sudah cukup untuk meyakinkanku pergi.

Jalan keluar dari Yogyakarta cukup sederhana—tinggal terus mengayuh menuju gunung. Kira-kira di tengah perjalanan, aku berhenti sejenak dan memesan es teh. Setelah aku menghabiskannya, sang pemilik warung mengisi ulang gelasku tanpa diminta. Aku mencoba menolak dengan sopan, tapi ia berkata, “Mendaki gunung itu dengan sepeda itu berat. Kamu akan membutuhkan ini.”

Ia benar. Tanjakan di depan ternyata menjadi salah satu rute tersulit yang pernah kuhadapi. Teh tambahan itu memberiku kekuatan yang tak kusadari akan kubutuhkan.

Mendaki Lebih Tinggi

Akhirnya, aku tiba di tempat yang kukira adalah tujuan—tapi itu ternyata hanya pintu masuk ke Merapi. Untungnya, sepeda bisa lewat secara gratis.

Jalan terus menanjak, semakin curam. Pada suatu titik, aku melihat rombongan wisata jeep turun, para penumpangnya basah kuyup dalam jas hujan. Itu adalah gambaran tak menyenangkan dari cuaca yang akan kuhadapi.

Namun, seiring aku mendaki lebih tinggi, pemandangan pun terbentang luas. Panoramanya lapang dan liar, dan sesaat aku berharap punya drone untuk mengabadikan semuanya.

Singgah di Alien Park

Dekat puncak, aku singgah di sebuah tempat bernama Alien Park, yang dipenuhi formasi bebatuan dan puluhan jeep yang terparkir. Meski dipadati wisatawan, lanskap di baliknya begitu menakjubkan. Alam yang masih alami di seberang lembah membuatku ingin melompat ke dalamnya.

Tiba di Area Perkemahan

Akhirnya, aku tiba di area perkemahan. Para staf menyambutku dengan kehangatan luar biasa, langsung membuatku merasa diterima. Aku memesan pisang goreng seharga Rp 10.000 (sekitar 95 yen). Karena tidak ada warung makan di sekitar situ, kafe area perkemahan menjadi satu-satunya pilihan kecuali para pelancong membawa perbekalan sendiri.

Aku mendirikan tendaku dan mulai bersiap. Tak lama kemudian, sekelompok pemuda yang sedang mendirikan tenda mereka sendiri mengajakku makan malam bersama. Mereka menyuguhkan Indomie, mi instan terkenal asal Indonesia. Sampai saat itu, aku mengira “Indo” dalam Indomie merujuk pada India. Ternyata artinya adalah “mi Indonesia.” Sebuah penemuan kecil yang lucu.

Pendakian itu berat, tapi saat aku duduk berbagi makan di sana, kelelahan itu berubah menjadi sesuatu yang lain—kepuasan yang tenang, semacam kebahagiaan yang hanya bisa dibawa oleh kerja keras.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan