Pagi Perpisahan

Aku terbangun dan mendapati sarapan sudah tersedia di ruang tamu. Sejak saat pertama aku tiba, keluarga ini telah menunjukkan keramahan yang tiada habisnya, dan pagi itu pun tak terkecuali. Setiap gestur kebaikan membuatku merasa benar-benar seperti di rumah sendiri, meski aku berada ribuan kilometer jauhnya dari Jepang.
Sebelum pergi, aku menulis surat untuk mengungkapkan rasa terima kasihku. Rasanya itu adalah hal paling sedikit yang bisa kulakukan setelah semua yang telah mereka lakukan untukku.
Di garasi, aku mulai merakit sepedaku. Awalnya hanya terlihat tiga sepeda, tapi sebenarnya jumlahnya sekitar tujuh secara keseluruhan. Hidup dikelilingi sepeda-sepeda seperti itu—itulah gaya hidup yang tak bisa tidak kukagumi.
Setelah ucapan perpisahan yang tulus kepada keluarga tuan rumahku, akhirnya aku berangkat. Sepedaku terasa lebih berat dari biasanya, terbebani oleh semua bahan makanan yang kubeli untuk perjalanan ke depan. Roda-rodanya berputar pelan, tapi dengan tekad, aku mulai bergerak ke utara keluar dari Perth.
Mengayuh di Sepanjang Pesisir Perth

Beberapa puluh kilometer pertama ternyata mengalir dengan sangat lancar. Perth memiliki jalur sepeda yang terawat baik, membuatnya mudah dan aman untuk dikayuh. Ini menjadi pengingat yang baik betapa perencanaan kota yang matang bisa mengubah pengalaman pesepeda sepertiku.
Sambil menyusuri pesisir, pemandangannya begitu memukau. Samudra Hindia terbentang tanpa batas, ombaknya berkilauan di bawah matahari. Bagi siapa pun yang mencintai laut, jalur pesisir ini adalah surga. Perjalanan terasa ringan, dibawa oleh hembusan angin asin dan pemandangan cakrawala.
Sepanjang jalan, aku memperhatikan proyek-proyek pembangunan baru—kompleks perbelanjaan besar yang dipadukan dengan menara apartemen yang menjulang dekat pantai. Aku membayangkan seperti apa rasanya tinggal di salah satu apartemen itu, dengan pemandangan laut yang begitu menakjubkan setiap harinya.
Perjumpaan Tak Terduga

Tak lama setelah meninggalkan pesisir, seorang pria memanggilku. Ia bertanya, “Kau kenal Catman?”
Aku langsung mengenali nama itu. Catman adalah seorang pengembara yang sedang berjalan kaki keliling Australia—sebuah pencapaian yang luar biasa. Aku pernah mendengar tentangnya sebelumnya, jadi aku menjawab sambil tersenyum, “Aku kenal dia!”
Pria itu tertawa dan, tanpa ragu, menawariku air dan makanan. Aku tersentuh. Meski aku belum pernah bertemu Catman, reputasinya entah bagaimana telah membawa kebaikan kepadaku. Kisah satu pengembara telah menghubungkan kami, dan itu mengingatkanku betapa dunia ini bisa begitu kecil sekaligus murah hati.
Tantangan di Jalan Berpasir

Menjelang sore, aku menuju area perkemahan yang tertanda di petaku. Namun saat aku mendekat, aku menghadapi rintangan tak terduga: hamparan luas pasir lembut.
Tempat perkemahan itu seharusnya berada tepat di baliknya, dan matahari sudah mulai tenggelam di langit. Aku ragu sejenak, tapi kemudian berkata pada diriku sendiri, “Aku tidak punya pilihan selain terus maju.”
Dengan sepeda yang penuh muatan, setiap kayuhan tenggelam dalam ke pasir. Kemajuannya begitu lambat hingga menyakitkan, dan tenagaku terkuras dengan cepat. Jalan tanah saja sudah cukup sulit, tapi pasir dalam dengan beban berat rasanya nyaris tak tertahankan.
Setelah berjuang maju untuk beberapa saat, aku menyadari dengan kecewa bahwa tempat perkemahan yang tertanda itu tidak ada di mana pun. Di depanku hanya terbentang kekosongan lebih jauh lagi. Hatiku ciut. Saat itu aku tahu aku harus berbalik.
Perjalanan kembali ternyata lebih berat daripada perjalanan maju. Pasir menarik ban-banku, dan cahaya siang yang meredup membuat setiap langkah terasa makin berat. Yang sebelumnya hanya memakan waktu 30 menit untuk dikayuh kini butuh hampir satu jam untuk ditempuh kembali.
Malam di Bawah Bintang

Saat langit mulai gelap, aku memutuskan untuk mendirikan kemah di tempat terdekat yang kutemukan. Ini tidak direncanakan, tapi terkadang tempat berkemah terbaik justru ditemukan secara tak sengaja.
Malam itu, aku mendirikan tenda dan menengadah ke langit. Aku mencoba memotret bintang-bintang dengan kemampuanku yang terbatas, tapi tak ada yang bisa menangkap keindahan luar biasa yang kulihat. Langit malam berpijar dengan bintang-bintang tak terhitung jumlahnya, lebih terang dan lebih dekat daripada yang pernah kualami sebelumnya.
Di momen itu, semua kelelahan akibat jalan berpasir lenyap begitu saja. Inilah alam Australia dalam wujud terbaiknya—liar, luar biasa, dan indah. Hanya dengan melihat langit itu saja, semua perjuangan hari itu terasa sepadan.
