← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Dari Jember ke Banyuwangi: Satu Hari Persahabatan, Perjuangan, dan Rasa Syukur

Pengantar di Pagi Hari

Hari itu dimulai dengan sarapan yang hangat dan penuh perhatian di Jember. Karena aku akan segera memulai perjalanan bersepeda menuju Banyuwangi, tuan rumahku menyiapkan makanan yang sehat dan ringan untuk memberiku energi. Yang paling menyentuh hatiku adalah para YouTuber yang kutemui sehari sebelumnya datang sekitar pukul 7 pagi, hanya untuk mengantarku dan bersepeda bersamaku untuk sementara waktu.

Bersepeda bersama orang lain selalu terasa berbeda. Ketika seseorang mengayuh di depan, menentukan ritme, ada rasa tenang dan aman yang memenuhi diriku. Selama sekitar 5 kilometer, kami berbagi jalan, tawa, dan cerita. Akhirnya, tiba waktunya untuk berpisah. Mereka mendengarkanku dengan senyum tulus dan mendoakan perjalanan yang aman. Aku sangat bersyukur, dan kami berjanji untuk bertemu lagi suatu hari, di suatu tempat.

Ketika aku kembali sendirian di jalan, aku merasakan kekosongan yang tak terduga. Keheningan mendadak dari sebuah perjalanan solo bisa terasa berat. Namun tak lama kemudian, seorang pria melambaikan tangan memanggilku dan dengan baik hati menawarkan sarapan kedua. Aku akhirnya tinggal selama satu jam, menikmati bukan hanya makanannya, tetapi juga rasa memiliki, meski hanya sejenak.

Mendaki Menuju Gumitir

Saat aku berangkat kembali, aku diingatkan lagi betapa murah hatinya orang Indonesia. Senyum dan suara-suara riang sering menyambutku di sepanjang jalan, dan itu selalu mengangkat semangatku.

Kemudian datanglah tantangan besar terakhir dari perjalanan Indonesiaku: tanjakan panjang itu. Jika aku bisa menaklukkannya, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Saat aku mendorong diri mendaki, orang-orang asing menyemangatiku—sebagian dengan kata-kata, sebagian lagi dengan gestur tangan sederhana sebagai dukungan. Semangat itu membawaku terus maju.

Setelah sekitar satu setengah jam, aku mendekati puncak. Aku beristirahat sejenak, mengatur napas, dan akhirnya mencapai puncaknya. Di sana, aku menemukan kedai kopi Gumitir, tempat yang sempurna untuk beristirahat. Kukira aku hanya akan duduk tenang selama satu jam. Namun, takdir punya rencana lain.

Ada sebuah keluarga asal Swedia di sana, dan kami segera mulai mengobrol. Yang seharusnya menjadi perhentian singkat berubah menjadi satu jam percakapan hangat. Kami bahkan berjanji untuk bertemu lagi beberapa hari kemudian. Sejujurnya, memikirkan cara untuk sampai ke lokasi itu nanti terdengar sulit, tapi dibandingkan dengan perjalanan jauh mereka dari negara lain, itu terasa seperti usaha yang kecil saja.

Setelah mereka pergi, aku bertemu dengan seorang pelancong Indonesia lainnya. Kami berbicara tentang Jepang, Indonesia, budaya, bahkan isu-isu terkini. Itu adalah pertukaran pikiran yang mendalam, dan sekali lagi, kami berjanji untuk bertemu lagi suatu saat di sepanjang jalan.

Belajar Melepaskan Jadwal

Pada saat itu, aku sudah tertinggal tiga jam dari jadwal. Aku merasakan tekanan—akankah aku sampai sebelum pukul 5 sore? Pikiran itu dengan cepat membuatku sadar betapa berbahayanya rencana yang kaku bagi perjalanan seperti milikku. Terlalu sering, jadwal yang ketat mengubah perjalanan menjadi sebuah perlombaan. Alih-alih memperhatikan dunia di sekelilingku, aku justru berakhir hanya fokus untuk "terus maju."

Sejenak, aku merasa sedang menyia-nyiakan harta karun dari perjalanan ini. Namun kemudian suara lain dalam diriku mengingatkanku: "Tidak apa-apa. Bahkan jika kau tidak sampai tepat waktu, itu tidak masalah. Perjalanan memang tidak ditakdirkan untuk berjalan sesuai rencana." Dengan itu, aku pun rileks. Aku memperlambat lajuku, membiarkan pemandangan meresap ke dalam diriku, dan menemukan kembali kegembiraan dalam mengayuh.

Kedatangan dan Momen-Momen Malam

Akhirnya, setelah mengayuh nyaris tanpa henti dari jalur pegunungan, aku berhenti untuk istirahat terakhir. Sebuah minuman yang belum kucicipi sejak Malang memberiku energi untuk melanjutkan perjalanan.

Menjelang malam, aku tiba di tempat menginapku—sebuah rumah yang diperkenalkan oleh seseorang yang kutemui di sekolah gratis sebelumnya. Sambutannya hangat, dengan camilan manis kecil yang menyenangkan disuguhkan begitu aku melangkah masuk.

Kemudian, putra mereka pulang ke rumah dan membawaku dengan mobil ke sebuah warung makan setempat. Melihat cara orang-orang memarkir kendaraan masih membuatku gugup—selalu terasa kacau di Indonesia. Tapi kekhawatiran-kekhawatiran kecil itu lenyap begitu aku mencicipi hidangannya: seporsi Mie Goreng yang sempurna.

Sambil makan, aku tak bisa tidak memperhatikan bagaimana harga-harga perlahan naik seiring aku mendekati Bali. Itu menjadi pengingat kecil akan perubahan-perubahan yang menanti di depan. Meski begitu, malam itu, dikelilingi oleh kebaikan dan makanan yang lezat, aku merasa bersyukur atas segala hal yang dibawa oleh hari itu untukku.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan