← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Jacup ke Ravensthorpe: Sehari Penuh Kebaikan, Es Krim, dan Makan Bersama

Berangkat Pagi dari Jacup

25 Maret. Aku berangkat dari Jacup dengan Ravensthorpe sebagai tujuan hari itu. Langit cerah, angin tenang, dan aku merasa yakin ini akan menjadi hari yang baik. Jalan terbentang di depan, panjang dan lurus, mengundangku untuk terus maju.

Menjelang siang, aku tiba dengan selamat di Ravensthorpe. Kota itu terasa ramah, orang-orangnya baik, dan udaranya lembut.

Kunjungan ke Museum dan Pertemuan yang Hangat

Dengan sedikit waktu luang, aku memutuskan untuk mampir ke museum setempat. Sambil perlahan berjalan menyusuri pameran, sepasang suami istri menghampiriku dan mulai melontarkan pertanyaan.

"Kamu berasal dari mana?" "Kenapa kamu melakukan perjalanan ini?" "Kapan perjalananmu dimulai?"

Pertanyaan datang bertubi-tubi, tapi aku sama sekali tidak keberatan. Justru sebaliknya, itu membuatku senang. Percakapan seperti ini tidak sering terjadi selama perjalanan, jadi saat orang menunjukkan ketertarikan, hal itu benar-benar menghangatkan hati.

Makanan, Es Krim, dan Ginger Beer

Karena persediaan makananku mulai menipis, aku mampir ke toko setempat untuk membeli oatmeal dan jus jeruk. Harganya agak mahal—sekitar 15 AUD untuk keduanya—karena supermarket di kota itu baru tutup dua minggu sebelumnya. Meski begitu, aku bersyukur masih bisa menemukannya.

Aku juga tak bisa menahan diri untuk mampir ke toko es krim di dekatnya. Es krimnya lezat, tapi yang lebih menarik perhatianku adalah minuman bernama "ginger beer." Meski namanya mengandung kata "beer," minuman ini sebenarnya tidak beralkohol—soda berkarbonasi dengan rasa jahe. Mencoba minuman khas lokal seperti ini menambah sedikit keseruan dalam perjalanan.

Ketika aku kembali ke museum, perempuan di meja depan dengan baik hati mengizinkanku mengisi daya ponselku. Tindakan yang begitu kecil, namun sangat berarti bagi seseorang yang menempuh jarak jauh. Kebaikan-kebaikan kecil seperti inilah yang membuat perjalanan ini terus berjalan.

Berkemah di Malam Hari dan Berbagi Makanan

Menjelang malam, aku meninggalkan kota. Karena tidak ada akomodasi yang tersedia, aku mengayuh sekitar lima kilometer lagi dan mendirikan kemah di tempat yang sepi.

Di sana, aku bertemu seorang pelancong asal Inggris. Ia ramah dan bahkan berbagi makanan denganku. Sebagai balasan, aku memberinya dua bungkus spageti yang belum sempat kupakai selama perjalanan. Malam itu, ia memasak pasta tersebut dan mengajakku untuk makan bersama.

Itu hanyalah hidangan mi sederhana, tapi menyantapnya bersama membuat rasanya terasa luar biasa istimewa. Berbagi makanan seperti itu mengingatkanku betapa hubungan antarmanusia memberi kekayaan pada setiap perjalanan.

Menatap ke Depan Menuju Esperance

Esperance masih lebih dari 100 kilometer jauhnya, tapi aku berencana menempuh dua hari untuk mencapainya. Tidak perlu terburu-buru. Hari-hari seperti ini—dipenuhi kebaikan, percakapan, dan makan bersama—adalah harta sejati dari sebuah perjalanan.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan