← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Ceduna Menuju Poochera: Hari yang Panjang di Jalan dan Hadiah Kari

Pagi yang Dibuka oleh Matahari Terbit

Sambil mengusap sisa kantuk dari mataku, aku perlahan membuka ritsleting tenda. Di hadapanku terbentang langit yang dilukis lembut oleh matahari pagi.

Aku berkemah sekitar 10 kilometer dari Ceduna, di sebuah lahan terbuka yang sunyi. Angin kering, aroma tanah, dan suara burung-burung mengingatkanku bahwa meski telah melintasi Nullarbor, alam Australia masih sangat hidup.

Tak lama setelah berangkat, jalan terbentang lurus di depan, mengingatkanku pada Nullarbor—tapi kali ini, ada jalur khusus sepeda.

Mungkin terdengar sepele, tapi bagi seorang pesepeda, jalur aspal tipis itu adalah sebuah hadiah. Hatiku seketika terasa lebih ringan.

Berbagi Jalan dengan Raksasa

Tentu saja, kendaraan-kendaraan besar dan panjang itu masih ada di sana.

Deru mesin mereka dan hembusan angin saat melintas masih membuatku tersentak. Tapi kini, bahkan itu terasa seperti bagian dari irama perjalanan, sesuatu yang perlahan aku pelajari untuk kuterima.

Singgah di Wirrulla

Menjelang siang aku tiba di Wirrulla, kota kecil berpenduduk kurang dari 100 orang, yang kadang disebut "Gerbang menuju Outback."

Wirrulla Progress Caravan Park kecil, tapi sempurna untuk beristirahat, dan pemberhentian di pinggir jalan ini punya cukup fasilitas untuk mengisi ulang tenaga.

Berjalan sedikit lebih jauh, aku menemukan sesuatu yang tak biasa—patung raksasa "Dinosaur Ant." Ini adalah spesies semut yang benar-benar ada, konon berukuran tiga kali lebih besar dari semut biasa, agresif, dan sangat sulit dibunuh. Aku merinding membayangkan bertemu dengannya secara langsung.

Tertarik oleh Aroma Kari

Setelah hampir 60 kilometer, aroma yang tak asing menyelinap di udara—rempah-rempah, hangat dan menggoda.

Tak salah lagi, itu adalah aroma kari.

Mengikuti penciumanku, aku sampai di sebuah roadhouse yang dikelola oleh sebuah keluarga India. Selain barang-barang biasa, ada juga makanan dan camilan buatan tangan, memenuhi toko kecil itu dengan suasana yang hangat seperti rumah.

Sang pemilik, seorang pria yang ramah, bertanya apakah aku sedang bersepeda melintasi Australia. Ketika aku mengangguk, ia menghilang ke dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan sepiring kari yang masih mengepul.

"Bawalah ini," katanya, sambil menyerahkannya.

Hanya kalimat pendek, tapi begitu berbobot. Kebaikannya membuatku terdiam.

Kari yang Menghangatkan Malam

Malam itu, aku mendirikan tenda di sudut sunyi tak jauh dari jalan.

Makan malamku, tentu saja, adalah kari pemberiannya.

Duduk di atas tanah Australia, menyantap makanan dari India—rasanya seperti dua dunia bertemu dalam uap hangat makanan itu. Karinya sedikit pedas, namun lembut, menghangatkan bukan hanya tubuhku, tapi juga hatiku.

Yang paling membekas bukanlah rasanya, melainkan kebaikan di balik kata-kata sederhana itu: "Bawalah ini."

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan