← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Alat yang Rusak ke Jalanan Pedesaan: Rasa Syukur dalam Perjalanan

Masalah di Pagi Hari dan Perpisahan

Pada 5 Maret, aku bangun di rumah host-ku dan mendapati bahwa mount GoPro-ku sudah rusak total. Aku berhasil memperbaiki sebagian, tapi bagian yang menahan sekrup pada tempatnya hilang. Tanpa itu, kamera bisa dengan mudah terjatuh.

Tidak banyak yang bisa kulakukan selain mengandalkan mount cadangan dan terus melaju. Masalah-masalah kecil seperti ini adalah bagian dari perjalanan, dan meski kadang membuat frustrasi, semua itu juga mengingatkanku bahwa mengatasinya adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.

Setelah berkemas, tiba waktunya berpamitan dengan keluarga host-ku. Kebaikan dan keramahan mereka telah memberiku istirahat yang kubutuhkan. Sebelum pergi, aku mengucapkan selamat kepada putra mereka atas pernikahannya yang akan segera berlangsung. Dengan rasa syukur di hati, aku pun berangkat kembali.

Memasuki Pedesaan

Melihat peta sehari sebelumnya, aku menyadari bahwa pemandangan akan segera berubah dari kota menjadi pedesaan. Aku bersemangat. Meski bersepeda di kota punya daya tariknya sendiri, kesamaan jalanan perkotaan bisa terasa monoton. Memasuki pedesaan menjanjikan sensasi kebebasan yang baru.

Setelah sekitar satu jam bersepeda dari Busselton, pemandangan akhirnya terbuka menjadi jalanan pedesaan yang panjang membentang. Tak lama kemudian, aku melewati rambu peringatan penyeberangan possum. Australia punya banyak rambu hewan yang menarik—bebek, kanguru, bahkan dingo yang mirip anjing liar dari Jepang utara. Masing-masing menambah karakter pada jalanan.

Tidak lama setelah itu, aku menjumpai Mallokup Bridge, situs bersejarah yang terkait dengan era kolonial awal Australia dan kerja paksa para narapidana. Suasana yang tenang di sekitarnya memberiku waktu untuk berhenti sejenak, makan siang, dan merenungkan sejarah yang tersimpan dalam balok-balok kayu ini.

Tantangan di Jalan

Kembali di atas sepeda, jalanan terbentang lurus nan indah di bawah terik matahari. Udaranya panas, tapi keterbukaannya terasa membebaskan. Kemudian jalan beraspal berganti menjadi jalan tanah. Bannya tidak dirancang untuk medan seperti ini, dan bersepeda pun dengan cepat menjadi sulit.

Yang lebih parah, aku sadar persediaan airku menipis hingga ke titik yang berbahaya. Aku memutuskan untuk meminta air di rumah terdekat. Ketika kujelaskan bahwa aku membutuhkan air, mereka dengan baik hati mengisi botol-botolku dan bahkan menawarkan lebih. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa meminta bantuan itu penting. Di Jepang, mungkin aku akan ragu, tapi di sini, orang-orang merespons dengan hangat ketika kamu mengulurkan tangan.

Sambutan Hangat dan Pekerjaan Tak Terduga

Begitu aku tiba di rumah host-ku, aku disambut bukan hanya oleh orang-orang, tapi juga oleh seekor anjing besar yang penuh energi, yang melompat ke arahku seolah aku adalah bagian dari keluarga. Aku menghabiskan hampir dua jam bermain dengannya sebelum teringat tugas yang sempat kutunda—memperbaiki ban kempis yang kudapati hanya 30 menit sebelum tiba.

Dalam artian tertentu, aku bersyukur. Ban kempis yang terjadi begitu dekat dengan tempat yang aman jauh lebih baik daripada terjadi di tengah antah berantah. Setelah perbaikan selesai, aku membersihkan diri dan duduk untuk makan malam.

Makan malam itu adalah spageti dengan bakso. Sambil perlahan menyantap setiap suapan, aku memikirkan betapa banyak makna yang bisa dibawa oleh makanan sederhana setelah sehari penuh usaha dan rasa syukur.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan