Perpisahan dengan Banyuwangi

Pada 16 Februari, akhirnya aku berangkat dari Banyuwangi menuju Bali. Selama tiga hari, Devin telah merawatku dengan segala cara yang mungkin.
Di tengah kesibukan bersiap untuk berangkat, aku bahkan tidak menyadari bahwa di halaman belakang, ayahnya memelihara beberapa ekor sapi. Ada juga sebuah kandang kambing dengan sekitar tiga puluh ekor kambing di dalamnya. Mengejutkan menyadari betapa banyak kehidupan yang mengelilingi rumah itu.
Devin sendiri yang mengantarku ke pelabuhan. Sampai detik-detik terakhir, kebaikannya terus terlihat. Ia benar-benar perwujudan dari keramahan.
Momen Tak Terduga Sebelum Keberangkatan

Dalam perjalanan, aku teringat beberapa hal yang kubutuhkan dan singgah di sebuah toko lokal kecil. Yang mengejutkan, ada kru syuting di sana, dan sebelum aku sadari, aku pun ikut menjadi bagian dari pengambilan gambar. Aku tertawa dan berjanji, "Lain kali aku datang, aku akan membeli jauh lebih banyak."
Kemudian kami tiba di pelabuhan menuju Bali.
Yang membuatku tercengang, Devin sudah membelikan tiket feriku. Bahkan sampai detik-detik terakhir, perhatiannya membuatku terharu. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihku. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika suatu saat ia datang ke Jepang, aku akan memberikannya keramahan terbaik yang bisa kuberikan.
Menyeberang ke Bali

Proses naik feri dengan sepeda dari Banyuwangi ternyata sederhana. Aku hanya mengikuti instruksi petugas sambil tetap mengendarai sepeda. Ada pelabuhan-pelabuhan lain yang mengharuskan pesepeda membongkar barang bawaan mereka, yang cukup merepotkan, tetapi di sini semuanya lancar dan mudah.
Perjalanan feri memakan waktu sekitar satu jam. Aku begitu lelah sampai tidak sempat memotret. Turun dari feri juga sama sederhananya—aku langsung mengayuh turun tanpa kendala. Tak lama kemudian, aku sudah berdiri di Bali.
Kesan Pertama tentang Bali

Dari pelabuhan, aku mengayuh sepanjang jalan utama menuju Denpasar. Seketika, aku menyadari perbedaan-perbedaan dari Jawa.
Pohon-pohon di pinggir jalan dipenuhi monyet, puluhan jumlahnya. Mereka tidak menyerang, tetapi aku tahu menggoda mereka bisa mendatangkan masalah. Melewati kawasan berhutan, anjing-anjing mulai muncul.
Karena Bali berakar pada agama Hindu, anjing dianggap suci, dan mereka ada di mana-mana. Namun, berbeda dari anjing-anjing liar yang kutemui di Thailand, anjing-anjing di sini tidak mengejar sepedaku. Perbedaan itu membuat perjalanan terasa lebih tenang.
Istirahat dan Renungan

Di sepanjang jalan, aku berhenti untuk makan sederhana. Aku memesan Soto Ayam dan Es Teh. Harganya sedikit di atas 20.000 rupiah. Tidak terlalu mahal, tetapi jelas lebih tinggi dari biasanya, kemungkinan karena pengaruh wisatawan.
Kemudian, aku menemukan hotel untuk menginap dan mengakhiri perjalanan hari itu. Tubuhku terasa berat. Setelah jeda singkat dari bersepeda, kelelahan tampaknya menghantamku lebih keras. Aku berpikir dalam hati, mungkin sudah saatnya aku menambahkan latihan kekuatan ke dalam rutinitasku.
