← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Bali ke Perth: Hari Pertama Seorang Pesepeda di Australia

Berkemas Tengah Malam dan Perpisahan dengan Indonesia

Hari yang telah lama dinantikan akhirnya tiba: aku meninggalkan Indonesia dan menuju Australia. Di tengah malam, aku mulai membongkar sepedaku, melepas setiap bagian satu per satu. Membongkarnya cukup mudah, tetapi aku tidak bisa menahan kekhawatiran apakah aku akan bisa memasangnya kembali dengan benar.

Untungnya, staf hotel dengan baik hati menawarkan bantuan untuk mengemas, meskipun sudah larut malam. Dukungan mereka membuatku sadar betapa beruntungnya aku bertemu orang-orang yang begitu hangat di hari terakhirku di Indonesia.

Perjalanan dari Bali ke Perth

Di bandara, kotak sepeda dan tasku yang dikemas rapi membuat bagasiku terlihat mengejutkan ringan. Tiketku adalah untuk penerbangan Bali–Perth, sebuah rute yang banyak pelancong tidak sadari bisa sangat terjangkau—terkadang serendah ¥10.000 jika bepergian tanpa bagasi terdaftar.

Selama penerbangan, aku mencoba bersantai. Namun pada satu momen, GoPro-ku tiba-tiba menyala dan mengeluarkan suara, mengagetkanku dan beberapa penumpang di sekitarku. Itu salahku sendiri karena mengutak-atiknya karena bosan—kepanikan kecil yang sebenarnya tidak perlu.

Setelah beberapa jam, pesawat mendarat di Perth. Kotak sepedaku tiba dengan selamat, dan aku mulai memasangnya kembali. Sambil bekerja, aku memikirkan betapa sedikitnya bahasa Inggris yang kupakai akhir-akhir ini dan bertanya-tanya bagaimana cara terbaik meminta bantuan jika diperlukan. Sekitar 30 menit kemudian, sepeda mulai terbentuk, dan dalam waktu satu jam, sepeda itu sudah sepenuhnya siap dikendarai lagi.

Kesan Pertama tentang Perth

Hal pertama yang kusadari adalah udaranya. Panas, tetapi minimnya kelembapan membuatnya terasa segar dan menyenangkan. Rasanya seperti suasana yang sama sekali berbeda dibandingkan Asia Tenggara.

Saat aku mulai bersepeda, aku langsung terkesan dengan jalur sepeda yang dirancang dengan baik. Berbeda dengan jalanan kacau yang sudah kuakrabi, di sini aku bisa bersepeda dengan mudah dan percaya diri. Taman-taman muncul di mana-mana, dengan ruang hijau terbuka yang membuat kota terasa tenang dan seimbang. Mengamati langkah santai orang-orang di sekitarku, aku merasa suasana damai ini sangat terkait dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Saat beristirahat di salah satu taman, aku melihat seekor burung kecil yang pada awalnya terlihat seperti gagak, tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda darinya. Tak lama kemudian, seekor bebek berjalan mendekat. Dengan danau dan jalur airnya, Perth tampak seperti kota tempat alam dan manusia hidup berdampingan dengan harmonis.

Sambutan Hangat dari Tuan Rumahku

Menjelang sore, aku tiba di rumah tuan rumahku di Perth. Kenyamanan kasur empuk adalah sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Sambil beristirahat, tuan rumahku mengajakku ke pantai, dan aku pun setuju dengan senang hati.

Lautnya sangat indah, dengan warna-warna yang terasa hampir tidak nyata. Angin sepoi-sepoi berhembus melintasi pasir, dan anjing-anjing berlarian bebas di sepanjang pantai. Rasanya benar-benar seperti surga.

Malam itu, kami makan malam bersama, dan aku menikmati segelas anggur untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu. Itu adalah penutup yang sempurna untuk hari pertamaku di Australia—hari yang dipenuhi kelegaan, penemuan, dan rasa syukur.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan