Pagi yang Lembap dan Kopi yang Tenang
Aku terbangun dalam keheningan setelah semalaman diguyur hujan deras. Entah bagaimana, tendaku berhasil bertahan.
Udara terasa lembap, dan sinar matahari pertama menyusup lembut menembus kabut.
Sekaleng kopi dan sekaleng makanan—sederhana namun cukup—menandai awal hari lain untuk terus mengayuh maju.
Bertemu Pengembara dari Finlandia
Tak lama setelah berangkat, aku bertemu seorang pengembara muda dari Finlandia.
Dia sedang menumpang perjalanan menuju Adelaide, matanya berbinar dengan percikan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan. Dia tak perlu menjawab ketika kutanya tentang perjalanannya—kegembiraan petualangan sudah terpancar jelas di wajahnya.
Mengobrol dengannya terasa menyegarkan, seolah dunia tiba-tiba terasa lebih luas. Beberapa pengembara membawa energi semacam itu, dan hanya dengan berada di dekat mereka saja semangatmu ikut terangkat.
Tak lama kemudian, dia mendapat tumpangan truk yang lewat, melambaikan tangan ke arahku. "Nikmati perjalananmu di sini!" serunya sambil tersenyum lebar.
Lima Kilometer Terakhir
Seiring hari berlalu, angin bertiup semakin kencang. Dengan tersisa lima kilometer lagi sebelum Kimba, hembusan angin datang bukan hanya dari depan, tapi seolah juga menghantam dari atas, menekanku ke jalan yang sempit.
Truk-truk melaju kencang melintasiku, cukup dekat hingga membuat tubuhku terguncang oleh hembusan anginnya. Rasa takut dan fokus melebur jadi satu, dan dengan seluruh konsentrasi yang tersisa, akhirnya aku berhasil tiba di roadhouse.
Kimba—kota kecil di Australia Selatan yang dikenal sebagai Halfway Point Across Australia (titik tengah lintas Australia). Sebuah patung emu raksasa menyambut para pengembara, pengingat bahwa tempat ini adalah landmark sekaligus tempat istirahat bagi mereka yang menyeberangi benua.
Hujan dan Barang-Barang yang Basah Kuyup
Baru saja aku tiba, langit kembali terbuka dan hujan turun lagi.
Dalam hitungan menit, semua barang yang kutinggalkan di luar basah kuyup.
Aku menghela napas, setengah tertawa sendiri. "Ya... ini juga bagian dari perjalanan." Kadang menenangkan diri sama pentingnya dengan memperbaiki sepeda.
Perbaikan, Air, dan Pertarungan yang Sunyi
Sebelum meninggalkan Kimba, aku mengisi botol-botolku di stasiun air gratis—tindakan yang terasa seperti kemurahan hati murni dari kota itu sendiri.
Tapi kelegaan itu tak bertahan lama. Sepedaku kembali rusak.
Apakah itu ban luarnya? Ban dalamnya? Aku tak yakin. Kukeluarkan semua alat yang kupunya, mencoba satu per satu. Dalam prosesnya, bahkan tuas bannya pun patah.
Saat itu aku sadar—ketika alat rusak, bukan hanya perlengkapan yang rusak. Semangatmu pun ikut terpukul.
Entah bagaimana, aku berhasil memompa udara kembali ke roda. Apakah itu akan bertahan sampai besok, aku tak tahu. Ketidakpastian itu terus membayangi, tapi tak ada lagi yang bisa dilakukan selain terus maju.
Perjuangan pun Bagian dari Perjalanan
Perjalanan memang tidak selalu berjalan mulus. Bahkan, perjalanan tanpa hambatan tak akan menyisakan banyak cerita untuk diceritakan.
Entah itu angin, hujan, alat yang rusak, atau roda yang bermasalah—pilihannya tetap sama: terus melangkah.
Maka, sambil menutup ritsleting tendaku malam itu, aku berbisik pada diri sendiri:
"Semua akan baik-baik saja. Besok akan lebih baik."
