← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Poochera ke Koongawa: Angin, Toko-Toko Tutup, dan Gelombang Kebaikan

Pagi yang Diterjang Angin Tanpa Henti

Pukul 5 pagi, aku terbangun secara alami oleh cahaya samar yang menembus tendaku.

Dengan sekaleng kopi dan sedikit tuna, aku menikmati sarapan sederhana sebelum melipat tenda di udara pagi yang dingin.

Namun jalanan hari itu tak kenal ampun. Angin sakal menerpaku, mendorongku mundur betapapun keras aku mengayuh. Rasanya seperti ada yang berbisik, “Kamu tidak perlu ke mana-mana hari ini.”

Meski begitu, aku terus melaju maju, satu kayuhan pelan demi satu kayuhan.

Minnipa dan Beratnya Pintu-Pintu Tertutup

Menjelang siang, aku tiba di Minnipa, kota kecil dengan sekitar 150 penduduk, yang dikenal sebagai gerbang menuju Mount Granite.

Aku berharap bisa membeli perbekalan di sana, tetapi sayangnya, semua toko tutup karena Paskah.

Jalanan sunyi, pintu-pintu terkunci. Yang bisa kulakukan hanyalah meminjam toilet dan melanjutkan perjalanan.

Itu salah satu kekecewaan kecil yang datang bersama perjalanan panjang—momen ketika jalan mengajarkanmu untuk mengangkat bahu dan berkata, “Ya memang begitu adanya.”

Siang Hari di Wudinna

Setelahnya aku tiba di Wudinna, kota yang lebih besar dengan sekitar 600 penduduk. Kota ini dikenal dengan patung-patung granitnya dan monumen “Australian Farmer” yang mengesankan.

Di caravan park, aku bertanya kepada salah satu staf apakah aku boleh beristirahat sejenak. Ia tersenyum hangat dan mengiyakan.

“Kamu butuh makanan? Air minummu cukup?” tanyanya. Kebaikannya meresap dalam ke hatiku yang lelah.

Aku duduk di tempat teduh, membiarkan tubuhku rileks. Lalu aku merasakan sebuah dorongan:

“Aku ingin mengucapkan terima kasih dengan sepantasnya.”

Maka aku mengeluarkan secarik kertas kecil dan menulis catatan ucapan terima kasih. Menuliskan kata-kata itu membuat ikatan itu terasa nyata, seolah akan tetap bersamaku lama setelah aku pergi.

Badai Lalat

Seiring siang berlalu, angin semakin kencang. Dan bersamanya datang tantangan baru—lalat.

Mereka mengerumuni wajahku, mencoba merayap masuk ke mulutku, menempel di mata dan telingaku.

Sesaat rasanya seperti neraka sungguhan.

Tapi kemudian, anehnya, aku mendapati diriku tertawa.

“Mungkin dikepung lalat sebanyak ini, sekali seumur hidup, tidak seburuk itu juga.”

Perjalanan punya caranya sendiri untuk mengubah kesulitan menjadi kisah yang layak dikenang.

Mengakhiri Hari di Antara Pepohonan

Menjelang malam, tubuh dan sepedaku sama-sama terasa lelah. Rak belakangnya berderit, dan kakiku terasa berat.

“Cukup untuk hari ini,” pikirku.

Aku mendirikan tenda di samping barisan pohon yang sunyi. Matahari terbenam mewarnai cakrawala dengan jingga lembut, dan bahkan angin pun terasa lebih tenang seiring hari yang meredup.

“Ternyata hari ini tidak seburuk itu.”

Pikiran itu membawaku dengan tenang memasuki malam.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan