Pagi di Preston Beach

Pada 1 Maret, aku terbangun di Preston Beach dan mendapati angin begitu kencang sampai menerbangkan kain peneduhku jauh entah ke mana. Berkemah di sini berarti menyimpan sebagian besar perlengkapan pentingku di dalam tenda, meski beberapa barang yang lebih besar harus tetap berada di luar. Aku selalu memastikan bahwa apa pun yang kutinggalkan di luar adalah barang yang masih bisa kurelakan jika hilang, untuk berjaga-jaga.
Sepatuku, bagaimanapun, sudah hampir mencapai akhir masa pakainya. Mereka telah menemaniku menempuh banyak kilometer, dan aku tahu pada suatu titik aku harus mengirimkannya pulang ke rumah keluargaku sebagai kenang-kenangan.
Kebaikan Tak Terduga di Jalan

Meninggalkan Preston Beach, aku melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan. Saat aku bersiap melintas di sisi kanan, sang pengemudi mengulurkan tangan dan memberikan sesuatu kepadaku. Ternyata ia sudah melihatku sebelumnya, mengira aku akan terus lurus, dan sengaja mendahului hanya untuk membelikanku sebotol Gatorade.
Hari itu begitu terik, dan minuman dingin itu terasa seperti penyelamat. Momen-momen seperti inilah yang mengingatkanku betapa kebaikan orang asing bisa mengubah sepenuhnya jalannya suatu hari.
Lebih jauh lagi, sepasang suami istri lain berhenti untuk mengobrol denganku. Mereka bilang sedang menuju turnamen tenis. Kami tertawa, berbagi beberapa cerita, dan aku mendoakan keberuntungan mereka. Bisa berhenti sejenak, mengobrol, dan terhubung tanpa terburu-buru—itu adalah salah satu kebahagiaan paling murni dari sebuah perjalanan.
Mengayuh Menuju Busselton

Setelah sekitar satu jam mengayuh di sepanjang jalan kecil yang sepi, aku begitu senang melihat jalur sepeda yang layak lagi. Di selatan Perth, jalur semacam ini semakin jarang ditemui, jadi menemukannya memberiku rasa lega sekaligus bahagia.
Di sisi kananku, lautan terbentang indah, cakrawalanya yang tenang menawarkan kedamaian. Aku berhenti sejenak di sana, membuka sebuah buku, dan bahkan meluangkan beberapa menit untuk bermeditasi.
Memandangi sepedaku dari kejauhan, aku menyadari betapa berat dan usangnya ia terlihat. Melalui lensa kamera, sepeda itu seolah sedang berbicara kepadaku—menceritakan betapa beratnya perjalanan ini sesungguhnya. Aku berpikir dalam hati, mungkin aku perlu mempertimbangkan ulang cara memuat barang-barangku agar bebannya lebih ringan.
Tiba di Busselton

Setelah satu jam lagi mengayuh, aku tiba di Busselton. Kota ini langsung memukauku dengan keindahannya—jalan-jalan yang sepi, taman-taman kecil, dan kolam-kolam yang menyatu sempurna dengan alam. Udaranya sendiri terasa lebih segar di sini, dan suasananya yang tenang membuatku merasa nyaman.
Ketika aku tiba di rumah tuan rumahku, aku disambut dengan bir Jepang yang dingin dan sepiring camilan. Setelah perjalanan yang panjang dan panas, ini adalah salah satu sambutan terbaik yang pernah kubayangkan.
Aku berencana untuk tinggal di sini selama beberapa hari, memulihkan tenaga, dan mengumpulkan kekuatan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya dari perjalanan ini.
