← Cerita
Diary·Indonesia·23 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Kesan Pertama Jakarta: Bersepeda ke Dalam Kekacauan dan Kebaikan Hati

Tiba di Jakarta

Pada tanggal 30 Desember, aku akhirnya tiba di Jakarta. Begitu aku turun dari kapal, orang-orang mulai berkumpul di sekelilingku. Banyak yang tampak penasaran melihat seorang turis asing melintasi Indonesia dengan sepeda.

Di antara mereka, aku memperhatikan seorang pemuda yang, sepertiku, membawa sepeda ke atas kapal. Ia bepergian bersama orang tuanya dan akan membawa pulang sepedanya dengan mobil. Bertemu seseorang yang memiliki hasrat yang sama terhadap bersepeda, bahkan di tanah yang begitu jauh ini, memberiku rasa gembira yang tak terduga.

Jalanan Jakarta

Begitu aku berangkat menuju kota, aku langsung merasakan denyut nadi jalanan Jakarta. Motor dan mobil memenuhi setiap ruang, bergerak dengan irama yang sekaligus membuat kewalahan dan menegangkan.

Hanya beberapa menit setelah meninggalkan pelabuhan, aku menjumpai genangan banjir kecil yang menghalangi sebagian jalan. Aku sudah melihat tanda-tanda banjir di Google Maps sebelum berangkat, jadi aku sudah memperkirakannya. Yang tidak kuduga adalah kepadatan lalu lintasnya. Truk-truk melintas dengan jarak yang berbahaya dekat, dan lebih dari sekali aku membatin, "Apakah aku akan sampai ke kota ini dengan selamat?"

Berteduh dari Hujan

Setelah sekitar 10 kilometer, hujan mulai turun deras. Aku berhenti untuk beristirahat dan menyantap sarapan layak pertamaku, karena kapal tiba pukul 5 pagi dan tidak menyediakan makanan pagi itu.

Namun hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Berjam-jam berlalu. Aku mengeluarkan laptopku dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan. Aku kembali tersadar betapa beruntungnya aku bisa bekerja di mana saja di dunia ini. Untuk itu, aku sangat bersyukur kepada perusahaan yang memberiku kebebasan ini.

Akhirnya, setelah hampir empat jam, hujan mulai mereda. Aku kembali naik ke sepeda, siap untuk melanjutkan perjalanan.

Menyusuri Jalanan Jakarta

Pinggiran Jakarta masih dipenuhi kendaraan, dan bernavigasi sama sekali tidak mudah. Tata kota ini sering kali tidak memungkinkan putar balik, memaksaku bersepeda menempuh jarak tambahan yang jauh sebelum bisa menyeberang ke sisi yang benar.

Hotelku hanya berada tepat di seberang jalan, namun tak terjangkau tanpa memutar jauh. Awalnya ini terasa membuat frustrasi, tapi kemudian aku berpikir: jika putaran balik ada di mana-mana, lalu lintas pasti akan lebih parah lagi. Mungkin pemerintah tidak punya pilihan lain selain merancang jalan seperti ini.

Akhirnya, setelah tiga kilometer tambahan bersepeda, aku pun tiba di hotelku.

Malam di Lingkungan Sekitar

Kelelahan, aku berniat tidur sebentar tapi akhirnya tertidur pulas hingga pukul 9 malam. Karena lapar, aku keluar mencari makan malam. Ternyata, lingkungan ini adalah bagian dari kawasan perumahan kelas atas. Restoran ada di mana-mana, tapi bagi seorang pelancong sepertiku, pemandangan pintu-pintu mengkilap dan interior yang berkilauan terasa berat, hampir-hampir tidak ramah.

Jadi aku bertanya ke sana kemari dan akhirnya menemukan apa yang kuharapkan—sebuah warung kaki lima kecil. Aku memesan telur dengan sayur pedas. Rasa pedasnya luar biasa, dan perutku memberontak, tapi rasanya akan tetap menjadi salah satu kenangan perjalanan yang tak terlupakan.

Pemilik warung itu baik hati. Ketika kuceritakan bahwa aku sedang bersepeda mengelilingi negeri ini, ia tersenyum dan menyodorkan sebotol air putih kepadaku. Tindakan kemurahan hati yang sederhana itu kembali mengingatkanku mengapa aku mencintai perjalanan.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan