Sarapan Sebelum Bersepeda

Tanggal 27 November menjadi hari aku akhirnya tiba di Kuala Lumpur. Sebelum berangkat, aku mampir ke warung makan di sebelah guesthouse-ku untuk sarapan. Seperti dugaanku, rasanya lezat.
Di setiap negara yang kulewati, terkadang aku menemui hidangan yang membuatku ragu untuk mencobanya. Tapi di Malaysia, belum sekali pun aku mendapat hidangan yang buruk. Bagi seorang pelancong, keandalan seperti itu adalah berkah. Setelah selesai, aku menyiapkan perlengkapanku dan mengenakan pelindung tambahan untuk hujan, karena cuaca sedang kurang bersahabat.
Di Jalan di Tengah Hujan

Aku bersepeda selama sekitar empat jam menembus hujan yang terus-menerus, membuat kemajuan yang baik menuju kota. Dekat Kuala Lumpur, aku berhenti untuk beristirahat dan mencoba sebuah minuman yang, kata orang, berasal dari India. Rasanya menyegarkan, jenis minuman yang kamu inginkan saat butuh menjernihkan pikiran.
Momen-momen seperti itu—jeda dalam perjalanan, menemukan sesuatu yang baru—mengingatkanku bahwa bepergian bukan hanya soal mencapai tujuan. Ini juga tentang pertemuan-pertemuan kecil di sepanjang jalan.
Kesan Pertama tentang Kuala Lumpur

Tak lama kemudian, siluet gedung-gedung Kuala Lumpur mulai terlihat, dan aku memasuki kota. Aku sempat mengira kota ini tidak akan seramai Bangkok atau Ho Chi Minh City, tapi aku salah. Jalanannya sama padatnya, bahkan mungkin lebih. Lalu lintas menuntut perhatian penuhku, tapi aku tak bisa menahan rasa gembira yang menggebu.
Saat aku tiba di dekat rumah tuan rumah WarmShowers-ku, aku telah menempuh 54,9 kilometer. Berkat usaha panjang kemarin, perjalanan hari ini lebih pendek dan lebih mudah dikendalikan. Aku diam-diam berterima kasih kepada diriku sendiri di masa lalu karena telah berjuang keras sehari sebelumnya.
Menunggu dan Merenung

Tuan rumahnya belum pulang, jadi aku mampir ke Starbucks terdekat. Sudah lama sejak terakhir kali aku mengunjungi tempat seperti itu, dan suasana yang akrab itu memberiku kesempatan untuk beristirahat dan fokus. Aku membuka laptop, mengerjakan penyuntingan video, dan merapikan catatan untuk blogku.
Rasanya menyenangkan untuk berhenti sejenak, merenungkan sejauh apa perjalananku, dan menyadari bahwa aku telah mencapai ibu kota Malaysia dengan sepeda.
