← Cerita
Diary·Indonesia·23 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Feri atau Kapal? Sebuah Kesalahpahaman dan Perjalanan dari Batam ke Jakarta

Pagi di Batam

28 Desember, Pulau Batam, Indonesia. Tugas pertamaku adalah mencari tiket menuju Jakarta. Aku bertanya kepada seorang pria yang berdiri di depan hotel, dan yang mengejutkanku, dia menjawab, "Anak saya jual tiket."

Ternyata anaknya bekerja di sebuah agen perjalanan. Biayanya sedikit lebih tinggi dari tarif resmi, tapi aku berhasil membeli tiket kelas ekonomi seharga 300.000 rupiah (sekitar 2.886 yen), ditambah biaya agen sebesar 50.000 rupiah (sekitar 481 yen). Dengan tiket di tangan, aku merasa lega—tidak perlu berlarian mencari sepanjang hari.

Dengan waktu berjam-jam tersisa sebelum keberangkatan pukul 10 malam, aku memutuskan untuk bersantai. Aku berpamitan dengan staf hotel, lalu bersepeda menuju terminal feri. Tinggal di dekat sana membuatku merasa tenang. Aku tertawa pada diriku sendiri, menyadari betapa sangat Jepang sikap itu—selalu bersiap lebih awal demi merasa aman.

Di sebuah kafe dekat terminal, aku makan siang. Kapal itu akan menyediakan tiga kali makan selama perjalanan, tapi makanannya dikenal sangat sederhana. Aku ingin menikmati makanan yang layak sebelum perjalanan dimulai.

Masalah di Terminal

Menjelang malam, aku menuju terminal. Saat aku bertanya tentang feri, staf hanya menjawab, "Tidak ada feri."

Rasa panik melandaku. Aku bertanya kepada beberapa orang, tapi jawabannya selalu sama—"Tidak ada feri." Aku berdiri kebingungan, sampai seorang pengendara motor berhenti dan bertanya ada apa.

Ketika aku menjelaskan soal keberangkatan pukul 10 malam, dia berkata, "Itu bukan feri, itu kapal." Orang-orang lain di sekitar membenarkan: "Kalau kapal, terminalnya 300 meter di jalan sana."

Saat itulah aku menyadari kesalahanku. Bagiku, feri dan kapal sama-sama hanya "perahu." Tapi di sini, perbedaannya jelas. Aku mengikuti pengendara motor itu, dan akhirnya, aku menemukan terminal kapal PELNI.

Naik ke Kapal PELNI

Aku satu-satunya orang asing di sana. Orang-orang memandangku dengan rasa penasaran, tapi tak lama kemudian mereka mulai mengajakku mengobrol. Antreannya panjang, tapi kebaikan mereka membuat penantian terasa lebih ringan.

Pada satu titik, seorang pria yang lebih tua membantu memandu prosesku. Aku merasa berterima kasih—sampai dia meminta uang setelahnya. Aku tidak memberikan apa-apa. Aku berharap dia sudah terus terang sejak awal.

Lalu muncul biaya bagasi. Biaya resminya adalah 480.000 rupiah (sekitar 4.615 yen), tapi karena aku tidak memiliki uang tunai sebanyak itu, mereka menerima 150.000 rupiah sebagai gantinya. Aku beruntung.

Akhirnya, tiba waktunya untuk naik ke kapal. Para penumpang berfoto kenangan sebelum melangkah naik. Aku mengetahui bahwa selama musim Tahun Baru, jumlah penumpang justru lebih sedikit dari biasanya karena harga tiket naik sedikit. Meski begitu, tarif kelas ekonomi hanya sekitar 3.000–4.000 yen—harga yang sangat murah untuk perjalanan sejauh itu.

Kehidupan di Atas Kapal

Di dalam, sepeda-sepeda memiliki area penyimpanan sendiri. Ruang tidur dipenuhi tempat tidur bertingkat yang berjejalan rapat. Aku mendapat bagian di ranjang atas. Cukup nyaman, dengan stopkontak untuk mengisi daya, tapi tidak ada bantal. Untuk para pelancong di masa depan—bawalah bantal sendiri jika kamu membutuhkannya.

Untuk makan, kami diberi tiket. Kehilangan tiketnya berarti kehilangan jatah makanmu. Aku menyimpan tiketku dengan hati-hati di dalam tasku.

Pertemuan Tak Terduga

Lalu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Seorang anak laki-laki yang sempat aku ajak mengobrol sebelum naik kapal ternyata menjadi tetanggaku di kapal. Dia bercerita bahwa begitu tiba di Jakarta, dia akan melanjutkan perjalanan ke Bandung, tempat dia akan bersekolah di sebuah sekolah berasrama.

Berapa besar kemungkinannya kami berakhir bersebelahan seperti ini? Tiba-tiba, perjalanan panjang ini tidak lagi terasa sesepi sebelumnya.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan