Pagi dari Gedung Tinggi

25 Oktober. Aku mendapati diriku memandang keluar dari sebuah kondominium bertingkat tinggi, tempat yang membuatku bertanya-tanya apakah aku benar-benar sedang menjalani kehidupan seorang pelancong bersepeda.
Tubuhku akhirnya mulai pulih. Demamnya mulai reda, meski tenggorokanku masih terasa sedikit tidak nyaman. Sebelum berangkat, aku meminum vitamin C yang kubeli kemarin. Sampai perjalanan ini dimulai, aku tidak pernah sekalipun memikirkan vitamin. Tapi setelah jatuh sakitāmenggigil, mata lelah, sakit tenggorokanāaku terpaksa berhenti selama hampir lima hari. Aku belajar dengan cara yang sulit bahwa kesehatan adalah segalanya. Mulai sekarang, vitamin akan menjadi teman diam-diam di sepanjang perjalanan.
Sarapan dan Rasa Syukur

Pagi itu, sarapanku adalah semangkuk mi sederhana dengan daging. Itu disiapkan oleh tuan rumah baik hati yang telah membuka rumahnya untukku.
Saat aku duduk di meja, kehangatan makanan itu memenuhiku, tetapi yang memenuhiku lebih dalam adalah rasa syukur. Pria ini, yang baru beberapa hari lalu adalah orang asing, telah memberiku tempat berteduh, makanan, dan kenyamanan. Kebaikannya mengingatkanku bahwa perjalanan bukan hanya soal jarak tempuhāini tentang pertemuan-pertemuan yang menyuburkan jiwa.
Aku berkata pada diriku sendiri: suatu hari nanti, aku harus meneruskan kebaikan ini. Seperti tongkat estafet, rasa syukur harus terus dibawa maju.
Perpisahan-Perpisahan

Hari itu dipenuhi dengan ucapan perpisahanātiga kali, masing-masing berat dengan caranya sendiri.
Yang pertama adalah dengan trailer sepedaku. Selama dua bulan ia telah mengikutiku, membawa barang-barangku dan membentuk rupa perjalananku. Tapi kenyataannya lebih kerasāban bocor berulang kali, tidak ada suku cadang pengganti, perbaikan tanpa henti. Itu lebih banyak memperlambatku daripada membantu. Keputusannya tidak mudah, tapi sederhana: aku bepergian untuk terus maju, bukan untuk terikat pada masalah. Jadi, aku meninggalkan trailer-ku.
Perpisahan kedua adalah dengan tuan rumah kondo. Aku berterima kasih kepadanya dengan tulus. Saat aku tiba, hari sudah larut dan aku sangat membutuhkan tempat menginap. Dia menyambutku tanpa ragu. Kemurahan hatinya akan terus terukir dalam ingatanku.
Dan perpisahan ketiga adalah yang paling beratāteman perjalananku dari Bangkok. Kami telah bersepeda bersama, tapi pesannya pagi itu memperjelas semuanya: dia ingin melanjutkan perjalanan sendirian. Gaya kami, ritme kami, cara kami menjalani perjalanan tidak cocok satu sama lain. Aku menyesali ketidaksabaranku sendiriāyang dipicu oleh sakit, oleh stres visa, oleh kekuranganku sendiri. Aku khawatir telah membuat perjalanannya menjadi lebih sulit.
Penyesalan adalah hal yang berat, tapi jalan menuntut untuk terus bergerak. Aku membisikkan pada diri sendiri: maju.
Sendiri Lagi

Setelah perbaikan di sebuah toko sepedaātempat seorang pekerja baik hati memperbaiki lampuku secara gratisāaku berangkat. Sendirian. Sepuluh kilometer pertama berlalu dengan cepat, tapi keheningannya terasa berat. Bepergian sendirian, jalan terasa lebih panjang. Senyumku terasa dipaksakan, namun aku terus mengayuh.
Tak lama kemudian, pemandangan berubah. Kota memudar di belakangku, dan alam terbuka lebar. Udaranya lebih segar, suaranya lebih lembut. Aku berhenti di sebuah tempat istirahat kecil, membeli air dan sekaleng 7-Up, dan tertawa pelan memikirkan betapa soda bisa terasa seperti obat yang aneh.
Di sanalah seorang pria tua menghampiriku. Dia orang Prancis, tinggal di Thailand, dan seorang pencinta Jepang. Dia bercerita bahwa dia baru saja mengunjungi Jepang musim semi ini. Kata-katanya yang ceria mengangkat semangatku. Bahkan pertemuan singkat seperti ini memberi kekuatan.
Jalan Tanpa Ujung

Jalan itu membentang tanpa henti, lurus seperti anak panah. Ada jenis kelelahan khusus yang muncul dari jalan semacam iniāmatamu tidak melihat ujung, tubuhmu tidak merasakan kemajuan. Sekitar 30 kilometer, aku berhenti di sebuah toko kecil. Melihat ke atas, aku membeku. Di atasku ada sarang tawon raksasa.
Jantungku berdegup kencang sampai aku sadar sarang itu sudah tidak digunakan lagi. Pemilik toko memberitahuku bahwa mereka menyimpannya sebagai hiasanāseperti karya seni. Mungkin aneh, tapi juga cukup kreatif dengan caranya sendiri. Itu membuatku tersenyum.
Tubuhku perlahan mendapatkan kembali kekuatannya. Dengan setiap perhentian, setiap pertemuan, rasa sakit itu terasa semakin jauh.
Kedatangan

Menjelang malam, aku tiba di sebuah guesthouse. Membuatku senang, tempatnya bersih, modern, bahkan punya bak mandiākemewahan langka selama berbulan-bulan perjalananku. Dan yang terpenting: Wi-Fi yang kuat. Di sini, itu sama berharganya dengan air.
Kemudian, aku mencari makan malam di warung-warung lokal, tapi keberuntungan tidak berpihak padaku. Tidak ada satu pun warung makan yang buka. Aku mengakhiri hari itu dengan teh susu Thailand dari sebuah kafe. Manis, sederhana, cukup.
