← Cerita
Diary·Thailand·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇹🇭 Selamat Tinggal Taman Nasional: Hari Panjang Sang Pesepeda Melawan Angin

Perpisahan Pagi di Taman Nasional

27 Oktober. Aku terbangun di area perkemahan di dalam taman nasional, disambut oleh pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Air laut surut hampir lima puluh meter. Hamparan luas pasir basah berkilauan di bawah sinar matahari pagi, seolah-olah laut itu sendiri diam-diam menghilang pada malam hari.

Lalu aku memperhatikan sesuatu yang lain—ubur-ubur. Puluhan di antaranya, bertebaran di sepanjang pantai bagaikan pengingat tembus pandang akan bahaya tersembunyi lautan. Aku merasa lega tidak berenang pada hari sebelumnya. Hubunganku dengan ubur-ubur sejauh ini selalu penuh masalah.

Aku berjalan-jalan di sepanjang pantai, menghirup udara asin. Tapi hari ini, ada hampir enam puluh kilometer yang menantiku, jadi aku segera berbalik. Mengemas sepedaku sudah menjadi kebiasaan kedua sekarang. Setiap tali, setiap tas, setiap pemeriksaan trailer—itu adalah ritual keberangkatan.

Sebelum berangkat, aku singgah di sebuah restoran lokal untuk sarapan. Karena tidak menguasai bahasanya, aku mengandalkan apa yang candanya kusebut "roulette menu"—menunjuk dan berharap. Kali ini, aku kalah. Sepiring sayuran goreng tiba, berat dan hambar. Bukan bahan bakar yang diimpikan sebelum perjalanan panjang. Aku makan sebisanya, tapi aku tahu aku akan butuh makan lagi nanti. Dengan perut yang belum kenyang, aku mengayuh sepeda meninggalkan taman nasional, bersyukur atas langit cerah yang menjanjikan tidak akan turun hujan.

Di Sepanjang Pinggir Jalan

Sekitar sepuluh menit setelah mulai bersepeda, aku melihat sesuatu yang menarik perhatian—sederetan perahu kecil yang diikat di sepanjang tepi sungai. Perahu-perahu itu tampak sanggup memuat paling banyak selusin orang. Aku ingat pernah mendengar ini adalah bagian dari daya tarik taman, meski hari ini tempatnya sepi, tak terlihat wisatawan.

Tak jauh dari sana, muncul sebuah kuil yang tidak biasa. Dindingnya berkilau di antara pepohonan hijau, dan di tengahnya dulu berdiri sebuah patung emas. Hanya kakinya yang tersisa. Bagian atasnya hilang. Setelah melihat-lihat sekeliling, aku akhirnya menemukannya—tersembunyi di tempat teduh.

Kelihatannya hampir lucu, namun anehnya terasa pas. Berdiri di bawah matahari sepanjang hari, dalam panas yang tak henti dan tanpa pengunjung, mungkin terlalu kejam bagi sosok emas itu. Di tempat teduh, ia tampak lebih tenang. Sejenak, aku tersenyum dan merasa aneh senang untuk patung itu, seolah-olah ia juga telah menemukan kelegaan dari tuntutan dunia.

Panggilan Gua

Daya tarik utama hari itu ada di depan: sebuah gua batu kapur. Dari area parkir, hanya perlu berjalan kaki dua menit untuk sampai ke pintu masuk. Sendirian, gua itu tampak menyeramkan dari luar, tapi begitu masuk ke dalam, rasa takut itu meleleh hilang.

Cahaya menyusup melalui celah-celah di atas, memancarkan berkas lembut yang menari di dinding-dinding gua. Gua itu sunyi, seakan tak lekang waktu, dan anehnya terasa ramah. Berada di sana rasanya seperti melangkah ke dunia lain, yang tersembunyi sekaligus abadi. Aku berlama-lama, mengambil foto, menghirup udara sejuk, sebelum kembali ke jalan yang diterangi matahari.

Melawan Angin

Sejak saat itu, perjalanan menjadi lugas—hanya aku dan Highway 4. Angin berbalik melawanku, dan setiap kayuhan pedal terasa seperti menyeret jangkar. Pahaku terbakar, tubuhku memohon istirahat, tapi aku terus melaju.

Setelah tiga jam, aku akhirnya menemukan tempat istirahat kecil. Biasanya, aku beristirahat setiap dua jam, tapi hari ini tanjakan-tanjakan memaksaku terus mengayuh lebih lama. Aku memesan nasi goreng dan, untuk keempat kalinya hari itu, segelas Coke dingin. Minuman bersoda di jalan adalah godaan yang aneh—ia memberi ledakan energi sesaat, tapi begitu menyerah padanya, sulit untuk berhenti. Empat kali dalam sehari sudah terlalu banyak, aku tahu itu, tapi pada saat itu, terasa perlu.

Nasi gorengnya sederhana, tapi kesungguhan dalam memasaknya membuatnya lezat. Salah satu kenyamanan bersepeda melintasi Thailand adalah mengetahui bahwa di mana pun kau berhenti, makanannya akan selalu enak.

Dorongan Terakhir

Menjelang sore, tubuhku terasa remuk. Kakiku bergerak seperti pendulum, berirama, otomatis, seolah-olah bukan lagi milikku. Berhenti sekarang, pikirku, berarti aku tidak akan bisa memulai lagi. Dengan sisa sepuluh kilometer menuju guesthouse, aku menembus rasa sakit itu.

Akhirnya, aku tiba. Kelegaan menyelimutiku saat melihat ruang terbuka yang luas di guesthouse itu—sebuah unit satu kamar dengan garasi sendiri. Aku bisa memarkir sepedaku dan menggelar barang-barangku tanpa khawatir. Aku mencuci pakaianku dan menjemurnya di luar. Rasanya seperti kemewahan kecil setelah hari yang panjang.

Kenyamanan Malam Hari

Untuk makan malam, aku berjalan ke warung makan terdekat. Para staf menyambutku dengan senyum hangat—jenis keramahan yang membuat sebuah tempat langsung terasa tepat. Warung itu ternyata menyajikan ramen ala Thailand. Kuahnya kaya rasa, mi-nya menenangkan, rasanya berbeda dari ramen Jepang tapi cukup dekat untuk membangkitkan kenangan rumah.

Setelah hari yang melelahkan, itu adalah hidangan yang sempurna. Duduk di sana, makan perlahan, aku merasa lelah sekaligus puas yang mendalam.

Besok akan ada empat puluh kilometer lagi. Tapi malam ini, aku beristirahat dalam rasa syukur—untuk air pasang-surut, keteduhan, gua-gua, jalanan, senyuman, dan kegembiraan sederhana karena berhasil melewatinya.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan