Pagi Penuh Syukur di Kamasri

11 Januari, di Desa Kamasri, Indonesia. Hari itu dimulai pukul 5 pagi. Semua orang di desa ini bangun begitu pagi, dan aku merasa sangat bersyukur karena mereka mengizinkanku menginap di rumah mereka. Mereka bahkan membiarkanku membawa sepedaku masuk ke dalam kamar, yang sangat melegakan.
Sekitar pukul 7 pagi, pria yang menjadi tuan rumahku berkata, "Aku ingin menunjukkan desa kami padamu." Aku mengikutinya, berjalan melewati jalan setapak yang dipenuhi pohon pisang di kedua sisinya. Udaranya segar, tanahnya subur, dan aku pun tahu bahwa kawasan ini sedang dikembangkan menjadi sawah baru. Ia menjelaskan bagaimana mereka menguji tanahnya, terkadang menggunakannya sebagai pakan ayam. "Makanan di sini paling enak disantap sambil memandangi pemandangan ini," katanya. Dan ia benar—dikelilingi alam seperti itu, setiap suapan pasti terasa lezat.
Menjelang pukul 8 pagi, semua orang berkumpul untuk sarapan. Kami berbagi telur, kacang-kacangan, dan hidangan lokal yang sederhana namun kaya rasa. Semuanya terasa luar biasa, dan aku tahu ini akan menjadi kenangan yang tak akan pernah kulupakan.
Perpisahan dengan Desa

Setelah sarapan, aku kembali ke rumah dan menulis surat ucapan terima kasih untuk keluarga yang menjadi tuan rumahku. Tak lama, tibalah waktunya untuk berangkat. Saat aku menyiapkan sepedaku, kabar pun cepat menyebar: "Hiro akan berangkat." Satu per satu, warga desa datang untuk mengantarku.
Sungguh mengharukan melihat begitu banyak orang—mungkin sekitar 30 orang—berkumpul hanya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada seorang musafir asing yang baru muncul kemarin meminta tempat bermalam. Kebaikan itu saja sudah cukup untuk memenuhi hatiku dengan rasa syukur.
Aku menyerahkan suratku pada tuan rumahku, membungkuk dalam-dalam, dan akhirnya berkata, "Aku akan kembali lagi." Dengan itu, aku memulai perjalananku menuju kota yang baru.
Beberapa anak mengikutiku untuk sesaat, tertawa dan berlari di belakangku. Kami sudah berjanji untuk bermain sepak bola, tapi itu tak sempat terwujud. "Lain kali kau kembali, kita akan main," kata mereka sambil tersenyum. Kata-kata itu memberiku satu lagi alasan untuk kembali.
Jalan Menuju Tasik

Tak lama kemudian, sebuah truk yang lewat memperlambat lajunya. Sopirnya berseru, "Jalan ini terjal dan berbahaya. Biar kuangkut sepedamu sebagian jalan." Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku naik ke bak truk bersama sepedaku.
Awalnya, aku mencoba bersikap tenang, tapi truk itu terguncang-guncang liar di jalan yang tak rata. Rasanya lebih menakutkan daripada wahana taman hiburan mana pun. Namun semakin tinggi kami naik, semakin menakjubkan pemandangannya. Di sebuah persimpangan dengan jalan utama, sang sopir menurunkanku. Ia punya pekerjaannya sendiri yang harus diurus, namun ia tetap menyempatkan diri membantuku. Kemurahan hati itu begitu berarti.
Terus mengayuh, akhirnya aku menemukan jalan menurun yang panjang. Angin berdesir melewatiku, dan meski aku harus tetap waspada terhadap ban bocor, rasanya adalah kebebasan murni. Di sepanjang jalan, aku melihat banyak mobil sedang dicat ulang atau dimodifikasi, persis seperti di Malaysia tempat modifikasi mobil begitu digemari. Mungkin di sini, di Indonesia, hal yang sama juga terjadi.
Menjelang pukul 5 sore, aku tiba di Tasik. Malam itu, aku menginap di tempat tuan rumah Warmshowers—sesama pesepeda yang membuka rumahnya untuk musafir sepertiku.
Membawa Kamasri Bersamaku

Meski aku telah meninggalkan Kamasri, kehangatan warganya tetap tinggal bersamaku. Kebaikan mereka, hidangan mereka, senyum mereka—semuanya menjadi bagian dari energi yang mendorongku maju di jalan keliling dunia ini.
