← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇲🇾 Menjelajahi Langkawi dengan Sepeda: Hari Penuh Makanan, Keyakinan, dan Persahabatan

Menjelajahi Langkawi dengan Sepeda: Hari Penuh Makanan, Alam, dan Kebaikan Hati

Halo, ini Hiro, yang sedang bersepeda mengelilingi dunia.

17 November menandai hari keduaku di Malaysia. Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini bukan tentang menyeberangi perbatasan atau naik feri—ini adalah hari untuk menjelajahi Langkawi itu sendiri. Tanpa jadwal yang ketat, aku membiarkan diriku memulai dengan santai, berangkat sekitar pukul sepuluh pagi.

Setiap hari dalam perjalanan ini, aku terus memangkas sedikit demi sedikit barang bawaanku. Sedikit demi sedikit, bawaanku semakin ringan, begitu pula tubuhku. Hari ini, aku berangkat dengan perasaan lega yang sama.

Sarapan yang Tak Terlupakan

Tidak jauh dari guesthouse, aku menemukan sebuah warung kaki lima kecil secara tak sengaja. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa dapur-dapur pinggir jalan yang sederhana seperti ini seringkali menyajikan hidangan paling tak terlupakan.

Hidangan yang kucoba hari ini adalah Kuey Teow Ladna, seharga 276 yen. Singkatnya—ini adalah hidangan terenak yang pernah kunikmati sepanjang perjalanan ini. Bayangkan mi yang tersembunyi di bawah saus kental beraroma seafood, diseimbangkan dengan cuka dan rasa tajam yang mirip lada yuzu Jepang. Setiap suapan adalah kejutan, menenangkan sekaligus menyegarkan.

Rasanya begitu enak sampai aku memperlambat santapanku untuk menikmatinya, memakan waktu hampir dua puluh menit untuk menghabiskannya. Ketika aku bertanya kepada staf bagaimana mengucapkan "terima kasih" dalam bahasa Melayu, mereka memberitahuku: "Terima kasih."

Bunyinya sangat mengingatkanku pada bahasa Indonesia, dan setelah kucari tahu, aku mengetahui bahwa kedua bahasa ini memiliki banyak kemiripan. Karena aku berencana melakukan perjalanan ke Indonesia pada bulan Desember, percakapan sederhana ini menjadi semacam latihan untuk perjalanan yang akan datang.

Bersepeda Menembus Lanskap Pulau

Dengan tenaga dari sarapan, aku mulai mengayuh sepeda melintasi Langkawi. Hanya dalam sepuluh menit, aku merasakan keindahan alam pulau ini menekan dari segala arah—kehijauan yang lebat, udara yang lembap, dan angin laut yang selalu hadir.

Namun, jalannya sempit. Dibandingkan dengan negara lain, jalan-jalan pulau di Malaysia menuntut lebih banyak kewaspadaan. Meski begitu, pemandangan sesekali terbuka lebar, memperlihatkan hamparan alam yang luas. Salah satu pemandangan, khususnya, mengingatkanku pada saat bersepeda melintasi Kota Iga di Jepang satu setengah tahun yang lalu.

Itu membuatku bertanya-tanya: mungkin ada lanskap universal, pemandangan alam purba yang bergema di seluruh dunia. Selama berabad-abad, berbagai budaya telah membentuk tanah menjadi wujud yang unik, tetapi jika diperhatikan lebih dekat, kita masih bisa melihat asal-usul yang sama di baliknya.

Tiba di Guesthouse

Menjelang sore, aku mengayuh menuju guesthouse-ku. Keliling Langkawi mungkin bahkan tidak sampai 100 kilometer, tetapi tanjakan dan turunan yang tak berkesudahan membuat perjalanan ini melelahkan. Lututku terasa sakit di setiap kayuhan. Akhirnya, aku tiba di sebuah guesthouse kecil, terlihat ceria di luar, sederhana namun nyaman di dalam.

Satu hal langsung menarik perhatianku: sebuah karpet besar terhampar di lantai di depan tempat tidur. Ini, kusadari, adalah untuk salat. Berbeda dengan hotel-hotel yang pernah kutinggali di tempat lain, kamar-kamar di Malaysia sering kali menyertakan ruang seperti ini, mencerminkan kehidupan sehari-hari dan keyakinan mereka.

Bahkan detail-detail kecil—seperti penataan perabotan, atau noda misterius di langit-langit—mengingatkanku bagaimana setiap negara membentuk ruang hidupnya secara berbeda. Ini adalah cara yang tenang untuk mempelajari budaya, bukan melalui museum, melainkan melalui kamar-kamar tempat kita tidur.

Supermarket dan Roti Manis

Karena tidak ada warung kaki lima di dekat sana, aku berjalan kaki menuju supermarket besar bernama Billion. Menjelajahi supermarket di luar negeri adalah salah satu kegiatan favoritku. Rak-raknya sering menyembunyikan ikan, buah, atau camilan lokal yang tidak pernah keluar dari negara itu.

Di luar toko, aku menemukan Rotiboy, sebuah toko roti yang menjual sesuatu yang terlihat seperti donat tetapi bukan. Kemasannya menampilkan karakter tersenyum yang mengingatkan pada "Mrs. Fields." Dengan 3 ringgit (sekitar 103 yen), aku membeli satu. Di dalamnya, sederhana—tanpa isian, hanya roti manis beraroma kayu manis. Ringan, lembut, dan pas untuk perut yang tidak terlalu lapar.

Pemandu yang Tak Terduga

Pada malam hari, sesuatu yang luar biasa terjadi. Seorang pria Malaysia yang kutemui di feri menuju Langkawi mengirimiku pesan. "Biar kutunjukkan Langkawi padamu," katanya. Tanpa ragu, aku setuju. Tak lama kemudian kami mengendarai mobil bersama, menjelajahi tempat-tempat jauh dari jalur wisata.

Di tokonya, ia menawariku minuman yang menyegarkan. Rasanya tidak sekuat Red Bull, tetapi memberikan sensasi ringan yang membangkitkan semangat—sempurna untuk cuaca yang lembap.

Kemudian ia membawaku ke sebuah tempat tersembunyi: sebuah dermaga sunyi di sisi seberang Kuah, di mana tak satu pun wisatawan terlihat. Matahari terbenam di atas air, dan keheningan hanya dipecahkan oleh deburan ombak yang lembut. Diundang ke tempat seperti itu terasa seperti hadiah yang luar biasa.

Waktu kami singkat, hanya sekitar satu jam. Namun dalam waktu itu, ia menunjukkan tokonya, sekolahnya, dan potongan-potongan kehidupan sehari-harinya kepadaku. Kami berbicara tentang pekerjaan, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi. Bagiku, pertemuan singkat ini tak ternilai harganya—sebuah pengingat bahwa perjalanan bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga tentang orang-orang yang dengan murah hati membuka dunia mereka untukmu.

Malam itu, aku kembali ke guesthouse dengan hati yang penuh. Dari sarapan yang tak terlupakan hingga kebaikan seorang asing, Langkawi telah menyambutku dengan cita rasa dan kehangatan sekaligus.

Besok, jalan ini akan berlanjut. Tetapi malam ini, aku beristirahat, bersyukur atas orang-orang dan pulau yang telah memberiku begitu banyak hanya dalam satu hari.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan