Berpamitan dengan Tempat Menginap WarmShowers

30 November dimulai dengan rasa syukur. Aku meninggalkan rumah tuan rumah WarmShowers setelah mencuci pakaianku—hal kecil yang terasa begitu berarti di jalan. Di awal perjalananku, bagian tersulit dari bersepeda, selain masalah mekanis, adalah bau pakaian yang lembap. Seiring waktu, bahkan bau itu pun menjadi sesuatu yang kupelajari untuk kuterima, bahkan kusyukuri.
Sebelum berangkat, aku berjalan-jalan di sekitar lingkungan itu. Di sebuah mal, aku menemukan sebuah pajangan tempat tanaman ditanam menggunakan cahaya buatan. Menemukan hal-hal tak biasa seperti ini di tengah keseharian selalu membuatku bersemangat. Setiap hari terasa baru, seolah selalu ada sudut dunia baru yang menunggu untuk dilihat.
Menuju Toko Sepeda

Untuk pertama kalinya, aku juga duduk dan menonton beberapa rekaman GoPro dari perjalanan ini. Melihat perjalanan melalui kamera mengingatkanku betapa kuatnya alat ini untuk bercerita. Aku akan lebih sering menggunakannya ke depannya.
Bersepeda melewati gang-gang sempit memberiku perasaan lebih dekat dengan kehidupan lokal. Semakin dalam aku memasuki lingkungan sehari-hari, semakin aku merasa menangkap sekilas wajah asli sebuah tempat. Akhirnya, aku tiba di tujuan hari ini: sebuah toko sepeda di Kuala Lumpur.
Alasannya sederhana. Rak depan sepedaku patah. Aku sudah mencoba memperbaikinya, tetapi satu-satunya cara untuk benar-benar memperbaikinya adalah dengan pengelasan. Karena itu tidak realistis untuk perjalanan ke depan, aku memutuskan untuk mencari sepeda touring baru. Setelah melihat-lihat, aku menemukan satu unit dengan harga di bawah 100.000 yen. Rasanya cocok. Meski begitu, aku belum membelinya hari ini. Aku berencana kembali dalam sepuluh hari setelah perjalanan singkat pulang ke Jepang. Alasan kepulangan mendadak ini akan menjadi cerita untuk besok.
Mengisi Tenaga dengan Jajanan Kaki Lima
Setelah membuat keputusan soal sepeda, aku merasa lebih ringan. Namun rasa lapar mengingatkanku bahwa aku belum makan seharian. Di sebuah warung makan, aku memesan Mee Goreng Ayam—mi goreng dengan ayam—seharga 9 RM (sekitar 303 yen). Murah, mengenyangkan, dan lezat, hidangan itu memberiku energi yang kubutuhkan.
Meski begitu, bersepeda di Kuala Lumpur sendiri tetap menjadi tantangan. Mobil-mobil melaju tanpa henti, dan berbelok saat aku ingin sering terasa mustahil. Memaksakannya berarti mempertaruhkan kecelakaan. Di saat-saat seperti itu, kesabaran menjadi alat terpenting.
Tiba di Hostel yang Unik

Akhirnya, aku tiba di penginapanku: Geo Hana Guesthouse. Mengejutkan, tempat ini berada di lantai 26—mungkin salah satu hostel tertinggi di dunia. Kamar-kamarnya bergaya kapsul, mungil tapi lebih dari cukup.
Pemandangan dari ketinggian seperti itu memberiku perspektif baru. Kota di bawah sana ramai dan sibuk, namun di sini, aku merasa tenang. Menjelang malam, aku telah menyelesaikan semua tugas yang kurencanakan untuk hari ini.
Bersiap untuk Esok Hari
Meski begitu, besok tampaknya akan menuntut banyak. Aku perlu mengambil barang bawaan yang kutinggalkan di rumah tuan rumah sebelumnya dan mengirimkannya ke rumah seorang teman di Malaysia. Itu berarti menelusuri kembali rutenya dan mengurus logistik. Ada segunung tugas menanti, tapi aku mengingatkan diriku sendiri: kerjakan saja satu per satu.
